Showing posts with label horror. Show all posts
Showing posts with label horror. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

July Movie Kaleidoscope

Hello blog! Whew it has been ages since i post in here. I'm quite sorry for abandoning you but my personal and professional life has been quite a blast this past months. I got lots of job opportunity, had to take care for upcoming art event on my campus, and on top of that i finally launched my own clothing line. But that doesn't mean my passion for movie has gone. I'm kinda in a phase where i enjoy streaming anime weekly, and some several tv series rather than watching in the cinema. I reallyrecommend you guys check out this three anime No.6, Mawaru Penquindrum, and Dantalian no Shoka. They've got awesome animation, engaging story, and honestly, none of that silly japanese antics.

Back to movie, i only managed to watch 3 movies in the month of july 2011. Well, that's quite sad, but I guess I can't help but weep whenever I see the list of pictures that are showing each week. Anyway, i'll review those three in one post I called "kaleidoscope". On the side note, do pardon my attempt on writing in english, I'm not that good at it *chuckle*.
Insidious
Watched on July the 3rd at Anggrek XXI
Film Review : 8/10 (This movie was freaking awesome! The atmosphere was very chilling, and it build the tension very smoothly without any feeling of being rushed. The actors were believeable and sympathetic, and for once the characters aren't silly horror caricature. It was kind of a let down the film go downhill after the first hour for shifting to another character so suddenly and put a deus ex machina that is quite predictable. But overall this is a very nice horror flick, and the first one that actually make me shriek in a theater.....for three times)
Catatan Harian si Boy
Watched on 12th of July at Pondok Indah 1 XXI
Film Review : 8.5/10 (This is a very, very fresh Indonesian Movie. The dialogue was very gripping, clever, funny and touching at the same time. The writers actually managed to give a depth at every character. While only few of them work and become more than two dimensional character, the attempt are worth applauding considering some Indonesian movie actually relies on their characters antics rather than giving them some character development. The action scenes are not over the top and believeable, the story was cleverly interwoven and the movie itself was very enjoyable. It put a benchmark on how a good enjoyable movie can be made without involving half baked nudity, silly looking ghost, or melodramatic weepy teenage romance. It creates a new genre, which hopefully follows with a lot of movie that tries to live up to the quality this movie presented.)
Larry Crowne
Watched on the 23rd of July at La Piazza XXI
Film Review : 5/10 (Well that was a disappointment. I was hoping for a heartwarming romantic movie featuring simpathetic face and extraordinary sexy lip. What i got was a movie that tries to be heartwarming by simplifying things to the point of unrealistic, making every side-characters the "wise-man" by giving the protagonist a very preachy, wise way of life people can seek on the internet, and a romance build up by one kiss and no chemistry at all. Seriously, this movie is bad. I only get a few chuckle by the guy who looks like Bruno Mars and nothing else. Flat, boring, and forgettable.)

Thursday, June 2, 2011

Movie: Scream 4

- Just Migrate From Woodsboro Will Ya? -
Cukup mengejutkan proyek ini pada akhirnya mendapatkan lampu hijau dari para studio besar di Hollywood. Jarang film beranak pinak menjadi lebih dari 3 seri, terlebih genre horror. Semakin mengejutkan lagi, sebuah film horor seri keempat yang lolos masuk ke layar lebar dan tidak hanya untuk konsumsi dvd biasa. Padahal tidak ada dukungan dari aktor yang kuat, kecuali beberapa nama yang cukup terkenal sebagai bintang televisi, tapi tidak ada satupun nama aktor disini yang memiliki kredibilitas kuat sebagai bintang Hollywood. Lalu apa yang membuat film ini dianggap special dan mampu mengangkat nama seri "Scream" sekali lagi?
Sidney Prescott akhirnya harus kembali berhadapan dengan masa lalunya setelah ia menerbitkan buku untuk menandakan suksesnya ia melepaskan diri sebagai seorang korban. Kehidupan woodsboro yang semulanya tenang-tenang saja kembali kedatangan terror pembunuhan berantai bersamaan dengan momen kedatangan Sidney ke kota tersebut. Sebutan pembawa kematian sepertinya cocok disematkan kepadanya setelah satu persatu orang yang berada di dekatnya meninggal secara mengenaskan. Mampukah ia, bersama Dewey dan Gale menghentikan rangkaian pembunuhan ini sebelum terlambat
Seri Scream memiliki kekuatannya sendiri dalam menghadirkan rasa deg-degan luar biasa ketika penonton harus menonton bagaimana satu persatu karakter tewas mengenaskan. Hal ini cukup efektif di dua film pertama dimana thrill yang dihadirkan masih fresh. Demam Scream juga semakin mewabah di Indonesia setelah pemutaran kedua film tersebut di salah satu stasiun tv swasta. Film ketiganya mulai kehilangan amunisi tingkat keseraman karena banyaknya jumlah orang yang meninggal rupanya tidak urung malah menurunkan tensi film itu sendiri. Bagaimana dengan film keempat ini? Scream 4, ibarat sebuah mobil, berhasil membuang semua amunisi kesegaran yang dulu sempat dimiliki seri tersebut. Film ini tidak lagi mengandalkan kekuatan "deg-degan" yang akan diperoleh penonton, melainkan suara-suara seru yang membuat penonton kaget sesaat. Tidak ada yang benar-benar mengagetkan, atau bahkan membuat kita ketakutan di kursi penonton
Sesuai dengan tradisi seri-seri sebelumnya, seri ini berusaha menjadi "lebih pintar" dengan mengolok-olok kebiasaan bodoh yang dilakukan orang-orang di dalam sebuah film horror. Tapi lucunya, yang mengolok pun tidak pernah menunjukkan kepintaran mereka yang seharusnya sudah mengerti segalanya. Ketololan demi ketololan tetap mereka lakukan dan kali ini justru semakin parah. Karakter yang baru tidak memiliki karakterisasi yang kuat dan karakter-karakter yang lama bermain benar-benar seadanya. Yang benar-benar menggelikan adalah bagaimana polisi-polisi di kota tersebut amat sangat tidak dapat diandalkan dan bagaikan boneka yang menunggu orang-orang berikutnya meninggal. Kalau saya tinggal di kota itu, dalam hitungan detik saya akan bermigrasi. Tidak ada yang impresif sama sekali. Twist yang dihadirkan? Meskipun cukup mengejutkan, terkesan sangat maksa dan tidak logis. Tanpa adanya naskah yang fresh, akting yang meyakinkan, atau pembunuhan yang menegangkan, film ini gagal di semua sisi dan dengan sukses menjerumuskan seri "Scream" ke lembah film dengan sekuel sekuel murahan. Hanya adegan openingnya saja yang lumayan original, sayang tidak direalisasikan menjadi sebuah film.

Verdict: 5.5/10

Monday, December 6, 2010

The Walking Dead

- Zombiecalypse -
Rick adalah seorang sherif yang hidup bahagia bersama istrinya Lori dan anak laki-lakinya Carl. Bersama partnernya Shane, ia menjaga keamanan dan ketertiban di King County, Georgia setiap harinya. Setelah suatu insiden penembakan yang menyebabkannya koma untuk beberapa saat, Rick terbangun sendiri di sebuah ruangan ICU yang terbengkalai untuk cukup lama. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah sakit itu kecuali kondisi yang berantakan da darah yang menetes dimana-mana. Tidak perlu waktu lama untuk Rick menyadari kondisi yang terjadi. Sebuah malapetaka telah terjadi dan mereka yang sudah meninggal mulai berjalan kembali dan memangsa mereka yang masih bisa bernafas. Bertekad mencari istri dan anaknya yang sudah meninggalkan rumah mereka, Rick berkelana ke kota mempertaruhkan hidupnya melawan "walkers" yang tidak pernah ada habisnya.
Diangkat dari serial komik yang terkenal di Amerika sana, Frank Darabont (The Mist, The Green Mile) mengangkatnya menjadi sebuah serial televisi berjumlah 6 episode. Setelah mendapatkan resepsi yang sangat baik dari para kritikus dan khalayak publik, The Walking Dead telah memulai produksi musim keduanya yang berjumlah 13 episode. Meskipun tidak memiliki core cerita yang benar-benar original, serial ini berhasil meyakinkan khalayak publik bahwa sebuah film zombie masih bisa menyeramkan bahkan tanpa mutasi makhluk yang sedemikian absurd sekalipun.
Resep membangun kengerian yang tiada henti adalah dengan membuat kita merasakan sebuah koneksi dengan para karakter di film ini yang membuat kita menggertakkan gigi saat mereka berada di sebuah keadaan genting. Film ini berhasil melakuka tugasnya di kedua poin tersebut. Memberikan kita back story yang kuat dengan pergelutan moral yang realistik dan menarik minat penonton, juga memberikan adegan-adegan mencekam tiada henti yang diproduksi dengan kualitas tinggi dan tidak murahan. Permainan para aktornya melampaui kapasitas aktor di sebuah film zombie kebanyakan karena pembawaan karakter yang realistis dan memorable. Amarah, ketakutan, kehilangan, cemburu, semua terbawa dengan baik dan realistik.
Special efek dari serial ini juga bisa dibilang top-notch dan tidak cheesy. Bahkan bisa dibilang tidak kalah dengan kualitas make-up dan efek dari film-film zombie big budget seperti resident evil dan dawn of the dead. Ide awal yang cukup diragukan karena temanya yang mengenai zombie, diluluh lantahkan sudah dengan eksekusi yang indah dan lain daripada yang lain. Pengambilan gambar yang sensasional, komposisi musik yang pas, dan permainan para pemainnya yang ciamik membuat serial ini lain daripada yang lain. One of the best zombie themed cinematical experience i ever had.

Verdict: 8.5/10

Tuesday, April 27, 2010

Death Bell (2008)

- The Bell Has Rang for the Death to Come -
Korea terkenal akan produksi drama seri romantisnya yang tidak pernah habis. Beberapa film bioskop juga sesekali dirilis dengan genre yang tidak berbeda jauh. Film horror korea bisa dibilang jarang ditemukan, sekalinyapun ada, film itu jarang nge-boom dan kualitasnya jauh di bawah ekspektasi banyak orang. Berbeda dengan negara asia lainnya macam jepang, thailand, hongkong, bahkan indonesia sekalipun. Meskipu begitu, dalam beberapa kesempatan, selalu nongol satu atau dua film bergenre horror dari negeri ginseng yang menarik banyak perhatian dan berkualitas jauh di atas rata-rata. Death bell, meski tidak bisa disetarakan dengan The Host dan A Tale of Two Sisters, memberikan sebuah kejutan yang bisa dibilang tidak bisa ditebak sama sekali sebelumnya.
Kisah dimulai dengan kegiatan sekolah pada umumnya. Ujian semester baru saja berakhir dan beberapa murid dengan bahagia berpergian pulang dari dorm sekolah mereka menuju domisili masing-masing. Dua puluh anak dengan nilai tertinggi, terpaksa harus belajar di sekolah selama liburan dalam usaha sekolahnya memasukkan anak-anak topnya menuju universitas andalan yang menjadi incaran semua orang. Hwang Chan-wook guru bahasa korea membantu ditemani oleh guru bahasa inggris, Choi So-yeong.
Di antara murid-murid itu, Kang Yi-na adalah seorang siswi yang ceria dan pintar. Ia berhasil menduduki peringkat kelima di angkatannya. Cowok yang ia sukai, Kang Hyeon (The infamous Kim-Bum) adalah anak berandal yang pernah tinggal di luar negeri selama beberapa tahun, membuatnya terpaksa hadir di sekolah untuk membantu guru bahasa korea yang tidak pandai berbahasa negeri paman sam. Saat kelas mau dimulai, HD Tv di kelas khusus itu tiba-tiba menyala menampilkan seorang siswi yang terperangkap di dalam tabung kaca. Di tabung itu terdapat sebuah soal matematika. Perlahan namu pasti, kolam air itu terisi menimbulkan kepanikkan di antara teman-teman sekelasnya. Mereka yang di kelas, dipaksa menyelesaikan soal di tabung itu jika mau melihat teman mereka selamat.
Premisenya bisa dibilang sangat menjanjikan. Meski begitu gw merasa let-down atas beberapa plot-hole. (Spoiler Ahead!!) Untuk apa coba si Kim-Bum dipanggil hanya kalau si guru korea perlu orang yang bisa bahasa inggris? Pak, ada guru inggris di sebelah lw!! Kedua, di kasus pertama yang terdengar seru itu, anak-anak murid “terpintar” di sekolah itu tidak berusaha sama sekali untuk memecahkan soal itu. Mereka sibuk panik dan melerai Kim-Bum yang berantem sama seorang guru. Sampai akhirnya si anak cewek tenggelam. Hello? It’s your friend in the tube!
Okay enough with my ranting. Mungkin akan timbul kesan kalau gw membenci film ini, sejujurnya gw justru sangat menikmati film ini. Banyak hal yang bisa dikembangkan, misalnya dengan lebih fokus ke pemecahan soal-soalnya daripada panik-panik kayak orang blo’on. Meski begitu, banyak point-point di film ini yang lumayan “oke”. Pembangunan tensinya dibawa dengan sangat clear, seru da fast paced. Film ini membangun tensi dengan mengambil adegan torture dari saw yang dibawa dengan sedikit lebih bermoral dan kreatif, kejar-kejaran ala film thriller, dan tatapan creepy hantu berbedak putih yang tersenyum manis.
Permainan para aktornya juga gak bisa dibilang jelek. Si tokoh utama, Kang Yi-Na entah kenapa kayak sering bengong dan mainnya lemes banget. Kim-Bum lumayan lah sebagai si bad boy, meski mukanya enggak cocok disebut “bad”. Guru-gurunya on the other hand, bermain dengan sangat crisp dan meyakinkan. Terutama si guru inggris. Entah kenapa gw suka aja liat permainannya. Durasinya yang tidak terlalu panjang, diisi dengan adegan-adegan seram dan thrilling yang dipoles dengan profesional dan enggak cheapy.
All in all, film ini memiliki banyak plot hole yang lumayan mengganggu, meski begitu cukup banyak adegan seru yang lezat disantap bagi para pencinta film horror. Meskipun formula film horror remaja masih dipakai disini (berpisah-pisah, mencar, ngumpet di kamar sendirian, dll), cukup banyak hal yang bisa dinikmati disini. Dibandingkan dengan film-film horror sampah dari Thailand, Indonesia, atau bahkan Korea sendiri, film ini cukup bersinar. Dibandingkan dengan film horror yang top-notch, film ini enggak kalah enjoyable dan entertaining.

Verdict : 6.5 / 10

Saturday, April 3, 2010

Guilty Pleasures - Part Two

Crappy Horror Movie!
Film-film horror crappy, dengan naskah lemah, pemain yang pas-pasan(beberapa tampil bagus namun naskahnya menarik mundur performa si aktor/aktris secara keseluruhan) namun tetap saja, SANGAT ENJOYABLE! My faves are :
Fave 5 :Resident Evil : Apocalypse (2004)
Film pertamanya bisa dibilang lumayan. Dark, gloomy dan bikin ngeri sendiri. Namun tetap saja, biar film keduanya lebih amburadul, overall gw lebih demen nontonin instalasinya yang kedua. Naskahnya lebih amburadul, permainan aktor-aktornya masih lemah (kecuali si reporter cewek yang sialnya harus mati) dan zombie-zombienya masih lemot-lemot nyebelin. Tapi adegan action non-stop, si Sienna Guillory yang seksi abis, dan efek-efek over the topnya, membuat film ini gak pernah ngebosenin di mata gw.
Fave 4 :Gothika (2003)
Premisenya sebenarnya lumayan, tapi skripnya itu loh, gak bisa dibilang orisinil dan engaging sama sekali. Meski begitu, permainan si Halle Berry, Cruz, ama Downey bisa dibilang di atas rata-rata. Dan yang juga menyelamatkan film ini adalah beberapa adegan mengagetkan yang bisa dibilang, mengagetkan!
Fave 3 :My Bloody Valentine (2009)
Slasher yang satu ini hampir lengkap di segala sisi, kecuali naskah dan pemain yang meyakinkan. Gw hampir ketawa geli sendiri melihat bagaimana seorang aktor berumur 35 tahunan, memainkan remaja berumur kira-kira setengah dari usia tersebut. Meski begitu, untung mereka Cuma pura-pura remaja di bagian flashbacknya. Sialnya, meski sudah bertambah usia, kekuatan performanya tidak ikut berubah. Datar dan boring. Jaime King lumayanlah, tapi Jensen Ackles bener-bener mengecewakan. Aside from that, film ini menawarkan banyak hal yang sangat gw doyan. Kejer-kejeran yang thrilling, nude scene yang total, dan gory yang cukup dan gak kelewatan batas. Really, really entertaining!
Fave 2 :I Still Know What You Did Last Summer (1998)
Menurut banyak orang, sekuel ini mengalami penurunan kualitas dibandingkan film sebelumnya. Dengan banyaknya jumlah orang yang dibunuh (film pertama kurang dari lima, disini kira-kira sepuluh), Jack Black yang nyebelin, dan tambahan Brandy dan cowoknya yang nyebelin, film ini habis-habisan dibabat oleh para kritikus. Meski begitu, menurut gw film ini jauh, jauh, jauh lebih entertaining dibandingkan yang pertama. Lebih seru, over the top, dan gak ba-bi-bu. Slash, stab, and kill!
Fave 1 :Silent Hill (2006)
Mungkin gak semua orang suka film ini. Bahkan mungkin sedikit orang yang menemukan film ini enggak enjoyable sama sekali. Tapi entah kenapa, adaptasi game yang chilling dan super mengerikan itu, memiliki tempat tersendiri di hati gw. Permainan Radha Mitchell yang oke, Jodelle Ferland yang creepy dan Laurie Holden yang top-notch, selalu membuat mata gw betah dalam menginvestasikan waktu gw selama kira-kira dua jam di film yang naskahnya gak bisa dibilang berkualitas ini. Meski begitu, atmosfer keseramannya berhasil dibangun dengan kuat, spesial efek yang pas, dan beberapa gory scene yang berhasil membuat gw merinding selalu membuat gw ketagihan dan menonton film ini berulang-ulang selama liburan.

Not-That-Crappy Horror Movie but Still Enjoyable!

Meksipun beberapa film-film horror crappy diatas bisa dibilang sangat enjoyable, enggak sedikit juga film-film horror berkualitas yang udah sohiban ama dvd player gw. List ini bisa dibilang bukan benar-benar guilty pleasure, karena memang film-film dibawah ini berkualitas secara materi, menegangkan, dan pleasureable. Dari banyaknya film-film horror lumayan, gw terpaksa menyisihkan The Mist, The Faculty, The Sixth Sense, The Grudge 1, Sleepy Hollow, The Skeleteon Key, P2, 28 Days Later, Planet Terror, Se7en, dan Dawn Of The Dead (2005) untuk memilih lima yang menurut gw sangat tinggi tingkat entertainmentnya. My faves are:
Fave 5 :What Lies Beneath (2000)
Michelle Pfeiffer gak disuruh ngapa-ngapain aja juga gw udah betah ngeliatin selama berjam-jam. Kecantikannya itu loh. GOSH! She’s gorgeous! Meskipun begitu, film ini juga memiliki beberapa elemen yang engaging selain wajah michelle yang priceless itu. Naskahnya sebenarnya bukan tanpa bolong-bolong. Beberapa scene terkesan dipanjang-panjangin dan durasi dua jam lebih untuk film horror seperti ini mungkin terasa membosankan bagi beberapa orang. Tetapi bagi gw, tensi yang dibangun perlahan itu dibayar tuntas dengan spesial efek jempolan dan adegan-adegan terakhir yang chilling, memorable, dan exciting abis!

Fave 4 :Vacancy (2007)
Banyak banget scene-scene di film ini yang bikin gw ngeri sendiri. Adegan-adegan pembunuhan pengunjung yang direkam di kaset-kaset butut terkesan begitu real dan mencekam. Selain rekaman-rekaman mencekam itu, adegan-adegan peneroran kamar mereka selalu berhasil meningkatkan adrenalin gw. Permainan Kate Beckinsale dan Luke Wilson bisa dibilang sangat meyakinkan dan pas dengan porsi naskah yang juga bisa dibilang ciamik. Tensinya dibangun dengan ritme yang tegang, cepat, dan dengan konklusi yang memuaskan.
Fave 3 :Disturbia (2007)
Thriller satu ini banting setir mendadak di sepertiga terakhir film. Dari intip-intipan jadi tusuk-tusukan. Meski banyak yang bilang dipaksakan, hal itu malah membuat gw makin semangat dan teriak kegirangan saat si jahat akhirnya menemui ajalnya. Meskipun naskahnya tidak bisa dibilang orisinil (mirip Rear Window), banyak scene-scene yang memorable apalagi pas si cowok korea nyelinep masuk ke dalam rumah dan si cewek seksi menguntit si lelaki misterius ke dept.store. Shia LaBeouf bisa dibilang berakting jauh lebih baik dibandingkan performanya di Transformer 1,2 ataupun Indi. Memorable dan asik buat ditonton berkali-kali.
Fave 2 :Identity (2003)
Penggabungan horror slasher, thriller dan twist ending yang mengejutkan dibawa dengan begitu enjoyable & exciting oleh James Mangold. John Cusack, Amanda Peet dan Clea DuVall menunjukkan performa yang di atas rata-rata dan bisa dibilang top-notch! Meskipun kisah stranded-strangers-stuck-in-a-motel-waiting-to-be-killed sudah sering sekali diulang-ulang di film-film horror murahan, Identitiy berhasil membawa premise itu menuju tingkat selanjutnya. Film yang entertaining, asik, tanpa harus mendongkoli penontonnya. Twistnya bisa dibilang mengejutkan dan dibangun dengan sangat baik. “I didn’t see that coming at all!” gw teriakkan berkali-kali setelah menonton film ini. Patut ditonton berulang-ulang! SANGAT PATUT!


Fave 1 :The Others (2001)
Gw bersama adik gw, tidak pernah bosan sama sekali menonton film ini. Menurut gw film ini memiliki segalanya yang diperlukan oleh suatu film horror yang bisa dibilang lengkap. Big creaking house? Check! Nicole Kidman in distress? Check! Weirdly creepy kids? Check! Scary boo moments? Check! Sick ending twist? Double check! Jujur, menurut gw twist film ini jauh lebih oke dibandingkan SIxth Sense. Permainan akting yang gemilang, alur yang mulus, tensi yang dijaga, misteri yang buat penasaran, sepaket film horor lengkap dengan tingkat entertainment yang menurut gw sangat tinggi. BRAVA!
Gw sempet bingung untuk memasukkan film Shaun of The Dead dan Zombieland dimana, entah di spoof atau di horror, karena film-film tersebut bisa dibilang lumayan kuat di dua-duanya. Meski begitu, film-film itu bisa dibilang gak kalah seru dibandingkan lima film di atas, dan juga gak kalah lucu dibandingkan dengan lima film di post sebelumnya. Andaikata Hot Fuzz adalah film parodi (parodi bukan sih? Gw gak yakin.) jelas gw akan memasukkannya ke list di post gw yang lalu.

Friday, January 29, 2010

Legion


- Exhausting Action Packed Brainless Horror Movie -
Manusia telah mengecewakan Tuhan begitu amat sangat, hingga ia menetapkan untuk menurunkan kiamat secepatnya. Namun salah satu malaikat-Nya, Michael(Paul Bettany )tidak menyetujui hal itu bersikeras bahwa Tuhan melakukan apa yang ia inginkan bukan apa yang ia butuhkan. Oleh karena itu ia memilih untuk turun ke bumi dalam wujud manusia, mencuri seperangkat senjata kelas berat dari sebuah toko ilegal, dan berjuag menyelamatkan manusia. Tujuannya adalah sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan, dimana salah satu(atau mungkin satu-satunya) pelayan di rumah makan itu sedang hamil tua dan membawa bayi yang akan memberikan keselamatan pada umat dunia. Namun Tuhan telah menjalankan rencananya dan mengirim malaikat-malaikatnya untuk merasuki banyak orang dan memberikan mereka kemampuan ala mutan di X-Men untuk menggagalkan rencana Michael. Bersama dengan segerombolan orang lainnya, mereka berusaha untuk bertahan di dalam diner itu sampai air ketuba sang pelayan pecah dan bayinya dilahirkan.
Bukan secara ketidaksengajaan sinopsis film ini gw buat nyeleneh dan tidak baku seperti biasanya, karena itu menggambarkan betapa ridiculous-nya film ini di mata gw. Juga buka hal yang aneh mengapa hampir tidak ada nama karakter selain Michael dan Tuhan, itu semua karena gw hampir tidak ingat sama sekali sama semua pemainnya setelah menonton film ini satu jam yang lalu. Film-film di bulan januari memang bukan jaminan kualitas yang baik. Biasanya bulan Januari dipenuhi dengan film-film keluarga ringan, komedi romantis kacangan, dan action slengean. Terbukti dari betapa rendahnya mutu film dengan berbagai macam plot yang berantakan, bolong-bolong dan over the top ini.
Ceritanya sebenernya memberikan janji yang lumayan. Film action dengan malaikat-malaikat mengingatkan gw akan Constantine yang bagus dan memorable. Namun lama kelamaan film ini menjadi amat sangat “bleh” dan tidak penting. Hanya di 30 menit pertamanya gw merasa tertarik, lama-kelamaan seperti nonton sekuelnya resident evil yang terbaru. Tembak sana, tembak sini, teriak sana, mati disini. So exhausting dude! Satu scene yang impressive adalah saat ada seorang nenek-nenek berubah menjadi kerasukan dan merayap di atap. Selepas itu adegan-adegan seremnya bisa dibilang gak serem sama sekali. Ada seorang penjual ice cream yang kerasukan dengan dagu tauk-tauk jato kayak karet dan teriak-teriak gak jelas kayak di film the mask. WTH are supposed to be scary about that sh*t?
Dennis Quaid yang selalu kebagian di film-film mediocre, lagi-lagi kebagian di film mediocre. Aktingnya? Kalah sama Dwayne Johnson di Race to The Witch Mountain yang notabene mengerikan. Cast-cast lainnya yang gw inget cuma Kate Walsh yang kebagian peran seorang ibu rumah tangga yang suaminya mati digigit nenek-nenek yang gw sebut diatas. Biar gak sebagus-bagus itu, setidaknya dia terlihat berusaha berakting dibandingkan pemain-pemain lainnya yang sebegitu mudahnya dilupakan.

Bukan film yang gw rekomendasikan sama sekali. Kecuali anda suka film-film action dengan bumbu-bumbu mistis dan duel mutakhir bersama malaikat dengan sayap besi, gw bilang masih banyak film yang lebih bagus bagus di bioskop saat ini.

Verdict : 4/10

Friday, January 22, 2010

Case 39


- As Bland As It Could Get -

Emily Jenkins (Renee Zellweger) adalah seorang social worker dengan jadwal kerja yang padat dengan berbagai macam kasus kid abuse yang ia hadapi setiap harinya. Sang boss kerap memberikannya kasus demi kasus meskipun beberapa diantaranya belum selesai sama sekali. Kasus terakhirnya, yang ke-39, melibatkan seorang anak perempuan bernama Lilith (Jodelee Ferland) yang disiksa oleh sang ayah Edward (Callum Keith Reenie) dan si ibu Margaret (Kerry O’Malley). Emily yang merasakan bahwa kasus ini lebih runyam daripada biasanya, bersikeras untuk menyelidiki keadaan rumah Lilith yang janggal tersebut. Sampai suatu hari, Emily menyelamatkan Lilith sebelum ia dibunuh oleh ayah dan ibunya. Sang orangtua pun dimasukkan ke dalam rumah tahanan untuk kemudian diselidiki. Emilypun bersedia menampung Lilith sampai keluarga asuh yang cocok datang untuk menjemputnya. Namun berbagai macam kejadian aneh mulai timbul dan memakan berbagai korban jiwa. Seperti yang ibunya, Margaret bilang. “People dies around her. They just, die.”
Renee Zellweger adalah salah satu aktris favorit gw. Mulai dari Jerry Maguire, Nurse Betty, Chicago, Bridget Jones, hingga Miss Potter. Ia mampu bermain dengan prima dan charming, membuat gw ketagihan nonton film-filmnya. Genre horror bukanlah genre yang asing bagi Renee. Ia memulai karirnya dengan bermain di film Texas Chainsaw Massacre bersama dengan Matthew McConaughey. Namun akhir-akhir ini, ia mengalami degradasi dalam permainan aktingnya. Juga dalam berbagai proyek-proyek film yang ia ambil. Coba tengok New In Town yang “Mediocre at best” dan My One and Only yang mudah dilupakan semua orang. Hal ini kembali terbukti dalam film yang sangat-sangat standar ini. Sangat-sangat standar.
Cerita tentang anak kecil pembawa malapetaka bukanlah hal yang baru di genre horror. Mulai dari yang paling terkenal seperti Rosemary’s Baby hingga yang baru-baru ini muncul seperti Orphan. Entah mengapa, produser-produser di Hollywood sepertinya tertarik untuk menstimulan rasa takut yang dibawakan oleh bocah cilik bertampang innocent. Gadis cilik pembawa horror berikutnya disini dibawakan oleh Jodelle Ferland, yang juga bermain serupa sebelumnya di Silent Hill. Namun kemampuan aktingnya tidak terlalu terasa disini. Ia begitu robotic dan artificial. Hal yang sama juga dilakukan oleh Renee. Disini ia seperti tidak berusaha untuk berakting sama sekali. Performanya sangat tidak kerasa dan permainannya sangat tidak believeable. Transisinya dari seorang social worker yang berdedikasi ke seorang wanita yang ketakutan sangat tidak logis dan meyakinkan. Permainan yang lumayan diberikan oleh sang orang tua (Callum & Kerry) yang tampil sangat misterius dan disturbed. Bradley Cooper saat pembuatan film ini masih relatively unknown, sehingga porsi karakterknya tidak bisa dibilang banyak.
Film ini sangat setia pada tradisi film-film horror kontemporer, termasuk penggambilan gambar yang sok-sok creepy tapi sudah pernah dilakukan di berpuluh-puluh film horror lainnya, dan juga momen-momen mengejutkan yang begitu mudah ditebak. Yang patut disialkan juga adalah jeleknya efek yang digunakan. Meskipun film ini diproduksi pada tahun 2006, itu bukanlah alasan untuk menampilkan efek yang begitu cheap dan tidak mengerikan sama sekali. Iringan musiknya cukup mampu membangun atmosfer, namun bagi penggila film horror, hal ini tidak akan terlalu efektif karena momen-momen mengejutkannya sudah bisa ditebak kapan dan bagaimana keluarnya.
All and all, film ini gak bisa terlalu gw rekomendasiin karena terlalu banyak cacat yang terasa disana sini. Ada beberapa momen yang bisa bikin takut, namun eksekusinya sudah pernah dilakukan dengan lebih baik di beberapa film sebelumnya. Semoga saja Renee Zellweger akan lebih selektif dalam memilih proyek-proyek film berikutya karena film ini sangat-sangat standar.

Verdict : 5/10

Wednesday, December 23, 2009

Zombieland


- Watching Corpse Eating Human Never Been This Fun -

Columbus (Jesse Eisenberg) adalah mahasiswa biasa dengan kehidupan sosial yang menyedihkan. Pada weekend dia lebih memilih untuk bermain MMO daripada berhang-out bersama temannya. Hal ini berubah seketika saat tetangga perempuannya (Amber Heard) berusaha untuk memakannya hidup-hidup. Sebuah virus menyebar luas di dunia yang membuat otak manusia membengkak dan menghilangkan semua perasaan dalam diri manusia dan merubahnya menjadi rasa lapar yang bersifat kanibalisme. Columbus mampu bertahan dengan memegang aturan-aturan yang ia buat sendiri. Rule #1. Cardio . Rule#2 Double tap. Rule #3 Beware of bathrooms. Rule #4. Seatbelts dan seterusnya. Ia berusaha untuk menuju kota asalnya Columbus untuk bertemu dengan orang tuanya. Entah mereka hidup atau tidak.

Sepanjang perjalanannya ia bertemu dengan Talahasse (Woody Harrelson) seorang "zombie hunter" dan sepasang kakak beradik penipu ulung, Wichita (Emma Stone) dan Little Rock(Abigail Breslin). Mereka kemudian mengunjungi berbagai tempat dalam mencapai tujuan mereka masing-masing. Namun pada akhirnya, Columbus menaruh perasaan pada Wichita dan berusaha membantu mereka menuju Pacific Playland.

Film zombie selalu bercerita tentang satuh hal, usaha karakter-karakter didalamnya bertahan hidup dan mencari kehidupan yang lebih baik. Resep bapuk ini tetap dipakai di film ini, namun pembawaan dibawakan 180 derajat. Film-film zombie kerap berusaha sangat serius dan menegangkan dimana ceritanya sendiri tidak penting dan begitu kosong. Film zombie juga kerap menjadi film-film action kelas B dengan cerita kacangan dan akting yang pas-pasan. Zombieland membawakan cerita zombie ini menuju arah yang lebih komikal. Joke-joke yang pas membuat ceritanya menjadi unik dan seru untuk diikuti. Namun film ini tetap mampu mempertahankan ketegangan layaknya film zombie yang baik. Zombie di film ini mampu bergerak dengan cepat dan mengerikan. Efek-efek yang dipakai juga kelas top dan meyakinkan.

Akting para pemainnya (hanya 4) bisa dibilang believeable dan menarik. Semua bermain pas dan tidak dipaksakan. Cameo Bill Murray menjadi salah satu highlight terlucu sepanjang film ini. Film ini menjadi film zombie dengan perolehan box office terbanyak di amerika (75 juta) mengalahkan dawn of the dead dan resident evil, and it's not hard to see why.

Verdict : 7.5/10

Tuesday, December 22, 2009

The House of the Devil


- Throwback to 80's Style of Horror -

Samantha Hughes (Jocelin Donahue) adalah seorang mahasiswa putri biasa. Ia menginginkan sebuah apartemen satu kamar yang sudah ia inca-incar sejak dulu. Namun uangnya habis untuk biaya kehidupannya sehari-hari. Ia membutuhkan setidaknya 100 dollar untuk membayar down payment apartemen itu. Suatu hari ia tertarik dengan permintaan babysitter yang dipasang di papan pengumuman kampusnya. Karena tidak ada jalur keluar yang lain ia menerima pekerjaan itu. Bersama temannya Megan, ia berangkat menuju rumah pemanggilnya tersebut. Rumah itu terletak di pedalaman hutan yang sangat gelap. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa ia tidak ditugasi menjaga bayi, melainkan nenek dari sepasang suami istri yang tidak pernah keluar kamar. Megan sudah mati-matian melarangnya, namun imbalan yang terus dinaikkan hingga 400 dollar membuat Samantha tidak bisa melepaskan pekerjaan itu begitu saja. Ia pun menerima pekerjaan itu dan menunggui nenek tersebut selama malam gerhana bulan yang jarang terjadi itu.

Awal menonton film ini, gw sempet bingung. "Ini film diproduksi tahun 80-an beneran atau gimana sih." Rupanya Ti West, director writter dan editor film ini sendiri, sengaja menggunakan teknik perfilman yang digunakan di tahun 80-an itu. Score yang jadul mampus, gambar yang rada-rada buram dan selera kostum yang hanya dipakai oleh orang tua kita, diterapkan secara menyeluruh di film ini. Begitu pula dengan pembawaan ceritanya. Tension dibangun dengan perlahan. Jarang terjadi adegan-adegan "Peek-A-Boo" seperti yang ditemukan di film-film horror standar akhir-akhir ini. Awalnya ceritanya memang mebosankan, jujur jarang-jarang gw menguap saat menonton film horor, namun pas pertengahan cerita, gw jadi penasaran abis ama perkembangan ceritanya sendiri. Klimaksnya juga dibangun dengan sempurna dan menegangkan.

Jocelin Donahue bermain sangat baik dalam debut film pertamanya. Begitu juga dengan para cast-cast yang lain. Terutama Tom Noonan dan Mary Wononov yang berperan sebagai pasangan suami istri tua bangka yang misterius. Menonton film ini perlu kesabaran besar, namu pada akhirnya aka terbalaskan dengan sangat baik. This is one kind of a horror movie guys!

Verdict : 8/10