Showing posts with label thriller. Show all posts
Showing posts with label thriller. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

July Movie Kaleidoscope

Hello blog! Whew it has been ages since i post in here. I'm quite sorry for abandoning you but my personal and professional life has been quite a blast this past months. I got lots of job opportunity, had to take care for upcoming art event on my campus, and on top of that i finally launched my own clothing line. But that doesn't mean my passion for movie has gone. I'm kinda in a phase where i enjoy streaming anime weekly, and some several tv series rather than watching in the cinema. I reallyrecommend you guys check out this three anime No.6, Mawaru Penquindrum, and Dantalian no Shoka. They've got awesome animation, engaging story, and honestly, none of that silly japanese antics.

Back to movie, i only managed to watch 3 movies in the month of july 2011. Well, that's quite sad, but I guess I can't help but weep whenever I see the list of pictures that are showing each week. Anyway, i'll review those three in one post I called "kaleidoscope". On the side note, do pardon my attempt on writing in english, I'm not that good at it *chuckle*.
Insidious
Watched on July the 3rd at Anggrek XXI
Film Review : 8/10 (This movie was freaking awesome! The atmosphere was very chilling, and it build the tension very smoothly without any feeling of being rushed. The actors were believeable and sympathetic, and for once the characters aren't silly horror caricature. It was kind of a let down the film go downhill after the first hour for shifting to another character so suddenly and put a deus ex machina that is quite predictable. But overall this is a very nice horror flick, and the first one that actually make me shriek in a theater.....for three times)
Catatan Harian si Boy
Watched on 12th of July at Pondok Indah 1 XXI
Film Review : 8.5/10 (This is a very, very fresh Indonesian Movie. The dialogue was very gripping, clever, funny and touching at the same time. The writers actually managed to give a depth at every character. While only few of them work and become more than two dimensional character, the attempt are worth applauding considering some Indonesian movie actually relies on their characters antics rather than giving them some character development. The action scenes are not over the top and believeable, the story was cleverly interwoven and the movie itself was very enjoyable. It put a benchmark on how a good enjoyable movie can be made without involving half baked nudity, silly looking ghost, or melodramatic weepy teenage romance. It creates a new genre, which hopefully follows with a lot of movie that tries to live up to the quality this movie presented.)
Larry Crowne
Watched on the 23rd of July at La Piazza XXI
Film Review : 5/10 (Well that was a disappointment. I was hoping for a heartwarming romantic movie featuring simpathetic face and extraordinary sexy lip. What i got was a movie that tries to be heartwarming by simplifying things to the point of unrealistic, making every side-characters the "wise-man" by giving the protagonist a very preachy, wise way of life people can seek on the internet, and a romance build up by one kiss and no chemistry at all. Seriously, this movie is bad. I only get a few chuckle by the guy who looks like Bruno Mars and nothing else. Flat, boring, and forgettable.)

Thursday, June 2, 2011

Movie: Scream 4

- Just Migrate From Woodsboro Will Ya? -
Cukup mengejutkan proyek ini pada akhirnya mendapatkan lampu hijau dari para studio besar di Hollywood. Jarang film beranak pinak menjadi lebih dari 3 seri, terlebih genre horror. Semakin mengejutkan lagi, sebuah film horor seri keempat yang lolos masuk ke layar lebar dan tidak hanya untuk konsumsi dvd biasa. Padahal tidak ada dukungan dari aktor yang kuat, kecuali beberapa nama yang cukup terkenal sebagai bintang televisi, tapi tidak ada satupun nama aktor disini yang memiliki kredibilitas kuat sebagai bintang Hollywood. Lalu apa yang membuat film ini dianggap special dan mampu mengangkat nama seri "Scream" sekali lagi?
Sidney Prescott akhirnya harus kembali berhadapan dengan masa lalunya setelah ia menerbitkan buku untuk menandakan suksesnya ia melepaskan diri sebagai seorang korban. Kehidupan woodsboro yang semulanya tenang-tenang saja kembali kedatangan terror pembunuhan berantai bersamaan dengan momen kedatangan Sidney ke kota tersebut. Sebutan pembawa kematian sepertinya cocok disematkan kepadanya setelah satu persatu orang yang berada di dekatnya meninggal secara mengenaskan. Mampukah ia, bersama Dewey dan Gale menghentikan rangkaian pembunuhan ini sebelum terlambat
Seri Scream memiliki kekuatannya sendiri dalam menghadirkan rasa deg-degan luar biasa ketika penonton harus menonton bagaimana satu persatu karakter tewas mengenaskan. Hal ini cukup efektif di dua film pertama dimana thrill yang dihadirkan masih fresh. Demam Scream juga semakin mewabah di Indonesia setelah pemutaran kedua film tersebut di salah satu stasiun tv swasta. Film ketiganya mulai kehilangan amunisi tingkat keseraman karena banyaknya jumlah orang yang meninggal rupanya tidak urung malah menurunkan tensi film itu sendiri. Bagaimana dengan film keempat ini? Scream 4, ibarat sebuah mobil, berhasil membuang semua amunisi kesegaran yang dulu sempat dimiliki seri tersebut. Film ini tidak lagi mengandalkan kekuatan "deg-degan" yang akan diperoleh penonton, melainkan suara-suara seru yang membuat penonton kaget sesaat. Tidak ada yang benar-benar mengagetkan, atau bahkan membuat kita ketakutan di kursi penonton
Sesuai dengan tradisi seri-seri sebelumnya, seri ini berusaha menjadi "lebih pintar" dengan mengolok-olok kebiasaan bodoh yang dilakukan orang-orang di dalam sebuah film horror. Tapi lucunya, yang mengolok pun tidak pernah menunjukkan kepintaran mereka yang seharusnya sudah mengerti segalanya. Ketololan demi ketololan tetap mereka lakukan dan kali ini justru semakin parah. Karakter yang baru tidak memiliki karakterisasi yang kuat dan karakter-karakter yang lama bermain benar-benar seadanya. Yang benar-benar menggelikan adalah bagaimana polisi-polisi di kota tersebut amat sangat tidak dapat diandalkan dan bagaikan boneka yang menunggu orang-orang berikutnya meninggal. Kalau saya tinggal di kota itu, dalam hitungan detik saya akan bermigrasi. Tidak ada yang impresif sama sekali. Twist yang dihadirkan? Meskipun cukup mengejutkan, terkesan sangat maksa dan tidak logis. Tanpa adanya naskah yang fresh, akting yang meyakinkan, atau pembunuhan yang menegangkan, film ini gagal di semua sisi dan dengan sukses menjerumuskan seri "Scream" ke lembah film dengan sekuel sekuel murahan. Hanya adegan openingnya saja yang lumayan original, sayang tidak direalisasikan menjadi sebuah film.

Verdict: 5.5/10

Saturday, February 19, 2011

Oscar Watch List : Inception

- Twist, Fist, and Heist -
SPOILER ALERT! Inception adalah salah satu film blockbuster langka yang berhasil sukses secara komersial namun juga 'intriguing' secara kualitas cerita dan eksekusi. Inception berhasil mengumpulkan lebih dari 800 juta US$ di seluruh dunia, melampaui budget utamanya yang berkisar antara 200 juta US$. Hampir semua kritikus setuju, bahwa film ini membuktikan kualitas Christopher Nolan sebagai penulis naskah, sekaligus director film yang berkualitas yang mampu merangkai film yang layak disantap publik tanpa mengolok-ngolok kemampuan intelejen mereka. Menonton film ini, persiapkanlah diri anda untuk memutar otak secepat mungkin karena meskipun durasinya melebihi dua jam, alur film ini lumayan cepat dengan twist yang kerap berdatangan. Bersama dengan 7 nominasi lainnya, Inception adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Domm Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah seorang pencuri ulung. Ia mencuri berbagai macam informasi rahasia dan berbahaya dengan cara memasuki mimpi bawah sadar targetnya. Bersama rekan setianya, Arthtur (Joseph Gordon-Levitt) ia diburu oleh berbagai macam pihak akibat pekerjaannya yang riskan itu. Hal itu pula yang membuatnya harus kehilangan kesempatan untuk bertemu kedua anaknya, Thomas dan Philippa. Suatu hari, dengan janji akan memberikannya kesempatan bebas untuk bertemu dengan kedua anaknya, Mr. Saito (Ken Watanabe) menginginkan Cobb melakukan misi yang berlawanan dengan pekerjaannya. Bukannya mengambil, ia ingin Cobb menanamkan sebuah ide dalam lawan bisnisnya, Robert Fischer (Cillian Murphy). Ia pun mulai membangun timnya. Ariadne (Ellen Page) berperan sebagai si arsitek yang membangun dunia mimpi yang akan mereka tuju. Eames (Tom Hardy) menggunakan keahliannya untuk meniru penampilan orang lain untuk memanipulasi dan menipu target dan Yusuf (Dileep Rao), seorang chemist yang memberikan supportnya dengan memberikan cairan sedatif yang berguna agar mereka bisa menjelajahi dunia mimpi semakin dalam. Misi yang tidak simpel ini semakin dipersulit tatkala kesehatan pikiran Cobb dipertanyakan akibat gangguan mental yang mempengaruhi pekerjaannya. Sering kali, bayangan sang mantan istri Mal (Marrion Cottilard) menghantui mimpi sekaligus pekerjaannya, menghalang-halanginya dan membuat misinya semakin sulit.
Inception menjadi salah satu film bergenre action yang berhasil mendapatkan nominasi untuk oscar. Meskipun ada bumbu-bumbu thriller dan science fiction disan-sini, film ini adalah film blockbuster at heart yang sukses diluluskan para juri untuk mendapatkan nominasi best picture. Seperti yang sudah saya bahas di review sebelumnya yang juga cukup lengkap dan komprehensif http://lenouvellededave.blogspot.com/2010/07/inception.html , Inception adalah sebuah film yang seru dan lengkap. Film yang dazzling dan menakjubkan dalam scenery dan image-image yang memanjakan mata, sekaligus memicu para penonton untuk memfokuskan perhatian penuhnya pada layar di sepanjang film. Endingnya yang bitterweet dan shocking, dimana pada akhirnya Domm masih terperangkap di mimpinya, memberikan open ending yang cukup menggantung terutama pada nasib rekan-rekanya. Bukan mustahil sebuah sekuel bisa datang, meskipun agak diragukan jika tidak dianggap benar-benar perlu oleh Nolan. Tidak ada bagian yang tidak penting, tidak signifikan atau dapat dilewatkan begitu saja. Semua detik film ini dipergunakan dengan efisien dan efektif. Sebuah masterpiece yang sayang untuk dilewatkan. Lengkap dalam segi naskah, unggul dalam editing, mantap dalam segi efek dan apik dalam segi akting, Inception adalah salah satu unggulan lain selain The Social Network dan The King's Speech untuk memenangi oscar tahun ini. Meskipun cukup disangsikan, everything can happen in Oscar night :D.

Verdict : 9.3 / 10

Sunday, February 6, 2011

Oscar Watch List : Winter's Bone

- The Bone Was Hidden Deep Inside -
SPOILER ALERT! Winter's Bone adalah sebuah film kecil berbudget 2 Juta US$ yang berjaya dalam Sundance Film Festival kemarin. Berhasil memenangkan Grand Jury Prize: Dramatic Film, Winter's Bone menjadi salah satu film berkualitas di tahun 2010 ini. Perjuangan seorang gadis muda mendukung keluarganya yang berantakan dalam latar belakang suasana daerah miskin di Ozarks yang bergelut dengan masalah narkoba Meth terbukti mampu menarik minat para penonton dan kritikus. Winter's Bone juga berjaya di Berlin Film Festival dan Stockholm Film Festival terlebih karena ceritanya yang down to earth, realistis, dan disokong oleh performa menawan dari Jennifer Lawrence. Adiksi pada narkoba dan pengaruhnya bagi orang-orang yang terlibat bukanlah materi baru bagi Debra Granik yang memulai debutnya 6 tahun lalu dengan film Down to The Bone. Beserta 3 nominasi lainnya, termasuk Best Actress untuk Jennifer Lawrence, Winter's Bone adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Ree Dolly (Jennifer Lawrence) harus menggantikan peran sang ayah dan sang ibu sekaligus di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Sang ayah menghilang berminggu-minggu setelah sebelumnya terjerat dalam kasus narkoba dan sanb ibu mengalami gangguan mental akibat dikecewakan oleh suaminya berkali-kali. Dengan tidak bertanggung jawab, ayahnya memasang rumahnya sebagai jaminan atas dirinya jika ia tidak muncul di tanggal pengadilan terakhirnya, yang mengancam hidup Ree, beserta kedua adik dan ibunya. Reepun berkutat mencari ayahnya untuk membawanya hadir di sidang pengadilan terakhirnya demi keberlangsungan keluarganya, namun misteri hilangnya si ayah rupanya tidak sesimpel yang ia pikir. Tidak ada yang bersedia membantu Ree di kotanya, mereka semua memilih untuk diam dan berusaha mencegah Ree mengorek-ngorek informasi lebih dalam misteri hilangnya sang ayah. Dimanakah keberadan ayahnya sebenarnya? Berhasilkah ia menyelamatkan keluarganya dan menemukan kembali sang ayah yang tidak bertanggung jawab?
Winter's Bone adalah sebuah film kecil yang dibuat minimalis dengan budget seadanya. Keterbatasan dana tersebut terpaksa membatasi kemampuan si director dalam menghadirkan adegan-adegan yang besar dan pengambilan-pengambilan gambar yang kompleks. Meski begitu Debra Granik berhasil menggunakan semua keterbatasan yang ia miliki dengan mengemas sebuah film yang realistis, down to earth , dan justru lebih efektif karena tidak berlebihan dan dapat dipercaya. Suasana musim dingin, latar di hutan dan daerah terpencil yang usang, miskin dan jarang dihuni orang-orang berhasil mengangkat kemisteriusan hilangnya ayahnya Ree. Naskahnya sendiri berjalan dengan linear tanpa ada sub plot yang menganggu dan tidak penting. Meski begitu, kisah perjuangan Ree yang harus bergelut dengan masalah ekonomi dan berbagai alteratif pilihan seperti masuk ke tentara atau menyerahkan kedua adiknya untuk diadopsi oleh tetangganya dihandle dengan indah oleh Debra. Tidak ada kesan drama yang dibuat-buat dan "lebay". Semuanya subtle, tenang namun juga mencekam dan haunting. Jennifer Lawrence menampilkan salah satu permainan terbaik tahun ini dengan menjadi Ree yang berdeterminasi, mandiri dan tangguh. Di balik determinasinya dalam berusaha menjaga keluarganya tetap utuh, ia adalah sebuah remaja berusia 17 tahun yang juga ingin hidup normal dan bahagia. Namun atas nama keluarganya, ia sudah melupakan impian itu dan hidup dalam dunia yang keras dan membenci ayahnya yang mencampakkan keluarganya begitu saja. Namun sebetapa bencinya ia pada ayah yang membawanya ke dunia ini, ia masih tidak dapat melihat ayahnya mati begitu saja. Scene-sceme terakhir dimana ia harus memotong tangan ayahnya yang sudah tenggelam amat sangat haunting, heartbreaking dan memorable. Jennifer Lawrence bermain tidak kalah apik dengan Natalie Portman. John Hawkes juga mencuri perhatian dengan perannya sebagai paman Ree yang menggantikan peran ayahnya melindungi Ree dari orang-orang yang menentang usaha pencariannya. Supporting cast yang lain bermain efektif. Yang membuat film ini semakin memikat adalah kenyataan bahwa semua pemainnya berpakaian apa adanya. Benar-benar realistis dan membuat film ini semakin subtle dan emosional. Mereka adalah orang-orang biasa yang tidak ingin hidup mereka terganggu oleh sebuah rahasia kecil yang berpotensi dibuka. Rahasia demi rahasia terpaksa harus terbuka atas rasa simpati pada Ree yang tidak pernah habis akan determinasi. Karena sekelam apapun rahasia yang orang simpan, ikatan keluarga tetap berarti sesuatu dan kuatnya ikatan darah antara saudara dekat dan jauh ditampilkan dengan amazing di film ini.

Verdict : 8.9/10

Friday, February 4, 2011

Oscar Watch List : True Grit

- Revenge in Wild West Style -
SPOILER ALERT! True Grit menjadi sebuah kesuksesan yang amat sangat di luar dugaan. Film western biasanya kesulitan mencapai kesuksesan secara finansial, terlebih lagi di bulan desember yang notabene dipenuhi film-film keluarga yang meriah, berwarna-warni dan family friendly. Diangkat dari novel berjudul sama yang dirilis pada tahun 1968, True Grit berhasil mematahkan semua keraguan dengan berhasil mengumpulkan lebih dari 150 juta US$ dan mengalahkan Little Fockers yang dibuka pada minggu yang sama. Film terakhir dari Coen Brothers yang juga diproduseri oleh Steven Spielberg ini berhasil menjadi sebuah surprise hit di penghujung tahun 2010 yang mengalami berbagai kekecewaan finansial. Dari segi kualitas film ini juga berhasil memperoleh 10 nominasi oscar termasuk Best Actor untuk Jeff Bridges dan Best Supporting Actress untuk Hailee Steinfeld. Bersama dengan 9 nominasi lainnya, The Fighter adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti
Mattie Ross (Hailee Steinfeld) berusia 14 tahun saat ayahnya ditembak rekanannya sendiri Tom Chaney (Josh Broslin) yang juga mencuri kudanya dan dua keping emas California milik sang ayah. Saat dalam perjalanan mengambil jasad ayahanda, Mattie pun berjanji untuk membunuh Tom Chaney untuk membalaskan kematian ayahnya. Untuk misi balas dendam tersebut iapun menyewa Rooster Cogburn (Jeff Bridges) untuk membantunya. Seorang Deputy U.S. Marshall, Cogburn pada awalnya menolak tawaran Mattie pada akhirnya mau membantunya. Mereka juga dibantu oleh LaBoeuf (Matt Damon) seorang Texas Ranger yang juga ingin memburu Tom Chaney karena ingin mengumpulkan uang bayaran jika berhasil menangkapnya. Meskipun bertolak belakang dengan keinginan Mattie yang ingin membunuhnya saat itu juga, Mattie akhirnya bersedia menerima bantuannya terlebih karena Tom Chaney yang dibantu oleh 4 orang kriminal lainnya merupakan lawan yang jauh lebih kuat bagi mereka berdua.
Sebuah film western, konon katanya, hanya akan dapat dinikmati sepenuhnya oleh orang Amerika. Budaya koboi, kuda, indian, pistol dan saloon bar terasa amat sangat asing bagi publik di luar negeri paman sam. Teori itu terbukti melalui film True Grit. Cerita dari film ini sendiri berjalan linear dan tidak diganggu oleh sub-plot atau plot twist yang merusak alur filmnya sendiri. Namun entah kenapa, tidak ada kesan thrilling yang didapat dari menonton film yang katanya bergenre thriller ini. Terlebih lagi alunan musiknya yang lebih cocok di sebuah film dramedy religi dan tidak ada kesan adventure sama sekali. Maafkan saya jika salah, meskipun begitu ini adalah film western pertama yang benar-benar saya tonton habis, tapi kok saya merasa underwhelmed banget ya? Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri kualitas produksi dari film ini amat sangat patut diacungi jempol. Suasana western yang diberikan amat sangat meyakinkan karena set yang dibangun amat sangat efektif dalam membantu lajunya cerita itu sendiri. Pengambilan gambarnya juga artistik dengan set latar belakang yang breath taking dan menarik perhatian. Permainan dari para pemainnya juga tidak dapat dilewatkan begitu saja. Hailee Stanfield yang mendapatkan nominasi best supporting actress, berakting sangat ciamik dan menawan. Ia memiliki presence tersendiri yang sangat kuat, bahkan Jeff Bridgespun kadang tertutupi oleh karismanya. Mattie yang memiliki determinasi kuat, tangguh dan mandiri dimainkan dengan penuh percaya diri dan kedalaman emosional yang tinggi. Cukup disayangkan ia tidak dinominasikan untuk Best Actress karena dialah bintang utama dari film ini. Ia mampu membawa film berdurasi hampir 2 jam ini tanpa kewalahan harus bersanding dengan berbagai aktor kawakan lainnya. Jeff Bridges sebagai Cogburn juga tidak mengecewakan. Selepas Crazy Heart, ia menjadi nama yang patut diperhitungkan dalam Hollywood terlebih lagi setelah kesuksesan finansial film ini dan Tron: Legacy. Matt Damon bermain cukup baik, meskipun tidak sebagus kedua nama diatas. Josh Broslin tampil singkat dan hanya terkesan menyumbangkan nama yang cukup dikenal publik untuk mempopulerkan film ini. All in all, film ini bukanlah sebuah film yang buruk. Meski begitu, sebuah nominasi untuk Best Picture terkesan berlebihan dan patut dipertanyakan apalagi melihat kenyataan bahwa film ini bahkan tidak memperoleh satu nominasipun di ajang Golden Globe kemarin. Is it me who just can't get a western movie or the academy is overpraising this golden child of theirs?

Verdict : 8.0/10

Monday, January 31, 2011

Oscar Watch List : Black Swan

- Let the Swan Dance Beautifully, Mister -
SPOILER ALERT! Black Swan adalah salah satu film "breakout" yang cukup sukses di tahun 2010 yang penuh dengan kekecewaan box office. Tanpa diduga banyak orang, permainan apik Natalie Portman mampu mengangkat nama film ini menjadikannya sebuah kesuksesan secara finansial yang jarang didapatkan film bergenre sama. Film yang tidak takut menampilkan berbagai adegan erotis ini juga mendapatkan sambutan meriah dari para kritikus dan publik akibat kualitas filmnya sendiri yang jauh diatas rata-rata. Sebuah psychological thriller yang dibalut dengan indahnya gerakan tarian balet yang gemulai dan menawan. Black Swan adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Black Swan berkisah tentang kehidupan Nina Sayers, seorang penari balet yang sedari kecil sudah dipersiapkan ibunya untuk menjadi balerina sejati. Sang ibu yang berhenti menari karena hamil akan dirinya, menjadi sangat protektif da obsesif terhadap Nina yang tidak pernah ia biarkan lepas. Hal ini membentuk kepribadian Nina menjadi seorang perempuan yang perfeksionis,namun naif dan innocent. Thomas, salah satu orang paling berpengaruh di companynya mengumumkan rencananya mengadakan produksi "Swan Lake" yang lain dari pada yang lain dimana si Swan Queen harus memerankan "The White Swan" dan "The Black Swan" secara bersamaan. Ia memilih Nina untuk menggantikan Beth, Swan Queen sebelumnya yang sudah harus pensiun. Nina yang pure dan naif mampu memainkan karakter White Swan dengan baik, namun mampukah ia memainkan Black Swan yang seduktif, seksi, dan berbahaya?
Kisah perubahan dalam diri Nina akibat obsesinya memainkan Black Swan dengan baik dipadukan dengan berbagai aspek psikologis dalam diri Nina yang destruktif. Sedikit membingungkan memang membayangkan bisa tumbuhnya sayap dari luka garukan di punggungya, namun itu semua tidak lebih dari sebuah imajinasi Nina yang "twisted" dan "distrubing". Banyak sekali adegan yang mengejutkan dan menganggu sepanjang film ini yang semakin intense dengan mulai hilangnya kesadaran Nina akan apa yang benar dan apa yang salah. Satu yang sedikit disayangkan adalah sedikitnya penjelasan mengenai keadaan psikologis tersebut kecuali karena sifat ibunya yang posesif dan mengekang. Permainan apik dari Natalie Portman tidak sia-sia, terutama melihat dedikasinya berlatih balet selama berbulan-bulan. Perubahan sifatnya dari si gadis naif menjadi gadis yang cemburu, seksual dan destruktif dibuat sangat meyakinkan dan gripping. Begitu pula Mila Kunis yang tampil seksi dan seductive dan Vincent Cassel yang arogan dan ber-ego tinggi. Film ini semakin unggul lagi akibat tingginya nilai teknis yang diberikan. Pengambilan gambar yang indah, alunan musik klasik yang menarik penonton dan produksi balet yang profesional dan mencengangkan. Meskipun begitu, film ini, menurut saya, tidak cukup kuat untuk memenangkan oscar terutama akibat twistnya yang sedikit "let-down" dan tidak seintense build-upnya.

Verdict : 8.9 / 10

Sunday, January 30, 2011

The Mechanic

- Hitman With A Golden Heart -
Arthur Bishop (Jason Statham) adalah seorang pembunuh bayaran profesional yang memiliki kode etik kerjanya sendiri. Ia hidup menyendiri dan hanya berteman dekat dengan Harry McKenna (Donald Sutherland) mentornya dulu. Suatu hari, atas tuduhan mengkhianati organisasinya, Arthur ditugasi membunuh Harry dan memalsukannya menjadi sebuah pencurian mobil. Rasa iba dan bersalah membawa Arthur bertemu dengan Steve (Ben Foster) anak dari Harry yang tidak mempunyai masa depan jelas. Merasa berhutang budi pada Harry, ia mengangkat Steve menjadi partner sekaligus muridnya, menjadikannya seorang mentor bagi anak orang yang dibunuhnya.
Remake dari film tahun 1972 yang berjudul sama, The Mechanic membuka tahun 2011 dengan adegan aksi yang tidak tanggung-tanggung dan penuh dengan darah. 90 menit kita disajikan sebuah suguhan penuh adegan adu tinju yang seru dan asik, trik-trik menyelundup yang menegangkan dan misi-misi berbahaya yang tidak kalah seru. Meskipun begitu, tidak ada hal yang benar-benar baru yang disuguhkan oleh film ini. Semua mengalir lancar tanpa plot-hole yang berarti, namun begitu lancarnya sampai audience tidak akan mengingat film ini selama itu karena dijamin film ini juga akan lancar meluncur melalu ingatan kita. Tidak ada segi originalitas yang layak diacungi jempol. Meskipun tidak original, apa yang disajikan juga bukanlah barang buruk sehingga menghina film ini jelas sekali salah.
Jason Statham berada di comfort zonenya dengan memainkan karakter yang tidak bisa dibilang berbeda dengan yang ada di the transporter/expandables/crank/death race. Kesan "tough guy" yang ia miliki sudah terpatenkan dengan amat sangat paten. Meskipun begitu, bosan lamanya melihat dia tampak begitu serius dan tidak pernah have fun sebagai pembunuh/penyelamat/pengendara/pencuri bayaran. Sekalinya ia tersenyum, itu bagaikan sebuah penemuan langka yang mengejutkan. Ben Foster bermain cukup baik dengan membuktikan bahwa ia sanggup bersanding bahkan melampaui Jason Statham. Sisa dari castnya bermain cukup baik melihat batasan peran yang mereka dapat. Adegan aksi yang disuguhkan dieksekusi dengan apik, seru dan menegangkan, namun tidak ada nilai "special" yang dimiliki film ini untuk membuat film ini bisa diingat dua/tiga tahun ke depan. What it does, it does very well though not inspiring nor original.

Verdict : 7/10

Monday, December 6, 2010

The Walking Dead

- Zombiecalypse -
Rick adalah seorang sherif yang hidup bahagia bersama istrinya Lori dan anak laki-lakinya Carl. Bersama partnernya Shane, ia menjaga keamanan dan ketertiban di King County, Georgia setiap harinya. Setelah suatu insiden penembakan yang menyebabkannya koma untuk beberapa saat, Rick terbangun sendiri di sebuah ruangan ICU yang terbengkalai untuk cukup lama. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah sakit itu kecuali kondisi yang berantakan da darah yang menetes dimana-mana. Tidak perlu waktu lama untuk Rick menyadari kondisi yang terjadi. Sebuah malapetaka telah terjadi dan mereka yang sudah meninggal mulai berjalan kembali dan memangsa mereka yang masih bisa bernafas. Bertekad mencari istri dan anaknya yang sudah meninggalkan rumah mereka, Rick berkelana ke kota mempertaruhkan hidupnya melawan "walkers" yang tidak pernah ada habisnya.
Diangkat dari serial komik yang terkenal di Amerika sana, Frank Darabont (The Mist, The Green Mile) mengangkatnya menjadi sebuah serial televisi berjumlah 6 episode. Setelah mendapatkan resepsi yang sangat baik dari para kritikus dan khalayak publik, The Walking Dead telah memulai produksi musim keduanya yang berjumlah 13 episode. Meskipun tidak memiliki core cerita yang benar-benar original, serial ini berhasil meyakinkan khalayak publik bahwa sebuah film zombie masih bisa menyeramkan bahkan tanpa mutasi makhluk yang sedemikian absurd sekalipun.
Resep membangun kengerian yang tiada henti adalah dengan membuat kita merasakan sebuah koneksi dengan para karakter di film ini yang membuat kita menggertakkan gigi saat mereka berada di sebuah keadaan genting. Film ini berhasil melakuka tugasnya di kedua poin tersebut. Memberikan kita back story yang kuat dengan pergelutan moral yang realistik dan menarik minat penonton, juga memberikan adegan-adegan mencekam tiada henti yang diproduksi dengan kualitas tinggi dan tidak murahan. Permainan para aktornya melampaui kapasitas aktor di sebuah film zombie kebanyakan karena pembawaan karakter yang realistis dan memorable. Amarah, ketakutan, kehilangan, cemburu, semua terbawa dengan baik dan realistik.
Special efek dari serial ini juga bisa dibilang top-notch dan tidak cheesy. Bahkan bisa dibilang tidak kalah dengan kualitas make-up dan efek dari film-film zombie big budget seperti resident evil dan dawn of the dead. Ide awal yang cukup diragukan karena temanya yang mengenai zombie, diluluh lantahkan sudah dengan eksekusi yang indah dan lain daripada yang lain. Pengambilan gambar yang sensasional, komposisi musik yang pas, dan permainan para pemainnya yang ciamik membuat serial ini lain daripada yang lain. One of the best zombie themed cinematical experience i ever had.

Verdict: 8.5/10

Saturday, November 13, 2010

Skyline

- Mediocre Line -
Jarrod (Eric Balfour) adalah seorang artist berbakat. Ditemani oleh pacarnya Elaine (Scottie Thompson) ia berkunjung ke apartemen sahabatnya, Terry (Donald Faison) yang sekarang menjadi special effect artist sukses. Setelah mendapat tawaran bekerja di perusahaan Terry, Jarrod dam Elaine menginap di penthouse mewahnya. Malam yang bahagia itupun berubah seketika saat berpuluh-puluh cahaya kebiru-biruan mendarat di Los Angeles. Cahaya-cahaya itu bergejolak dan menyinari sepenuh kota dengan sinar kebiru-biruan yang memabukkan. Orang-orang awam yang melihat cahaya itu perlahan-lahan tertarik dan terhisap ke dalam sebuah kapal alien besar yang menjadi asal muasal dari cahay-cahaya biru itu. Dapatkah Jarrod bertahan hidup bersama Elaine yang baru saja mengetahui bahwa ia sedang hamil?
Dari trailernya yang dibuat dengan sebegitu generiknya, gw udah lumayan yakin film ini akan menjadi your tipical B- monster movie. Rupanya? Film ini berhasil menjadi your tipical B- monster movie dengan twist yang menjatuhkan derajat film ini semakin jauh ke bawah. Sejujurnya film ini mengambil beberapa langkah yang tepat untuk membuat sebuah film "alien invasion" yang cukup fresh dan menegangkan. Adegan kejar-kejaran di satu jam pertama cukup membuat saya "concerned" dan deg-degan. Pilihan pembuat film ini untuk tidak menjelaskan apa yang membawa alien itu datang, untuk memfokuskan film ke perjuangan para survivor untuk bertahan hidup juga patut diacungkan jempol. Namun selepas pertengahan film, director dari film ini JELAS kebingungan bagaimana menyelesaikan film ini dengan bagus. It was clear, there's no sweet and happy way out. But they decided to take the unthinkable way to worsen this movie more with THAT spectacular ending.
Plot holes bertebaran disana-sini, bagaimana ceritanya malam menjadi pagi dalam hitungan orang menaiki tangga, mobil yang masih melaju di saat alien turun, dan banyak hal lain ikut melukai film ini secara keseluruhan. Akting para pemainnya juga tidak ada yang mengesankan. Pilihan untuk menggunakan aktor-aktor televisi untuk memfokuskan budget pada special effect juga bisa sedikit dipertanyakan menghitung betapa genericnya efek-efek yang ada. Tingkat originalitas film ini menjadi semakin kering setelah bentuk fisik monster itu semakin jelas. Tidak banyak set yang dipakai kecuali kamar penthouse terry, atap, kamar penthouse terry, lobi dan cuplikan cuplikan skyline dari Los Angeles yang diinvasi oleh berbagai macam kapal alien ikut membuat film ini menjadi semakin membosankan.
Lalu apa yang bisa menyelamatkan anda dari keburukan film ini?? Pertama, jangan berharap terlalu banyak dari film ini dan nikmati saja adegan-adegan cukup seru yang setara dengan serial televisi science fiction selama satu jam setengah ini. Kedua, lupakan 10 menit adegan terakhir, dan kalau bisa tinggalkan bioskop setelah satu adegan khusus yang berakhir dengan layar bersinar putih. Ketiga? Scottie Thompson yang masih tampil cantik meski lari-larian ketakutan.

Verdict : 4.5/10

Monday, September 6, 2010

Rubicon

- Conspiration and Crosswords -
Will Travers (James Badge Dale) bekerja sebagai seorang analis intel di perusahaan riset besar bernama American Policy Institute. Suatu haru, tanpa ia sadari, ia menemukan sebuah pola dari teka-teki silang yang dia kerjakan di koran. Pola ini tidak digubris oleh rekan-rekannya, namun menarik perhatian supervisornya di American Policy Institute, Kale Ingram (Arliss Howard). Tidak lama setelah itu, sebuah kejadian naas menimpa mertua sekaligus mentor dari Will, David, yang meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta api. Hal-hal janggal yang menyelubungi kematiannya membuat Will percaya bahwa sang mertua dibunuh akibat terlibat sebuah konspirasi besar. Bersama timnya, Miles, Grant dan Tanya, Will harus memimpin sebuah penyelidikan yang bisa membuka sebuah konspirasi besar yang sedang terjadi.
Rubicon adalah sebuah serial televisi baru keluaran dari AMC, perusahaan sama yang menelurkan Mad Men. Tanpa diisi oleh cast ternama (kecuali Miranda Richardson yang tampil singkat di awal namun menjadi semakin signifikan ke belakangnya) serial ini menjadi semakin efektif karena membuat orang menjadi semakin fokus ke ceritanya, bukan ke pemainnya. Ceritanya sendiri lumayan asik buat diikuti. Misteri pembunuhan, konspirasi, dan pola tersembunyi di teka teki silang lumayan membuat penasaran dan deg-degan.
Permainan para castnya efektif, meskipun tidak ada yang benar-benar menonjol. James Badge Dale (yag mirip sekali dengan Matthew Morrison) bermain cukup baik sebagai si duda muda yang menarik diri dari banyak orang akibat tragedinya di masa lampau. Cast yang juga ikut menonjol adalah Jessica Collins yang berperan sebagai Maggie. Sebagai eye candy utama di serial ini, ia bermain pas dan tidak kalah stamina dibandingkan lead yang lain.
Pengambilan gambarnya lumayan artistik dan tidak monoton. Nuansa misteri yang diberikan juga cukup terasa terlebih lagi dibantu oleh alunan musik yang benar-benar memicu orang untuk ikut terbawa masuk ke dalam misteri tersebut. Sebagai sebuah serial baru tanpa aktor yang benar-benar terkenal, serial ini lumayan efektif dalam membuat orang semakin penasaran dan ingin menonton lanjutannya. Meski begitu jika anda sudah keburu bosan dan loyo setelah menonton 20 menit pertamanya, cobalah untuk mengikuti sampai akhir karena serial ini, bisa dibilang, cukup menjanjikan.

Verdict : 7.5/10

Saturday, August 28, 2010

The Girl With The Dragon Tattoo

- Dark, Deep, Disturbing yet Damn Awesome! -
Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist) adalah seorang investigator handal untuk majalah Millenium. Setelah kalah dalam perbandingan kasusnya dan disalahkan atan tuduhan yang tidak ia lakukan, Mikael terpaksa berhenti dari majalah tempatnya bekerja dan terancam dipenjara selama tiga bulan. Sebelum masa penjaranya mulai, ia mendapat tawaran memecahkan sebuah kasus menghilangnya seorang gadis remaja 40 tahun lalu oleh Henrik Vanger, jutawan dari keluarga Vanger yang menyimpan banyak rahasia. Kehilangan Harriet yang diduga akibat sebuah pembunuhan menarik minat dari Mikael yang juga membutuhkan bantuan finansial yang dijanjikan. Dalam usahanya, ia dibantu oleh Lisbeth (Noomi Rapace), seorang hacker muda berusia 24 tahun yang dulu ditugasi untuk memata-matai Mikael. Dalam usaha mereka, berbagai macam rahasia kelam harus mereka hadapi. Berbagai macam rintangan dari luar, dan terutama, dari dalam diri mereka sendiri.
Setelah disebut-sebut reviewer terkemuka di Amerika sebagai salah satu film terbaik selama pertengahan 2010 ini, gw tanpa pikir panjang langsung membeli dvd film keluaran tahun 2009 ini. Menggunakan bahasa Swedia, kisah misteri pembunuhan ini bisa dibilang bergerak sedikit lambat. Meski begitu, misteri yang ditawarkan sangat engaging dan membuat orang-orang semakin penasaran. Sedikit berbeda dengan kisah misteri hollywood yang mengagung-agungkan twist seru dan kejutan-kejutan lainnya, film ini (anehnya) berjalan cukup linear dan simpel. Kalau benar-benar mengikuti dari awal, maka tidak akan terlalu susah menebak siapa kira-kira tokoh antagonis utama di film ini. Berbagai macam sub-plot juga dikemas dengan sangat baik dan menarik. Terutama kisah Lisbeth yang amat kelam dan membuat gw meringis. Female abuse menjadi salah satu elemen utama yang diangkat Stieg Larsson dalam novelnya, dan hal tersebut digumbar dengan lantang di film berdurasi 2 jam ini. Kedalaman emosi yang diolah dengan baik oleh si director, Niels Arden Oplev, begitu terasa dan membuat gw amat simpatik terhadap tokoh Lisbeth sendiri. Meskipun cerita utama bukan mengenai perkembangan Lisbeth sebagai karakter, ia merupakan salah satu heroine paling memorable dalam beberapa tahun belakangan. Setidaknya sebanding dengan beatrix kiddo.
Permainan para aktornya yang brillian amat sangat meningkatkan kualitas film dengan naskah jauh di atas rata-rata ini. Michael Nyovist mengundang simpatik sebagai jurnalis yang terperangkap dalam jebakan kasus yang membuatnya teracam terpenjara. Noomi Rapace tampil mengejutkan sebagai Lisbeth. Kedalaman karakter yang ia berikan benar-benar nyata dan dalam. Kegelisahan dan kegalauan dalam hidup Lisbeth berhasil Noomi translasikan dengan amat sangat baik. Supporting cast lainnya bermain dengan tidak kalah efektif dan membuat film ini semakin menarik dan seru.
Music score dari film ini juga top notch! Iringan lagunya yang misterius, eerie dan buat merinding sendiri menjadi nyawa tersendiri bagi film ini. Tata kameranya yang mengejutkan (benar-benar seperti produksi hollywood, yang berarti bagus tentunya) juga membuat film ini menjadi semakin artistik dan beda. Setiap pemandangan ditampilkan dengan mengagumkan. The Girl with the Dragon Tattoo berhasil menjadi sebuah tontonan yang benar-benar captivating. Adegan-adegan di dalamnya bisa dibilang lumayan keras dan mengganggu. Namun karena kegamblangannya itulah, film ini tampil beda, fresh dan mengejutkan. A very, very, awesome experience.

Verdict : 9/10

Sunday, August 8, 2010

Shanghai

- City of Noir-istic Love and Blood -
Paul Soames (John Cusack) adalah agen intel amerika yang tidak berpihak pada jepang dan cina circa perang dunia kedua. Posisinya yang netrak terguncang sudah saat sang sahabat Connor (Jeffrey Dean Morgan) dibunuh. Misteri pembunuhannya rupanya menjadi lebih runyam dimana Connor terlibat terlalu jauh dalam penyelidikannya terhadap Anthony Lan-Ting (Chow Yun Fat) boss gangster Shanghai yang sangat tersohor. Konspirasinya dengan Jepang melalui Kapten Tanaka (Ken Watanabe) terancam hancur setelah tindakan resistance dari warga asli shanghai sendiri yang semakin menjadi-jadi. Dalam penyelidikannya, Paul Soames mendapat bantuan dari Ana (Gong Li), istri Anthony yang memiliki rahasia kelamnya sendiri. Semua penyelidikannya menunjuk satu titik berat, dimana ia harus menemukan Mitsuko (Rinko Kikuchi), mantan mata-mata jepang yang jatuh cinta terhadap Connor dan belum lama ini menghilang, sebelum terlambat.
Di tengah-tengah kerunyaman masalah FPI yang jelas-jelas melecehkan agama lain, saya memilih untuk menghibur diri dengan menulis review film yang bisa dibilang lumayan asik ini. Shanghai adalah sebuah film thriller drama dengan sedikit bumbu romance dan sisi noir yang amat ketara. Pengambilan gambarnya yang artistik, sendu dan gelap membuat kita gampang tertarik dan terbawa masuk ke dalam suasana shanghai tahun 1941. Hujan yang selalu turun menambah suasana kelam yang menjadi latar belakang cerita yang tidak kalah suram ini. Kisahnya sendiri lumayan seru, meskipun misteri siapa yang membunuh Connor sampai akhirnya, tidak pernah benar-benar engaging. Entah apa yang kurang dari core ceritanya, tetapi ada aspek-aspek lain di film ini yang membuat saya enjoy. Namun yang pasti, hal itu bukanlah misteri inti ceritanya sendiri.
Mungkin bisa dibilang aneh. Kok bisa enjoy nonton sebuah film padahal tidak begitu tertarik mengikuti misterinya? Tetapi itulah yang terjadi. Aspek pertama yang membuat saya benar-benar enjoy adalah permainan apik dari John Cusack dan Gong Li. Cusack dengan gayanya yang serius dan kesepian begitu meyakinkan dan Gong Li benar-benar memukau. Gong Li bermain jauh lebih baik dari di Memoirs of Geisha (di film itu pelafalan inggrisnya masih sedikit kaku, disini bisa dibilang lumayan lancar). Karismanya sebagai "dragon lady", dilengkapi mimik wajahnya yang keras, cool, dan rupawan membuatnya menjadi karakter yang paling menonjol sepanjang film ini. Thumbs up buat para stylist yang mendadaninya karena dia tampil amat sangat menarik!
Ken Watanabe juga bermain tidak kalah baik dan membuktikan dirinya sebagai salah satu ekspor dari asia yang harus, harus diperhitungkan. Kudos juga diberikan kepada pembuat setting tempat yang benar-benar terasa authentic dan real. Kostumnya juga bisa dibilang oke dan iringan musiknya juga top notch punya. Yang sedikit disayangkan adalah peran Rinko Kikuchi yang amat sangat underused (meskipun performa singkatnya juga sangat heart breaking dan mengagumkan.) Terlebih lagi Chow Yun Fat yang benar-benar tenggelam di antara Cusack-Li-Watanabe, sungguh sebuah dosa besar! Meskipun begitu, film ini masih bisa dibilang sangat watchable, meskipun bisa lebih baik dari segi ceritanya sendiri.

Verdict : 7/10