Showing posts with label drama. Show all posts
Showing posts with label drama. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

July Movie Kaleidoscope

Hello blog! Whew it has been ages since i post in here. I'm quite sorry for abandoning you but my personal and professional life has been quite a blast this past months. I got lots of job opportunity, had to take care for upcoming art event on my campus, and on top of that i finally launched my own clothing line. But that doesn't mean my passion for movie has gone. I'm kinda in a phase where i enjoy streaming anime weekly, and some several tv series rather than watching in the cinema. I reallyrecommend you guys check out this three anime No.6, Mawaru Penquindrum, and Dantalian no Shoka. They've got awesome animation, engaging story, and honestly, none of that silly japanese antics.

Back to movie, i only managed to watch 3 movies in the month of july 2011. Well, that's quite sad, but I guess I can't help but weep whenever I see the list of pictures that are showing each week. Anyway, i'll review those three in one post I called "kaleidoscope". On the side note, do pardon my attempt on writing in english, I'm not that good at it *chuckle*.
Insidious
Watched on July the 3rd at Anggrek XXI
Film Review : 8/10 (This movie was freaking awesome! The atmosphere was very chilling, and it build the tension very smoothly without any feeling of being rushed. The actors were believeable and sympathetic, and for once the characters aren't silly horror caricature. It was kind of a let down the film go downhill after the first hour for shifting to another character so suddenly and put a deus ex machina that is quite predictable. But overall this is a very nice horror flick, and the first one that actually make me shriek in a theater.....for three times)
Catatan Harian si Boy
Watched on 12th of July at Pondok Indah 1 XXI
Film Review : 8.5/10 (This is a very, very fresh Indonesian Movie. The dialogue was very gripping, clever, funny and touching at the same time. The writers actually managed to give a depth at every character. While only few of them work and become more than two dimensional character, the attempt are worth applauding considering some Indonesian movie actually relies on their characters antics rather than giving them some character development. The action scenes are not over the top and believeable, the story was cleverly interwoven and the movie itself was very enjoyable. It put a benchmark on how a good enjoyable movie can be made without involving half baked nudity, silly looking ghost, or melodramatic weepy teenage romance. It creates a new genre, which hopefully follows with a lot of movie that tries to live up to the quality this movie presented.)
Larry Crowne
Watched on the 23rd of July at La Piazza XXI
Film Review : 5/10 (Well that was a disappointment. I was hoping for a heartwarming romantic movie featuring simpathetic face and extraordinary sexy lip. What i got was a movie that tries to be heartwarming by simplifying things to the point of unrealistic, making every side-characters the "wise-man" by giving the protagonist a very preachy, wise way of life people can seek on the internet, and a romance build up by one kiss and no chemistry at all. Seriously, this movie is bad. I only get a few chuckle by the guy who looks like Bruno Mars and nothing else. Flat, boring, and forgettable.)

Thursday, February 24, 2011

Oscar Watch List : 127 Hours

- Trapped, Smacked, Snapped! -
SPOILER ALERT! Danny Boyle adalah seorang sutradara yang tidak mudah ditebak. Caranya mengemas sebuah film zombie dengan apik, sebuah film science fiction yang tidak monoton, dan sebuah film romantis dengan latar india yang lain dari yang lain, selalu berhasil memukau para penonton. Lepas dari kesuksesan Slumdog Millionaire, Boyle kembali mengangkat sebuah kisah nyata yang cukup bertolak belakang dengan film yang disebut sebelumnya. 127 Hours diangkat dari kisah hidup Aron Ralston yang terperangkap di sebuah tebing di Blue John Canyon sampai harus melakukan sebuah tindakan yang amat menyakitkan. Film ini disambut hangat oleh para kritikus, meskipun tidak mencapai sebuah kesuksesan finansial yang bombastis. Hal itu dapat dimaklumi melihat betapa riskan topik film yang diangkat. Bahkan dalam penayangan perdananya, dua orang pingsan dan harus memperoleh tindakan medis. Kepiawaian Danny Boyle mengangkat kisah Ralston berbuah manis saat film ini dinominasikan ke dalam banyak kategori ajang film bergengsi. Bersama lima nominasi lainnya, termasuk Best Actor untuk James Franco, 127 Hours dalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Aaron Ralston (James Franco) adalah petualang yang tidak kenal lelah. Hidupnya dipenuhi dengan perjalanan menyusuri pegunungan-pegunungan dan gurun pasir dengan sepeda, backpack dan mobilnya. Suatu hari ia telah menetapkan tujuan berikutnya, Blue John Canyon. Dalam petualangannya itu, ia bertemu dengan dua orang pendaki wanita lainnya. Tidak lama setelah bermain air bersama mereka, Aaron melanjutkan perjalanannya melalui tebing yang sempit dan berbahaya. Saat ia sedang bergelut melaluinya, sebuah bongkahan batu di kakinya menggelincir mentauhkan dirinya kebawah. Saat ia menyadari apa yang terjadi, tangan kanannya telah terjepit oleh batu itu ke dinding tebing dan cukup mustahil untuk Aaron untuk menarik tangannya begitu saja. Mengetahui keadaan berbahaya yang ia hadapi, Aaronpun berusaha untuk bertahan hidup selama mungkin yang ia bisa dengan begitu terbatasnya suplai kehidupan yang ia miliki. Haruskah ia melakukan satu-satunya pilihan terakhirnya? Mmeotong tangannya sendiri dengan sebuah pisau tumpul?
127 Hours adalah one-man movie, dan disini bintangnya adalah James Franco. Ia bermain apik sepanjang film. Dengan baik menunjukkan sifat Aaron yang nyeleneh, tidak takut apapun sampai tahap dimana ia menyadari ia ada dalam masalah dan resiko apa yang harus ia ambil. Penyesalan, kegelisahan, harapan semua ditampilkan dengan 'subtle', amat sangat emosionil dan menyentuh. James Franco berhak memperoleh nominasi oscarnya disini dan ia adalah salah satu kontender kuat untuk memenangkannya. Danny Boyle mengemas film ini dengan cermat. Tema yang riskan itu ia handle dengan indah, hingga kesan brutal dan kengerian yang akan datang itu, dibawakannya dengan 'gripping' dan jauh lebih menakutkan daripada gore fest seperti franchise Saw. Menakjubkan melihat caranya Danny Boyle mengemas kisah seseorang yang terperangkap di dalam tebing menjadi sebuah film hampir 2 jam namun tidak pernah bahkan mendekati kata bosan. Editing adalah poin penting dalam film ini dan tidak dapat dipungkiri, menjadi aset terbesar yang meningkatkan kualitas film ini secara keseluruhan. Selain editing yang menarik, soundtrack dari film ini juga unik dan khas. Danny Boyle tidak pernah takut dalam memilih lagu-lagu untuk mengiringi filmnya, dan sama seperti Slumdog, soundtrack film ini mampu mendukung keadaan di film ini dengan sinergis, pas, dan tidak berlebihan. Permainan akting para aktor lainnya pas, kredibel namun tidak menjatuhkan, terutama melihat porsi mereka yang jauh sekali dibandingkan dengan Franco. Ini adalah film yang akan meroketkan Franco ke jajaran aktor muda lainnya yang mampu berakting dengan baik. Great career ahead dude!

Verdict : 8.9/10

Saturday, February 12, 2011

Oscar Watch List : The King's Speech

- The Speech Is Delivered Awesomely -
SPOILER ALERT! Kehidupan keluarga kerajaan di Inggris adalah sebuah tema film yang tidak pernah habis diulas. Entah itu intrik politik di dalam keluarga, drama romansa dari para anggota kerajaan, kehidupan para petinggi di negara Inggris sana merupakan sebuah genre yang selalu sukses menarik minat publik dan para kritikus. Bisa dilihat banyaknya daftar film bergenre ini yang berhasil menembus kancah perfilman bergengsi seperti BAFTA, Golden Globe dan Oscar sekalipun. The King's Speech adalah film karya dari Tom Hooper yang mengambil kisah hidup Duke of York, Prince Albert yang bergelut dalam usahanya menjalankan tugas sebagai King George VI. Meskipun genrenya terkesan familiar dengan setting period yang sudah sering dipakai, film ini mengambil perspektif sendiri berupa biopic drama yang memfokuskan dirinya pada perjuangan Albert dalam usahanya mengalahkan 'gagap'nya dan menyampaikan sebuah pidato yang lancar dan bebas dari cemoohan orang. Kisah yang menggerakkan ini berhasil memberikannya 14 nominasi BAFTA, 7 nominasi Golden Globe dan berpuluh-puluh nominasi lainnya. Bersama dengan 11 nominasi lain, The King's Speech adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
The Duke of York, Prince Albert 'Bertie'(Colin Firth) adalah anak kedua dari King George V. Dibayang-bayangi oleh trauma masa lalunya, ia mengidap kelainan stammering, atau yang biasa disebut 'gagap', sehingga ia tidak bisa membacakan sebuah teks atau bahkan berbicara di khalayak publik banyak tanpa dikolok-kolok da diiringi desahan masyarakat. Istrinya Elizabeth (Helena Bonham Carter) berusaha membantunya menjalani semua ini dengan mencarikan ahli-ahli terapi berbicara namun tidak ada yang berhasil membantu Albert. Sampai pada akhirnya Elizabeth membawa Albert ke Lionel Logue (Geoffrey Rush) seorang terapis berbicara yang berasal dari Australia. Metode terapi Lionel memaksa Albert untuk menggali dalam ke masa lalunya dan berhadapa dengan trauma masa kecilnya, sesuatu yang tidak ingin Albert lakukan. Dengan mendekatnya ancaman perang dari Jerman dan diangkatnya dia menjadi raja setelah kakaknya memilih untuk mundur, ia harus berpacu dengan waktu untuk bisa membawakan sebuah naskah pidato dengan baikm tanpa membuat kecewa rakyatnya yang sedang bimbang dan takut akan bahaya perang ke depannya.
What an accomplishment! Film ini merupakan salah satu film terlengkap yang pernah saya tonton. Cerita yang bagus, permainan akting yang sempurna, pengambilan gambar yang berani beda, alunan musik yang menyentuh dan sesuai, desain setting visual yang tidak main-main, semuanya dicentang dengan baik. Cerita perjuangan Prince Albert 'Bertie' menurunkan tirai penghalangnya dan mau menjalin persahabatan dengan Lionel, membuka diri dan mengutarakan masalah personal dalam hidupnya seperti alasannya mendapatkan 'gagap'nya tersebut (yang ia peroleh akibat tekanan dari ayah, kakak dan nanny-nya) dikemas dengan sederhana namun emosional dan menggerakkan penonton. Sub-plot yang ada tidak merusak jalannya cerita dengan menghadirkan sebuah twist yang mengejutkan, melainkan menambah intrik dan pergelutan dalam kisah utamanya sendiri, mendorong cerita untuk menjadi lebih involving, emosional, dan seru. Coming-of-age story disini agak berbeda dengan yang ada di The Social Network (apalagi dalam urusan umur para pemainnya), namun tidak kalah "moving" dan "involving". Colin Firth sudah lebih dari 2 dekade aktif bermain di film layar lebar. Ia sudah membuktikan bahwa ia adalah aktor yang patut diperhitungkan namun permainan akting apiknya jarang disorot publik da dilirik kritikus. Namun permainan sempurnanya, yang apik dan amat sangat menawan, tidak mungkin lewat dari mata publik dan kritikus sekalipun. Piala Golden Globe yang ia peroleh kemarin, amat sangat 'well deserved' dan memang sudah waktunya ia mendapatkan sebuah piala oscar setelah gagal dengan A Single Man tahun lalu. Helena Bonham Carter yang biasanya tampil eksentrik dan meriah dengan kostum dan kepribadiannya, bersinar dalam dandanan yang sederhana dan permainan yang tidak kalah meriah. Geoffrey Rush juga tidak kalah prima dengan permainan akting yang jauh lebih baik jika menilik resumenya 5 tahun kebelakang. Pengambilan gambarnya sedikit berbeda dibandingkan kebanyakan film period-drama. Tom Hooper tidak segan-sega menggunakan pengambilan gambar dari jauh, close up, terutama fish eye angle. Semua itu sengaja ia pilih untuk menunjukkan perasaan terperangkap dan tertekan Prince Albert. Alunan musik klasik yang dipakai juga sesuai dan menyentuh. Kostum yang dipakai, terutama oleh Elizabeth, juga tidak kalah indah dan menarik. Sebuah film yang lengkap, old-fashioned, tetapi juga "moving" dan "inspiring". Salah satu kontender kuat untuk Oscar tahun ini, dan secara pribadi, merupakan pilihan saya untuk Best Picture nanti.

Verdict : 9.5/10

Sunday, February 6, 2011

Oscar Watch List : Winter's Bone

- The Bone Was Hidden Deep Inside -
SPOILER ALERT! Winter's Bone adalah sebuah film kecil berbudget 2 Juta US$ yang berjaya dalam Sundance Film Festival kemarin. Berhasil memenangkan Grand Jury Prize: Dramatic Film, Winter's Bone menjadi salah satu film berkualitas di tahun 2010 ini. Perjuangan seorang gadis muda mendukung keluarganya yang berantakan dalam latar belakang suasana daerah miskin di Ozarks yang bergelut dengan masalah narkoba Meth terbukti mampu menarik minat para penonton dan kritikus. Winter's Bone juga berjaya di Berlin Film Festival dan Stockholm Film Festival terlebih karena ceritanya yang down to earth, realistis, dan disokong oleh performa menawan dari Jennifer Lawrence. Adiksi pada narkoba dan pengaruhnya bagi orang-orang yang terlibat bukanlah materi baru bagi Debra Granik yang memulai debutnya 6 tahun lalu dengan film Down to The Bone. Beserta 3 nominasi lainnya, termasuk Best Actress untuk Jennifer Lawrence, Winter's Bone adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Ree Dolly (Jennifer Lawrence) harus menggantikan peran sang ayah dan sang ibu sekaligus di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Sang ayah menghilang berminggu-minggu setelah sebelumnya terjerat dalam kasus narkoba dan sanb ibu mengalami gangguan mental akibat dikecewakan oleh suaminya berkali-kali. Dengan tidak bertanggung jawab, ayahnya memasang rumahnya sebagai jaminan atas dirinya jika ia tidak muncul di tanggal pengadilan terakhirnya, yang mengancam hidup Ree, beserta kedua adik dan ibunya. Reepun berkutat mencari ayahnya untuk membawanya hadir di sidang pengadilan terakhirnya demi keberlangsungan keluarganya, namun misteri hilangnya si ayah rupanya tidak sesimpel yang ia pikir. Tidak ada yang bersedia membantu Ree di kotanya, mereka semua memilih untuk diam dan berusaha mencegah Ree mengorek-ngorek informasi lebih dalam misteri hilangnya sang ayah. Dimanakah keberadan ayahnya sebenarnya? Berhasilkah ia menyelamatkan keluarganya dan menemukan kembali sang ayah yang tidak bertanggung jawab?
Winter's Bone adalah sebuah film kecil yang dibuat minimalis dengan budget seadanya. Keterbatasan dana tersebut terpaksa membatasi kemampuan si director dalam menghadirkan adegan-adegan yang besar dan pengambilan-pengambilan gambar yang kompleks. Meski begitu Debra Granik berhasil menggunakan semua keterbatasan yang ia miliki dengan mengemas sebuah film yang realistis, down to earth , dan justru lebih efektif karena tidak berlebihan dan dapat dipercaya. Suasana musim dingin, latar di hutan dan daerah terpencil yang usang, miskin dan jarang dihuni orang-orang berhasil mengangkat kemisteriusan hilangnya ayahnya Ree. Naskahnya sendiri berjalan dengan linear tanpa ada sub plot yang menganggu dan tidak penting. Meski begitu, kisah perjuangan Ree yang harus bergelut dengan masalah ekonomi dan berbagai alteratif pilihan seperti masuk ke tentara atau menyerahkan kedua adiknya untuk diadopsi oleh tetangganya dihandle dengan indah oleh Debra. Tidak ada kesan drama yang dibuat-buat dan "lebay". Semuanya subtle, tenang namun juga mencekam dan haunting. Jennifer Lawrence menampilkan salah satu permainan terbaik tahun ini dengan menjadi Ree yang berdeterminasi, mandiri dan tangguh. Di balik determinasinya dalam berusaha menjaga keluarganya tetap utuh, ia adalah sebuah remaja berusia 17 tahun yang juga ingin hidup normal dan bahagia. Namun atas nama keluarganya, ia sudah melupakan impian itu dan hidup dalam dunia yang keras dan membenci ayahnya yang mencampakkan keluarganya begitu saja. Namun sebetapa bencinya ia pada ayah yang membawanya ke dunia ini, ia masih tidak dapat melihat ayahnya mati begitu saja. Scene-sceme terakhir dimana ia harus memotong tangan ayahnya yang sudah tenggelam amat sangat haunting, heartbreaking dan memorable. Jennifer Lawrence bermain tidak kalah apik dengan Natalie Portman. John Hawkes juga mencuri perhatian dengan perannya sebagai paman Ree yang menggantikan peran ayahnya melindungi Ree dari orang-orang yang menentang usaha pencariannya. Supporting cast yang lain bermain efektif. Yang membuat film ini semakin memikat adalah kenyataan bahwa semua pemainnya berpakaian apa adanya. Benar-benar realistis dan membuat film ini semakin subtle dan emosional. Mereka adalah orang-orang biasa yang tidak ingin hidup mereka terganggu oleh sebuah rahasia kecil yang berpotensi dibuka. Rahasia demi rahasia terpaksa harus terbuka atas rasa simpati pada Ree yang tidak pernah habis akan determinasi. Karena sekelam apapun rahasia yang orang simpan, ikatan keluarga tetap berarti sesuatu dan kuatnya ikatan darah antara saudara dekat dan jauh ditampilkan dengan amazing di film ini.

Verdict : 8.9/10

Friday, February 4, 2011

Oscar Watch List : The Social Network

- The Geek Will Rule The World! -
SPOILER ALERT! Fenomena social networking yang sedang melanda dunia global menjadi inspirasi di balik film ini. Penemuan Facebook oleh Mark Zuckerberg diangkat menjadi sebuah film biopic yang lain daripada yang lain oleh David Fincher. Film ini berhasil memenangkan Best Picture - Drama di penghargaan Golden Globe kemarin beserta Best Director dan 2 penghargaan lainnya. Film ini memasuki masa produksi pada bulan october 2009 kemarin dengan latar belakang Whellock College yang diset menjadi Harvard. Jesse Eisenberg adalah aktor pertama yang terikat dengan proyek ini, diikuti oleh Justin Timberlake dan Andrew Garfield. Yang lucunya, sepupu dari Jesse Eisenberg rupanya bekerja untuk Mark Zuckerberg sebagai product designer di facebook. Beserta 7 nominasi lainnya, termasuk Best Actro untuk Jesse Eisenberg, The Social Network adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Mark Zuckerberg (Jesse Eisenberg) bukanlah mahasiswa yang biasa-biasa saja. Keeksentrikannya diimbangi oleh kepintarannya yang tidak biasa. Karena tidak terima dicampakkan oleh pacarnya (Rooney Mara),ia menghina-hina pacarnya di blog pribadinya dan membuat sebuah website yang membandingkan keatarktifan gadis-gadis di kampusnya dengan menghack jaringan komputer di Harvard bersama bantuan sahabatnya Eduardo Saverin (Andrew Garfield). Atas tindakannya tersebut, ia harus diskors selama 6 bulan dan dihina-hina oleh semua perempuan di Harvard. Namun kesuksesan FaceMash dalam menciptakan traffic dalam semalam menarik perhatian Winklevoss bersaudara yang mencari partner programmer brilian seperti dirinya. Merasa proyek yang ditawarkan oleh Winklevoss akan gagal dan tidak bonafit, ia mengambil ide dasar mereka dan mengembangkan sebuah website sendiri yang bernama Facebook. Kesuksesan yang ia peroleh memicu keirian dari Winklevoss yang merasa ide mereka dicuri mentah-mentah dan Sean Parker (Justin Timberlake) pendiri Napster yang sedang mencari sumber pemasukan baru.
Di review saya sebelumnya, bisa dibilang saya tidak se-impressed itu akan eksekusi yang David Fincher berikan. Namun setelah menontonnya untuk kedua kalinya, film ini memberikan sensasi yang berbeda dari pengalaman menonton saya yang pertama. Entah karena saya menontonnya bersama teman-teman sehingga tidak fokus, yang pasti nilai film ini meningkat jauh dan signifikan di buku saya. The Social Network, seperti yang saya bilang sebelumnya, adalah sebuah coming-of-age story yang dieksekusi dengan tidak biasa. Pembawaan alur ceritanya yang loncat-loncat dengan flashback-flashback yang tumpang tindih dan pace yang agresif membuat film ini menjadi lebih menarik dari film coming-of-age biasanya. Tensi yang didapat penonton atas situasi yang Mark Zuckerberg rasakan menjadi semakin tinggi terutama atas permainan apik para pemainnya dan score yang thrilling dan tidak kalah agresif. Permainan Jesse Eisenberg bisa dibilang merupakan salah satu yang terbaik tahun ini. Ia tidak bermain menjadi Mark, ia adalah Mark di film ini. Pembawaannya yang real dan begitu nyata patut diberi standing applause. Sama seperti Marion Cottilard yang berubah menjadi Edith Piaf dengan sempurna, Jesse menjadi Mark seperti ia mengenalnya luar dan dalam. Andrew Garfield dan Justin Timberlake juga cukup membawa kejutan dengan permainan yang tidak kalah bagus, meski tidak sesuperior Jesse. Meski begitu, saya masih merasa endingnya terlalu open-ended dan antiklimaks, dan bahkan beberapa penonton kerap kesal karena tidak jelasnya penyelesaian kasus hukum yang mengikat Mark sendiri. All in all, film ini memiliki keunggulan lebih dari film-film yang lain karena pembawaan filmnya yang tidak linear sehingga menuntut atensi penonton sepenuhnya. Hal ini biasanya memikat para kritik karena editing yang lain dari yang lain ini memiliki signifikansi yang tinggi dalam meningkatkan mutu cerita film itu sendiri. Denga permainan apik, cerita yang bagus, dan editing yang berani beda, The Social Network adalah salah satu kontender kuat untuk Best Picture.

Verdict : 9.2/10

Oscar Watch List : True Grit

- Revenge in Wild West Style -
SPOILER ALERT! True Grit menjadi sebuah kesuksesan yang amat sangat di luar dugaan. Film western biasanya kesulitan mencapai kesuksesan secara finansial, terlebih lagi di bulan desember yang notabene dipenuhi film-film keluarga yang meriah, berwarna-warni dan family friendly. Diangkat dari novel berjudul sama yang dirilis pada tahun 1968, True Grit berhasil mematahkan semua keraguan dengan berhasil mengumpulkan lebih dari 150 juta US$ dan mengalahkan Little Fockers yang dibuka pada minggu yang sama. Film terakhir dari Coen Brothers yang juga diproduseri oleh Steven Spielberg ini berhasil menjadi sebuah surprise hit di penghujung tahun 2010 yang mengalami berbagai kekecewaan finansial. Dari segi kualitas film ini juga berhasil memperoleh 10 nominasi oscar termasuk Best Actor untuk Jeff Bridges dan Best Supporting Actress untuk Hailee Steinfeld. Bersama dengan 9 nominasi lainnya, The Fighter adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti
Mattie Ross (Hailee Steinfeld) berusia 14 tahun saat ayahnya ditembak rekanannya sendiri Tom Chaney (Josh Broslin) yang juga mencuri kudanya dan dua keping emas California milik sang ayah. Saat dalam perjalanan mengambil jasad ayahanda, Mattie pun berjanji untuk membunuh Tom Chaney untuk membalaskan kematian ayahnya. Untuk misi balas dendam tersebut iapun menyewa Rooster Cogburn (Jeff Bridges) untuk membantunya. Seorang Deputy U.S. Marshall, Cogburn pada awalnya menolak tawaran Mattie pada akhirnya mau membantunya. Mereka juga dibantu oleh LaBoeuf (Matt Damon) seorang Texas Ranger yang juga ingin memburu Tom Chaney karena ingin mengumpulkan uang bayaran jika berhasil menangkapnya. Meskipun bertolak belakang dengan keinginan Mattie yang ingin membunuhnya saat itu juga, Mattie akhirnya bersedia menerima bantuannya terlebih karena Tom Chaney yang dibantu oleh 4 orang kriminal lainnya merupakan lawan yang jauh lebih kuat bagi mereka berdua.
Sebuah film western, konon katanya, hanya akan dapat dinikmati sepenuhnya oleh orang Amerika. Budaya koboi, kuda, indian, pistol dan saloon bar terasa amat sangat asing bagi publik di luar negeri paman sam. Teori itu terbukti melalui film True Grit. Cerita dari film ini sendiri berjalan linear dan tidak diganggu oleh sub-plot atau plot twist yang merusak alur filmnya sendiri. Namun entah kenapa, tidak ada kesan thrilling yang didapat dari menonton film yang katanya bergenre thriller ini. Terlebih lagi alunan musiknya yang lebih cocok di sebuah film dramedy religi dan tidak ada kesan adventure sama sekali. Maafkan saya jika salah, meskipun begitu ini adalah film western pertama yang benar-benar saya tonton habis, tapi kok saya merasa underwhelmed banget ya? Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri kualitas produksi dari film ini amat sangat patut diacungi jempol. Suasana western yang diberikan amat sangat meyakinkan karena set yang dibangun amat sangat efektif dalam membantu lajunya cerita itu sendiri. Pengambilan gambarnya juga artistik dengan set latar belakang yang breath taking dan menarik perhatian. Permainan dari para pemainnya juga tidak dapat dilewatkan begitu saja. Hailee Stanfield yang mendapatkan nominasi best supporting actress, berakting sangat ciamik dan menawan. Ia memiliki presence tersendiri yang sangat kuat, bahkan Jeff Bridgespun kadang tertutupi oleh karismanya. Mattie yang memiliki determinasi kuat, tangguh dan mandiri dimainkan dengan penuh percaya diri dan kedalaman emosional yang tinggi. Cukup disayangkan ia tidak dinominasikan untuk Best Actress karena dialah bintang utama dari film ini. Ia mampu membawa film berdurasi hampir 2 jam ini tanpa kewalahan harus bersanding dengan berbagai aktor kawakan lainnya. Jeff Bridges sebagai Cogburn juga tidak mengecewakan. Selepas Crazy Heart, ia menjadi nama yang patut diperhitungkan dalam Hollywood terlebih lagi setelah kesuksesan finansial film ini dan Tron: Legacy. Matt Damon bermain cukup baik, meskipun tidak sebagus kedua nama diatas. Josh Broslin tampil singkat dan hanya terkesan menyumbangkan nama yang cukup dikenal publik untuk mempopulerkan film ini. All in all, film ini bukanlah sebuah film yang buruk. Meski begitu, sebuah nominasi untuk Best Picture terkesan berlebihan dan patut dipertanyakan apalagi melihat kenyataan bahwa film ini bahkan tidak memperoleh satu nominasipun di ajang Golden Globe kemarin. Is it me who just can't get a western movie or the academy is overpraising this golden child of theirs?

Verdict : 8.0/10

Thursday, February 3, 2011

Oscar Watch List : The Fighter

- Boxing in Denial -
SPOILER ALERT! The Fighter adalah kolaborasi ketiga dari David O. Russel dengan Mark Wahlberg. Film ini diangkat dari kisah hidup Micky Ward, seorang petinju yang harus terbayang-bayangi kesuksesan "one-hit wonder" kakaknya. Film yang dulu seharusnya disutradarai Darren Aronofsky yang menyutradarai Black Swan, harus mengalami pergantian cast selama beberapa kali hingga Christian Bale akhirnya resmi menggantikan Brad Pitt. Berhasil merebut 6 nominasi prestisius di Golden Globe yaitu Best Movie, Best Actor, Best Supporting Actor dan 2 Best Supporting Actress, The Fighter berhasil memenangkan dua, satu untuk Christian Bale (Supporting Actor) dan satu untuk Melissa Leo (Best Supporting Actress).Bersama dengan 6 nominasi lainnya, The Fighter adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Micky Ward (Mark Wahlberg) harus hidup dibayang-bayangi kesuksesan di masa lalu dari kakak tirinya Dicky Eklund (Christian Bale), seorang manta petinju terkenal yang karirnya kandas sudah setelah ia mengalami ketergantungan narkoba. Kehidupannya juga mendapatkan banyak tekanan dimana ibu sekaligus manajernya, Alice (Melissa Leo) tidak pernah memberikannya kesempatan untuk mengembangkan potensi dan memaksimalkan karirnya sebagai petinju. Kehidupannya mulai membaik setelah ia berkenalan dengan Charlene (Amy Adams) gadis drop out dari kuliah yang bekerja di sebuah bar. Charlene memaksa Micky untuk memikirkan alternatif lain dalam karirnya dimana ia harus meninggalkan bimbingan dari ibu dan kakaknya. Kekalahan yang fatal dan julukan sebagai stepping stone bagi petinju lain akhirnya memaksa Micky untuk bertindak tegas yang menimbulkan tensi di keluarganya yang tidak bisa dibilang benar-benar fungsional.
Kisah biopic seorang petinju merupakan salah satu biopic olahraga yang paling sukses dalam perolehan finansial dan penghargaan di dunia perfilman. Tengok Ali, Raging Bull, Cinderella Man, Million Dollar Baby, Rocky, dan masih banyak lagi. The Fighter tidak mengambil sebuah rute yang benar-benar baru dalam pembuatannya. Alur mengalir dengan lancar, padat dan tidak membuang-buang waktu. Namun hal itu tidak benar-benar baru karena rute yang sama juga diambil oleh film-film yang disebutkan di atas. Meski begitu film ini patut diacungi jempol karena adegan tinjunya tidak didramatisir dengan berlebihan sehingga kesannya menjadi realistis dan tidak berlebihan. Tensi yang terjadi di arena tinju juga berhasil menarik penonton yang pada akhirnya akan bersorak kegirangan saat Micky berhasil mengalahkan lawannya. Nilai plus lainnya adalah permainan para aktornya yang brilian dan menakjubkan. Mark Wahlberg jelas menunjukkan kedewasaannya dalam berakting dan berhasil membuktikan bahwa ia mampu melepaskan image buruknya di masa muda dan berkembang menjadi aktor kawakan yang patut diperhitungkan. Amy Adams juga berani tampil beda dari biasanya, Ia berani tampil seduktif dan seksi namun juga independen dan berani dibandingkan dengan image princessy, manis dan innocent yang selama ini dibangunnya. Melissa Leo yang namanya mencuat setelah dinominasikan oscar dua tahun lalu, kembali memberikan permainan akting yang jauh di atas rata-rata dan emosionil. Namun yang terbaik dari semuanya adalah Christian Bale yang memainkan Dicky Englund dengan sempurna. Mimik, gaya bicara, ekspressi mata semua ia mainkan dengan meyakinkan dan surreal. Ini adalah performa terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir dan akan amat sangat mengecewakan jika ia tidak memenangkan kategori supporting actor kali ini. Bagi saya, The Fighter juga berbicara mengenai "denial" dalam sebuah keluarga. Alice yang tidak dapat menerima keadaan Dicky yang sudah rusak karena obat-obatan dan masih menganggapnya anak emas dalam keluarga sehingga kerap melupakan Micky. Dicky yang tidak dapat menerima betapa terpuruknya karirnya dan potensi yang dimiliki Micky. Micky yang tidak dapat menerima dirinya yang dibayang-bayangi oleh kakaknya dan dianak tirikan oleh ibunya. Meski begitu, dalam sebuah keluarga, kita kerap melakukan tindakan yang menurut kita adalah yang terbaik bagi anggota keluarga lain, tanpa lantas menanyakan pendapat mereka ataupun apa yang mereka rasakan. Penyelesaian dalam masalah ini disajikan dengan cukup manis dan memuaskan karena sebetapa disfungsional keluarga Micky, mereka tetap mencintainya apa adanya. The Fighter tidak memberikan gebrakan besar dalam genre biopic olahraga, sehingga kecil kemungkinan film ini memenangkan piala oscar, namun The Fighter tetap memberikan sebuah pengalaman menonton yang memuaskan, menarik dan berkualitas.

Verdict : 9.2/10

Tuesday, February 1, 2011

Oscar Watch List : The Kids Are All Right

- Marriage, In All It's Honesty and Truth -
SPOILER ALERT! The Kids Are All Right adalah sebuah film hasil ide Lisa Cholodenko yang diangkat dari beberapa event di kehidupannya, Penulisan scriptnya sudah matang dari tahun 2004, namun proyek ini harus terseret-seret karena susahnya cairan dana yang ia dapat dan beresikonya topik yang ia angkat. Perjuangannya tidak sia-sia setelah aktor-aktor kawakan mulai bersedia membantunya dan distributor besar dari Prancis mau membiayainya. Film ini merupakan salah satu hit di Sundance festival dan berhasil memenangkan Teddy award di Festival Berlinale ke 60. Sebuah komedi satir yang bercerita mengenai pahit manisnya kehidupan berkeluarga, baik itu secara heteroseksual ataupun homoseksual. The Kids Are All Right adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Jules (Julianne Moore) dan Nic (Annete Benning) adalah sepasang pasangan lesbi yang memiliki anak dari donor sperma yang sama. Kedua anaknya, Joni (Mia Wasikowska) gadis pintar berusia 18 tahun yang akan segera masuk ke college dan Laser (Josh Hutcherson) remaja 15 tahun yang sedang memasuki fase akil baliknya, menambah kebahagian keluarga kecil tersebut. Tidak bisa dipungkiri, beberapa masalah kerap melanda keluarga mereka mulai dari sikap Nic yang dominan, Jules yang tidak bisa memegang pekerjaan tetap, Joni yang introvert dan pendiam, serta Laser yang suka memberontak dan bergaul dengan teman yang tidak baik. Namun masalah terbesar datang saat Joni dan Laser berinisiatif menghubungi ayah sperma mereka, Paul (Mark Ruffalo) yang hidup membujang dan bercinta dengan berbagai rekan kerja di restorannya. Sebesar apakah pengaruh si donor sperma dalam keluarga kecil mereka tersebut?
Berkebalikan dari Black Swan yang lebih dulu saya bahas, film ini tidak mengandalkan efek yang megah, koreografi yang menawan, atau set background yang breathtaking. Film ini membahas sebuah keluarga, pada umumnya, yang tidak berbeda jauh dari keluarga lain. Meskipun kepala keluarganya adalah sepasang wanita, problematika yang ada tidak jauh dari keadaan kita sehari-hari. Film ini membahas masalah yang ada atau mungkin ada, dengan apa adanya dan tidak berusaha "memaniskan" suasana atau "mendramatisasi" secara berlebihan. Yang menjadi kelebihan dari film ini adalah usahanya untuk tidak menanggapi dirinya terlalu serius. Dibalut dalam suasana komedi satir, momen-momen yang konyol kerap hadir dan tidak menganggu alur cerita yang sudah sangat rapi disusun. Annete Bening dan Julianne Moore bermain sangat apik, meyakinkan dan emosional sebagai Nic dan Jules. Emosi yang mereka pancarkan amat sangat nyata dan membawa para penonton masuk ke dalam kehidupan sehari-hari dan ikut merasakan problematika yang melanda mereka. Permainan para supporting castnya juga efektif, meski tidak sebrilian kedua wanita tadi. Yang sedikit disayangkan adalah betapa underusednya Laser dan Joni. Jika mau ditelaah, sub-plot perselingkuhan Jules memang menarik, namun masalah selingkuh sudah amat sangat sering dibahas dalam berbagai film lainnya. Kisah Joni yang introvert dan akhirnya harus "cracked" saat melihat keluarganya yang tidak sesempurna itu jauh lebih menarik dan baru. Argumennya dengan kedua orangtuanya 20 menit sebelum film berakhir benar-benar efektif dan membuat hati tergerak melihatnya. Terlebih lagi Laser yang tidak dieksplor lebih dalam selepas Paul masuk dan merusak perkawinan mereka. Laser yang dalam masa akil balik dan "eksploratif" dalam hal seksual merupakan sebuah sub-plot yang tidak kalah seru untuk digali. Meskipun begitu, eksekusi dari film ini tidak benar-benar mengesampingkan mereka, meskipun cukup disayangkan potensi yang ada tidak dikembangkan lebih jauh.

Verdict : 8.7/10

Monday, November 8, 2010

The Social Network

"The Bitter Life of A Geek"
Mark Zuckerberg adalah seorang jenius muda yang menciptakan sebuah website fenomenal bernama facebook di usianya yang belum genap 25 tahun. Dalam kisah sukses hidupnya ia harus terlibat dalam dua tuntutan hukum yang cukup berat. Pertama dari Vanderkloss bersaudara yang menuduh dia telah mencuri ide mereka yang megajak Mark untuk membuat sebuah dating site yang eksklusif untuk anak laki-laki harvard. Kedua dari sahabatnya sendiri, Eduardo Saverin yang ditipu oleh Mark sendiri akibat pengaruh dari Sean Parker. Sepanjang pergelutan hukumnya, flashback demi flashback kembali dalam ingatannya merangkai perjalanan hidupnya mnjadi sebuah film yang sinergis dan menjanjikan.
David Fincher, seorang sutradara spesialis film thriller (Se7en, Fight Club) yang merambah ke dunia drama (Benjamin Button) membawa film ini menjadi coming of age story yang tidak biasa-biasa saja. Formula dari sebuah film biopic memang amat sangat terasa dalam penyusunan naskah film ini, namun hal itu tidak terlalu menganggu karena Fincher mengolahnya dengan slick, fast paced, dan stylish. Nuansa kelam dan mencekam selama perdebatan hukum antara mark dan kedua penuntutnya dipadukan dengan baik dengan beberapa scene drama yang menyentuh. Meski begitu film ini sedikit kebingungan dalam mencari genre. Sebagai sebuah coming of age story, pembawaan thriller khas David Fincher sedikit menganggu dan memberatkan. Sebagai sebuah drama, materi yang disajikan tidak selalu seimbang dan mengikat. Sebuah dualisme yang amat sangat disayangkan.
Permainan Jesse Eisenberg sebagai Mark bisa dibilang mengkukuhkannya sebagai seorang aktor muda berbakat yang bersinar dalam karakter geeknya (Michael Cera yang lain). Setelah Adventureland dan Zombieland, ia bermain sebagai orang yang memiliki OCD akut dan peyendiri dengan amat sangat baik. Kemampuannya membuat penonton gemas akan sikapnya yang sok bad-boy benar-benar patut diacungi jempol. Andrew Garfield, aktor muda yang akan menjadi spiderman berikutnya, juga bermain baik dan mampu mengimbangi Jesse sendiri. Bahkan Fincher mampu mengarahkan Justin Timberlake untuk berakting jauh lebih baik dibandingkan di the love guru dan beberapa filmnya yang lain. Yang juga cukup signifikan adalah Brenda Song yang berani tampil beda dari image disneynya dan bergerak ke peran yang jauh, jauh lebih dewasa.
Score dari film ini sendiri, bisa dibilang, terlalu dark untuk sebuah coming of age story yang ditujukan untuk audience remaja dan muda. Jika ada satu yang harus dikecewakan adalah endingnya. Tidak bermaksud memberikan spoiler atau apapun, namun yang pasti ending dari film ini bisa bergerak ke dua sisi. Entah itu menjadi ending brilian yang amat sangat efektif, atau sebuah ending yang anti klimaks dan mengecewakan. Sayangnya saya mendapatkan respon yang ke-2 untuk ending film ini.

Verdict : 7.5/10

Saturday, August 28, 2010

The Girl With The Dragon Tattoo

- Dark, Deep, Disturbing yet Damn Awesome! -
Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist) adalah seorang investigator handal untuk majalah Millenium. Setelah kalah dalam perbandingan kasusnya dan disalahkan atan tuduhan yang tidak ia lakukan, Mikael terpaksa berhenti dari majalah tempatnya bekerja dan terancam dipenjara selama tiga bulan. Sebelum masa penjaranya mulai, ia mendapat tawaran memecahkan sebuah kasus menghilangnya seorang gadis remaja 40 tahun lalu oleh Henrik Vanger, jutawan dari keluarga Vanger yang menyimpan banyak rahasia. Kehilangan Harriet yang diduga akibat sebuah pembunuhan menarik minat dari Mikael yang juga membutuhkan bantuan finansial yang dijanjikan. Dalam usahanya, ia dibantu oleh Lisbeth (Noomi Rapace), seorang hacker muda berusia 24 tahun yang dulu ditugasi untuk memata-matai Mikael. Dalam usaha mereka, berbagai macam rahasia kelam harus mereka hadapi. Berbagai macam rintangan dari luar, dan terutama, dari dalam diri mereka sendiri.
Setelah disebut-sebut reviewer terkemuka di Amerika sebagai salah satu film terbaik selama pertengahan 2010 ini, gw tanpa pikir panjang langsung membeli dvd film keluaran tahun 2009 ini. Menggunakan bahasa Swedia, kisah misteri pembunuhan ini bisa dibilang bergerak sedikit lambat. Meski begitu, misteri yang ditawarkan sangat engaging dan membuat orang-orang semakin penasaran. Sedikit berbeda dengan kisah misteri hollywood yang mengagung-agungkan twist seru dan kejutan-kejutan lainnya, film ini (anehnya) berjalan cukup linear dan simpel. Kalau benar-benar mengikuti dari awal, maka tidak akan terlalu susah menebak siapa kira-kira tokoh antagonis utama di film ini. Berbagai macam sub-plot juga dikemas dengan sangat baik dan menarik. Terutama kisah Lisbeth yang amat kelam dan membuat gw meringis. Female abuse menjadi salah satu elemen utama yang diangkat Stieg Larsson dalam novelnya, dan hal tersebut digumbar dengan lantang di film berdurasi 2 jam ini. Kedalaman emosi yang diolah dengan baik oleh si director, Niels Arden Oplev, begitu terasa dan membuat gw amat simpatik terhadap tokoh Lisbeth sendiri. Meskipun cerita utama bukan mengenai perkembangan Lisbeth sebagai karakter, ia merupakan salah satu heroine paling memorable dalam beberapa tahun belakangan. Setidaknya sebanding dengan beatrix kiddo.
Permainan para aktornya yang brillian amat sangat meningkatkan kualitas film dengan naskah jauh di atas rata-rata ini. Michael Nyovist mengundang simpatik sebagai jurnalis yang terperangkap dalam jebakan kasus yang membuatnya teracam terpenjara. Noomi Rapace tampil mengejutkan sebagai Lisbeth. Kedalaman karakter yang ia berikan benar-benar nyata dan dalam. Kegelisahan dan kegalauan dalam hidup Lisbeth berhasil Noomi translasikan dengan amat sangat baik. Supporting cast lainnya bermain dengan tidak kalah efektif dan membuat film ini semakin menarik dan seru.
Music score dari film ini juga top notch! Iringan lagunya yang misterius, eerie dan buat merinding sendiri menjadi nyawa tersendiri bagi film ini. Tata kameranya yang mengejutkan (benar-benar seperti produksi hollywood, yang berarti bagus tentunya) juga membuat film ini menjadi semakin artistik dan beda. Setiap pemandangan ditampilkan dengan mengagumkan. The Girl with the Dragon Tattoo berhasil menjadi sebuah tontonan yang benar-benar captivating. Adegan-adegan di dalamnya bisa dibilang lumayan keras dan mengganggu. Namun karena kegamblangannya itulah, film ini tampil beda, fresh dan mengejutkan. A very, very, awesome experience.

Verdict : 9/10

Sunday, August 8, 2010

Shanghai

- City of Noir-istic Love and Blood -
Paul Soames (John Cusack) adalah agen intel amerika yang tidak berpihak pada jepang dan cina circa perang dunia kedua. Posisinya yang netrak terguncang sudah saat sang sahabat Connor (Jeffrey Dean Morgan) dibunuh. Misteri pembunuhannya rupanya menjadi lebih runyam dimana Connor terlibat terlalu jauh dalam penyelidikannya terhadap Anthony Lan-Ting (Chow Yun Fat) boss gangster Shanghai yang sangat tersohor. Konspirasinya dengan Jepang melalui Kapten Tanaka (Ken Watanabe) terancam hancur setelah tindakan resistance dari warga asli shanghai sendiri yang semakin menjadi-jadi. Dalam penyelidikannya, Paul Soames mendapat bantuan dari Ana (Gong Li), istri Anthony yang memiliki rahasia kelamnya sendiri. Semua penyelidikannya menunjuk satu titik berat, dimana ia harus menemukan Mitsuko (Rinko Kikuchi), mantan mata-mata jepang yang jatuh cinta terhadap Connor dan belum lama ini menghilang, sebelum terlambat.
Di tengah-tengah kerunyaman masalah FPI yang jelas-jelas melecehkan agama lain, saya memilih untuk menghibur diri dengan menulis review film yang bisa dibilang lumayan asik ini. Shanghai adalah sebuah film thriller drama dengan sedikit bumbu romance dan sisi noir yang amat ketara. Pengambilan gambarnya yang artistik, sendu dan gelap membuat kita gampang tertarik dan terbawa masuk ke dalam suasana shanghai tahun 1941. Hujan yang selalu turun menambah suasana kelam yang menjadi latar belakang cerita yang tidak kalah suram ini. Kisahnya sendiri lumayan seru, meskipun misteri siapa yang membunuh Connor sampai akhirnya, tidak pernah benar-benar engaging. Entah apa yang kurang dari core ceritanya, tetapi ada aspek-aspek lain di film ini yang membuat saya enjoy. Namun yang pasti, hal itu bukanlah misteri inti ceritanya sendiri.
Mungkin bisa dibilang aneh. Kok bisa enjoy nonton sebuah film padahal tidak begitu tertarik mengikuti misterinya? Tetapi itulah yang terjadi. Aspek pertama yang membuat saya benar-benar enjoy adalah permainan apik dari John Cusack dan Gong Li. Cusack dengan gayanya yang serius dan kesepian begitu meyakinkan dan Gong Li benar-benar memukau. Gong Li bermain jauh lebih baik dari di Memoirs of Geisha (di film itu pelafalan inggrisnya masih sedikit kaku, disini bisa dibilang lumayan lancar). Karismanya sebagai "dragon lady", dilengkapi mimik wajahnya yang keras, cool, dan rupawan membuatnya menjadi karakter yang paling menonjol sepanjang film ini. Thumbs up buat para stylist yang mendadaninya karena dia tampil amat sangat menarik!
Ken Watanabe juga bermain tidak kalah baik dan membuktikan dirinya sebagai salah satu ekspor dari asia yang harus, harus diperhitungkan. Kudos juga diberikan kepada pembuat setting tempat yang benar-benar terasa authentic dan real. Kostumnya juga bisa dibilang oke dan iringan musiknya juga top notch punya. Yang sedikit disayangkan adalah peran Rinko Kikuchi yang amat sangat underused (meskipun performa singkatnya juga sangat heart breaking dan mengagumkan.) Terlebih lagi Chow Yun Fat yang benar-benar tenggelam di antara Cusack-Li-Watanabe, sungguh sebuah dosa besar! Meskipun begitu, film ini masih bisa dibilang sangat watchable, meskipun bisa lebih baik dari segi ceritanya sendiri.

Verdict : 7/10

Monday, June 7, 2010

Hysterical Blindness

- Girls Just Want to Have Fun -
1987, Debbie Miller (Uma Thurman) didiagnosis dengan sebuah penyakit bernama ‘Hysterical Blindness’. Penyakit ini menyebabkan Debbie kadang-kadanga kehilangan penglihatannya. Sang dokter menyarankannya untuk bersenang-senang bersama sahabatnya. Bersama sahabat sejak kecilnya, Beth (Juliette Lewis) yang sudah memiliki anak perempuan, mereka berpesta pora di sebuah bar bernama Ollie’s. Sesampainya disana, Beth yang sudah menjanda menggodai bartender yang membuat Debbie marah. Debbie pergi keluar meninggalkan Beth dan bertemu dengan Rick (Justin Chambers), laki-laki tampan yang menarik perhatiannya.
Di lain tempat, Virginia Miller (Gena Rowlands) adalah ibu dari Debbie. Ia berpisah dengan suaminya sewaktu Debbie masih kecil dan bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran keluarga sekarang. Seorang kakek-kakek bernama Nick (Ben Gazzara) tertarik pada dirinya dan selalu berusaha mendekatinya. Meskipun Virginia pada awalnya merasa enggan, namu kegigihannya lama kelamaan meluluhkan hatinya.
Hysterical Blindness adalah film televisi original produksi HBO di tahun 2002 lalu. Disutradarai oleh Mira Nair (Monsoon Wedding, Vanity Fair, Amelia), film ini dibintangi oleh Uma Thurman yang karirnya sedang meredup. Dibantu dengan Gena Rowlands dan Juliette Lewis, film ini membawa sebuah cerita simpel yang sebenarnya dalam dan menyedihkan. Debbie dan Virginia memiliki satu masalah yang sama, mereka selalu dikecewakan oleh laki-laki. Mungkinkah tiba waktu mereka untuk mendapatkan laki-laki yang sempurna? Pembahasan mengenai masalah itu di film ini dikupas dengan indah oleh Mira Nair. Ceritanya tidak pernah menjadi membosankan terutama karena permainan mengagumkan dari Uma Thurman dan Gena Rowlands.
Sub-plot tentang sahabat Debbie, Beth yang memiliki anak hingga drop-out dari SMA juga menarik meskipun tidak dikupas begitu dalam. Pengkarakteran Beth dan Debbie yang sama-sama masih naif dalam hubungan percintaan, begitu mendalam dan truthful. Mungkin ini adalah salah satu permainan Juliette Lewis yang paling baik dan meyakinkan. Uma Thurman bersinar terang di film Kill Bill dan Pulp Fiction, namun aktingnya sebagai si Debbie yang haus kasih sayang lelaki di film ini begitu apik dan meyakinkan. Raut mukanya yang desperate dan naif, sangat mengena dan mengundang simpati. Gena Rowlands juga tidak kalah bersinar sebagai Virginia yang jatuh cinta lagi di usianya yang menginjak kepala enam.
Uma Thurman mendapatkan piala Golden Globe atas permainannya disini, begitu pula dengan Gena Rowlands yang mendapatkan piala Emmy. Mira Nair membuktikan bahwa dirinya adalah sutradara wanita yang patut diperhitungkan. Terbukti setelah film ini, ia mendapatkan tawaran menyutradarai film yang lebih besar seperti Vanity Fair. Uma Thurman juga berhasil membuktikan kemampuan aktingnya setelah karirnya redup pasca poison ivy. Sebuah film dengan cerita simpel, namun dibumbui oleh permainan akting meyakinkan dan menakjubkan dari para aktornya.

Verdict : 8/10