Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

July Movie Kaleidoscope

Hello blog! Whew it has been ages since i post in here. I'm quite sorry for abandoning you but my personal and professional life has been quite a blast this past months. I got lots of job opportunity, had to take care for upcoming art event on my campus, and on top of that i finally launched my own clothing line. But that doesn't mean my passion for movie has gone. I'm kinda in a phase where i enjoy streaming anime weekly, and some several tv series rather than watching in the cinema. I reallyrecommend you guys check out this three anime No.6, Mawaru Penquindrum, and Dantalian no Shoka. They've got awesome animation, engaging story, and honestly, none of that silly japanese antics.

Back to movie, i only managed to watch 3 movies in the month of july 2011. Well, that's quite sad, but I guess I can't help but weep whenever I see the list of pictures that are showing each week. Anyway, i'll review those three in one post I called "kaleidoscope". On the side note, do pardon my attempt on writing in english, I'm not that good at it *chuckle*.
Insidious
Watched on July the 3rd at Anggrek XXI
Film Review : 8/10 (This movie was freaking awesome! The atmosphere was very chilling, and it build the tension very smoothly without any feeling of being rushed. The actors were believeable and sympathetic, and for once the characters aren't silly horror caricature. It was kind of a let down the film go downhill after the first hour for shifting to another character so suddenly and put a deus ex machina that is quite predictable. But overall this is a very nice horror flick, and the first one that actually make me shriek in a theater.....for three times)
Catatan Harian si Boy
Watched on 12th of July at Pondok Indah 1 XXI
Film Review : 8.5/10 (This is a very, very fresh Indonesian Movie. The dialogue was very gripping, clever, funny and touching at the same time. The writers actually managed to give a depth at every character. While only few of them work and become more than two dimensional character, the attempt are worth applauding considering some Indonesian movie actually relies on their characters antics rather than giving them some character development. The action scenes are not over the top and believeable, the story was cleverly interwoven and the movie itself was very enjoyable. It put a benchmark on how a good enjoyable movie can be made without involving half baked nudity, silly looking ghost, or melodramatic weepy teenage romance. It creates a new genre, which hopefully follows with a lot of movie that tries to live up to the quality this movie presented.)
Larry Crowne
Watched on the 23rd of July at La Piazza XXI
Film Review : 5/10 (Well that was a disappointment. I was hoping for a heartwarming romantic movie featuring simpathetic face and extraordinary sexy lip. What i got was a movie that tries to be heartwarming by simplifying things to the point of unrealistic, making every side-characters the "wise-man" by giving the protagonist a very preachy, wise way of life people can seek on the internet, and a romance build up by one kiss and no chemistry at all. Seriously, this movie is bad. I only get a few chuckle by the guy who looks like Bruno Mars and nothing else. Flat, boring, and forgettable.)

Thursday, June 2, 2011

Movie: Scream 4

- Just Migrate From Woodsboro Will Ya? -
Cukup mengejutkan proyek ini pada akhirnya mendapatkan lampu hijau dari para studio besar di Hollywood. Jarang film beranak pinak menjadi lebih dari 3 seri, terlebih genre horror. Semakin mengejutkan lagi, sebuah film horor seri keempat yang lolos masuk ke layar lebar dan tidak hanya untuk konsumsi dvd biasa. Padahal tidak ada dukungan dari aktor yang kuat, kecuali beberapa nama yang cukup terkenal sebagai bintang televisi, tapi tidak ada satupun nama aktor disini yang memiliki kredibilitas kuat sebagai bintang Hollywood. Lalu apa yang membuat film ini dianggap special dan mampu mengangkat nama seri "Scream" sekali lagi?
Sidney Prescott akhirnya harus kembali berhadapan dengan masa lalunya setelah ia menerbitkan buku untuk menandakan suksesnya ia melepaskan diri sebagai seorang korban. Kehidupan woodsboro yang semulanya tenang-tenang saja kembali kedatangan terror pembunuhan berantai bersamaan dengan momen kedatangan Sidney ke kota tersebut. Sebutan pembawa kematian sepertinya cocok disematkan kepadanya setelah satu persatu orang yang berada di dekatnya meninggal secara mengenaskan. Mampukah ia, bersama Dewey dan Gale menghentikan rangkaian pembunuhan ini sebelum terlambat
Seri Scream memiliki kekuatannya sendiri dalam menghadirkan rasa deg-degan luar biasa ketika penonton harus menonton bagaimana satu persatu karakter tewas mengenaskan. Hal ini cukup efektif di dua film pertama dimana thrill yang dihadirkan masih fresh. Demam Scream juga semakin mewabah di Indonesia setelah pemutaran kedua film tersebut di salah satu stasiun tv swasta. Film ketiganya mulai kehilangan amunisi tingkat keseraman karena banyaknya jumlah orang yang meninggal rupanya tidak urung malah menurunkan tensi film itu sendiri. Bagaimana dengan film keempat ini? Scream 4, ibarat sebuah mobil, berhasil membuang semua amunisi kesegaran yang dulu sempat dimiliki seri tersebut. Film ini tidak lagi mengandalkan kekuatan "deg-degan" yang akan diperoleh penonton, melainkan suara-suara seru yang membuat penonton kaget sesaat. Tidak ada yang benar-benar mengagetkan, atau bahkan membuat kita ketakutan di kursi penonton
Sesuai dengan tradisi seri-seri sebelumnya, seri ini berusaha menjadi "lebih pintar" dengan mengolok-olok kebiasaan bodoh yang dilakukan orang-orang di dalam sebuah film horror. Tapi lucunya, yang mengolok pun tidak pernah menunjukkan kepintaran mereka yang seharusnya sudah mengerti segalanya. Ketololan demi ketololan tetap mereka lakukan dan kali ini justru semakin parah. Karakter yang baru tidak memiliki karakterisasi yang kuat dan karakter-karakter yang lama bermain benar-benar seadanya. Yang benar-benar menggelikan adalah bagaimana polisi-polisi di kota tersebut amat sangat tidak dapat diandalkan dan bagaikan boneka yang menunggu orang-orang berikutnya meninggal. Kalau saya tinggal di kota itu, dalam hitungan detik saya akan bermigrasi. Tidak ada yang impresif sama sekali. Twist yang dihadirkan? Meskipun cukup mengejutkan, terkesan sangat maksa dan tidak logis. Tanpa adanya naskah yang fresh, akting yang meyakinkan, atau pembunuhan yang menegangkan, film ini gagal di semua sisi dan dengan sukses menjerumuskan seri "Scream" ke lembah film dengan sekuel sekuel murahan. Hanya adegan openingnya saja yang lumayan original, sayang tidak direalisasikan menjadi sebuah film.

Verdict: 5.5/10

Saturday, April 9, 2011

Movie : ? (2011)

- Not About The Religion Itself -
Menuk bekerja sebagai seorang pelayan di Restoran Cantonese Chinese Food milik Tan Kat Sun. Disana ia diperlakukan dengan baik terutama oleh Enci pemilik restoran. Meski begitu hubungannya tidak terlalu baik dengan Hendra, anak pemilik restoran yang rebellious dan tidak suka ras chinesenya diungkit-ungkit. Suaminya Soleh, tidak memiliki pekerjaan tetap dan membuatnya merasa tidak berharga di mata Menuk sendiri. Ia pun menemukan jati dirinya menjadi seorang anggota korps keamanan NU yang bertugas di daerah Semarang. Menuk jugabersahabat dengan Rika, seorang wanita muslimyang berpindah agama menjadi katolik setelah menemukan Tuhan saat ia sedang berkutat dengan kasus perceraiannya. Perpindahan agama Rika yang kontroversial membuatnya menjadi bahan omongan orang, termasuk Surya seorang aktor pemeran pembantu yang kagum akan keberanian Rika. Keadaan kota Semarang saat itu cukup genting dimana toleransi agama diuji tepatnya setelah seorang pastor ditusuk saat ia menyalami para jemaat yang berdatangan, namun benarkah perbedaan kepercayaan itu masih penting saat ini?
Sebagai orang beretnis Tiong Hoa, saya selalu menganggap diri saya cukup liberal dan inclusive. Menonton film ini, saya mendapatkan sentuhan emosional yang besar melihat toleransi agama dari para karakternya yang beragam. ? adalah sebuah film yang tidak takut mengangkat isu-isu tabu semacam agama yang sensitif, dengan penceritaan yang objektif, tidak memihak dan tidak menjudge. Film ini tidak berusaha mengangkat betapa kontroversialnya keberadaan agama yang berbeda itu, namun tentang kisah hidup enam manusia yang harus saling bersinggungan satu sama lain dimana agama mereka menjadi sebuah faktor yang mendorong bagaimana mereka bertindak. Satu aspek pengkarakteran yang paling saya suka adalah bagaimana setiap karakter disini dibuat abu-abu dan tidak pernah benar-benar hitam, dan juga benar-benar putih. Setiap karakter memiliki motifnya sendiri, sejauh mana motif itu membawa tindakannya harus dibalas setimpal dengan konsekuensi yang ada. Kualitas produksi dari film ini juga tidak asal-asalan. Pengambilan gambaranya sangat memanjakan mata. Meskipun set yang ada terbatas dan sering dipakai ulang, namun pengambilan kamera yang bervariasi membuat keadaan tidak pernah membosankan dan selalu dinamis. Soundtrack yang diberikan juga sangat pas dengan keadaan film dan membantu memainkan emosi penonton yang selalu diajak naik turun. Satu yang sedikit saya sayangkan adalah betapa sedikitnya emotional impact yang saya rasakan saat adegan finalnya bergulir.Satu yang juga kurang adalah bagaimana beberapa karakternya tidak digali lebih mendalam secaramerata di sepanjang film. Rika menjadi pusat perhatian selama 30 menit pertama film ini bergulir, namun menuju akhir cerita ia hanya terkesan sebagai sebuah sempilan. Kebalikan dari Hendra yang di 30 menit terakhir mendadak menjadi pusat perhatian. Meski begitu, ? adalah sebuah film yang menghibur sekaligus menyentuh dengan plotnya yang cukup kompleks meskipun menunjukkan keadaan sehari-hari dan pengkarakteran yang realistis dan emosionil. Wonderful!

Verdict : 8.8/10

Tuesday, March 15, 2011

Movie : Morning Glory (2010)

- It's The Story People! -
Becky Fueller (Rachel McAdams) adalah seorang produser verita pagi di New Jersey yang melakukan pekerjaannya dengan penuh determinasi dan dedikasi. Namun karena budget cut yang diadakan channelnya, ia terpaksa harus dipecat. Di usianya yang mendekati 30 tahun, mencari pekerjaan bukanlah hal mudah. Tawaran terakhirpun ia ambil sebagai executive producer di acara berita pagi Daybreak. Acara itu menduduki posisi bontot acara pagi di new york dan sudah sekarat. Setelah memecat anchor laki-lakinya, ia pun merekrut anchor legendaris untuk berita malam Mike Pomeroy (Harrison Ford) untuk mendampingi Coleen Peck (Diane Keaton). Dengan ancaman dicancelnya acara tersebut dalam 6 minggu, perseteruan di antara mereka semakin memanas, diikuti dengan kehidupan pribadi Becky dengan Adam (Patrick Wilson) yang juga merenggang.
Morning Glory disutradarai oleh Roger Michell yang telah menyutradarai Noting Hill dan ditulis oleh Aline Brosh McKeena yang menulis script The Devil Wears Prada. Yang dihasilkan oleh pertemuan itu adalah sebuah film komedi yang lucu, heartwarming, dan engaging karena permainan dari para castnya yang luar biasa dan menyenangkan. Plot mengenai pekerjaan di dunia pertelivisian adalah sebuah plot seru yang sayangnya jarang digali. Meskipun tidak terlalu dalam di sisi dunia erja, etika pekerjaan, dan hal-hal berbau teknis lainnya, film ini unggul dalam memberikan sebuah kisah yang dijamin menarik hati penonton untuk mengikuti sampai akhir.
Perjuangan Beckie menyelamatkan acaranya menjadi sangat seru tatkala Beckie dimainkan dengan sempurna oleh Rachel McAdams. Ia bersinar disini, menjadi bintang utama yang membawa film ini sepenuhnya di pundaknya. Karakter Beckie yang determinasinya tinggi dan ambisinya tak pernah padam dimainkan dengan sukses sehingga mengajak penonton untuk menyukainya. Harrison Ford juga tidak kalah engaging dengan karakternya yang sinis, tapi pada akhirnya takluk pada ke-likeable-an Beckie. Diane Keaton bermain sempurna sebagai news anchor acara pagi dan cukup aneh melihat ia tidak pernah mendapatkan talkshownya sendiri. Meskipun sedikit underused, ia menjadi bumbu penyedap yang sangat manis bagi film ini. Patrick Wilson mendapatkan tipikal peran yang dapat dipastikan underused, tidak dikupas mendalam dan selingan semata. Itu dapat dimaklumi, dan syukurnya, film ini tidak merambah terlalu dalam di genre romanticnya karena di sisi komedinyalah film ini bersinar.
Morning Glory tidak memberikan gebraan berarti di dalam genre komedi begitu pula di genre newscasting. Meskipun insight yang diberikan tidak terlalu dalam, film ini beruntung karena memiliki salah satu casting terkuat sepanjang tahun 2010 kemarin karena karakterisasi yang pas dari setiap pemainnya dan supporting cast yang menjalankan perannya dengan baik. Pengambilan gambar, meskipun tidak ada yang spesial, turut berperan serta dalam mengajak penonton terbawa dalam suasana perjuangan Beckie. Soundtracknya juga efektif membawa mood penonton seperti selayaknya yang harus dilakukan oleh sebuah sit-com seperti ini. Aline Brosch McKeena kembali menyajikan cerita mengenai determinasi wanita di kantor tempat ia bekerja, namun kali ini permainan akting dari tokoh utamanya jauh lebih kuat dan likeable. Sebuah film komedi yang menitik beratkan pada karakter dan bukan pada gimmick bodoh yang lain, film yang manis untuk menjadi hiburan di kala kepala sedang penat.

Verdict : 8.2/10

Thursday, March 3, 2011

Series : Hot in Cleveland

- Four Lady and A BIG Laugh -
Betty White sedang naik daun beberapa tahun belakangan ini. Susah membayangkan seorang aktris berumur 90 tahun yang mencapai puncak ketenaran di usia setua itu. Namun ia tetap tersenyum, tampil ceria dan melontarkan joke-joke dan punchline dengan gaya yang khas dan menarik. Selepas The Proposal, Betty aktif berlaga di layar lebar maupun serial televisi, membintangi lebih dari 8 proyek di tahun 2010. Hot in Cleveland adalah sebuah serial sit-com yang pada awalnya hanya ingin memasang Betty White sebagai seorang guest star, namun performanya yang kocak mendapatkan sambutan baik dan ia pun diangkat menjadi series reguler. Hot in Cleveland juga menampilkan Wendie Malick yang mukanya familiar, dan dua aktris kawakan di serial televisi, Jane Leeves dan Valerie Bertinelli, yang juga hadir memberikan comeback yang tidak disangka-sangka.
Melanie (Valerie Bertinelli) adalah seorang penulis yang baru saja menyelesaikan perceraian dengan suaminya. Anak-anaknya sudah berkuliah dan hidup mandiri, oleh karena itu ia menetapkan untuk berjalan-jalan ke paris bersama dua sahabatnya, Victoria (Wendie Malick) artis sitcom kawakan dan Joy (Jane Leeves) pencabut bulu mata terkenal di L.A. Tanpa mereka harapkan, pesawat mereka mengalami gangguan penerbangan dan harus mendarat mendadak di Cleveland, Ohio. Sembari menunggu penerbangan mereka selanjutnya, merekapun terpaksa bermalam di daerah yang bertolak belakang dengan Los Angeles. Disana mereka diperlakuan layaknya wanita cantik dan diajak kencan oleh para pria, dimana mereka biasanya diacuhkan oleh para lelaki di daerah Los Angeles. Terejut atas perbedaan menyenangkan ini, dan dapat diduga dari sebuah sit-com, mereka memilih untuk menyewa rumah yang dihuni Elka (Betty White), seorang pengurus rumah berusia 90 tahun, dan tinggal bersamanya.
Premise yang sit-com banget ini nyatanya tidak pernah menjadi membosankan untuk ditonton. Sekali lagi, tanpa adanya Betty White bisa dijamin serial komedi ini akan selucu sekarang. Ceritanya tidak pernah membosankan dan bordering-on-absurd, namun tetap kocak dan menghibur. Terlihat beberapa kali aktornya berimprovisasi yang justru makin efektif melihat skrip yag ditulis juga cukup sharp dan menarik. Meskipun dialognya melulu mengenai bagaimana mencari pasangan di usia 40 tahun ke atas, pengembangan karakter Melanie, Victoria dan Joy tidak begitu saja dilupakan dan dikesampingkan. Satu yang membuat serial ini berbeda dengan sit-com lainnya adalah usahanya untuk tampil real dan tidak seabsurd sit-com lain. Meskipun tetap corny dan sedikit unbelieveable, banyak sekali moment L-O-L yang bisa didapat dari seri ini. Never boring though never perfect. Sebuah serial komedi yang menyadari kelemahannya, namun tidak malu-malu dalam menutupinya dengan guyonan-guyonan kocak yang menggelitik dan menghibur.
Verdict : 8/10

Thursday, February 24, 2011

Oscar Watch List : 127 Hours

- Trapped, Smacked, Snapped! -
SPOILER ALERT! Danny Boyle adalah seorang sutradara yang tidak mudah ditebak. Caranya mengemas sebuah film zombie dengan apik, sebuah film science fiction yang tidak monoton, dan sebuah film romantis dengan latar india yang lain dari yang lain, selalu berhasil memukau para penonton. Lepas dari kesuksesan Slumdog Millionaire, Boyle kembali mengangkat sebuah kisah nyata yang cukup bertolak belakang dengan film yang disebut sebelumnya. 127 Hours diangkat dari kisah hidup Aron Ralston yang terperangkap di sebuah tebing di Blue John Canyon sampai harus melakukan sebuah tindakan yang amat menyakitkan. Film ini disambut hangat oleh para kritikus, meskipun tidak mencapai sebuah kesuksesan finansial yang bombastis. Hal itu dapat dimaklumi melihat betapa riskan topik film yang diangkat. Bahkan dalam penayangan perdananya, dua orang pingsan dan harus memperoleh tindakan medis. Kepiawaian Danny Boyle mengangkat kisah Ralston berbuah manis saat film ini dinominasikan ke dalam banyak kategori ajang film bergengsi. Bersama lima nominasi lainnya, termasuk Best Actor untuk James Franco, 127 Hours dalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Aaron Ralston (James Franco) adalah petualang yang tidak kenal lelah. Hidupnya dipenuhi dengan perjalanan menyusuri pegunungan-pegunungan dan gurun pasir dengan sepeda, backpack dan mobilnya. Suatu hari ia telah menetapkan tujuan berikutnya, Blue John Canyon. Dalam petualangannya itu, ia bertemu dengan dua orang pendaki wanita lainnya. Tidak lama setelah bermain air bersama mereka, Aaron melanjutkan perjalanannya melalui tebing yang sempit dan berbahaya. Saat ia sedang bergelut melaluinya, sebuah bongkahan batu di kakinya menggelincir mentauhkan dirinya kebawah. Saat ia menyadari apa yang terjadi, tangan kanannya telah terjepit oleh batu itu ke dinding tebing dan cukup mustahil untuk Aaron untuk menarik tangannya begitu saja. Mengetahui keadaan berbahaya yang ia hadapi, Aaronpun berusaha untuk bertahan hidup selama mungkin yang ia bisa dengan begitu terbatasnya suplai kehidupan yang ia miliki. Haruskah ia melakukan satu-satunya pilihan terakhirnya? Mmeotong tangannya sendiri dengan sebuah pisau tumpul?
127 Hours adalah one-man movie, dan disini bintangnya adalah James Franco. Ia bermain apik sepanjang film. Dengan baik menunjukkan sifat Aaron yang nyeleneh, tidak takut apapun sampai tahap dimana ia menyadari ia ada dalam masalah dan resiko apa yang harus ia ambil. Penyesalan, kegelisahan, harapan semua ditampilkan dengan 'subtle', amat sangat emosionil dan menyentuh. James Franco berhak memperoleh nominasi oscarnya disini dan ia adalah salah satu kontender kuat untuk memenangkannya. Danny Boyle mengemas film ini dengan cermat. Tema yang riskan itu ia handle dengan indah, hingga kesan brutal dan kengerian yang akan datang itu, dibawakannya dengan 'gripping' dan jauh lebih menakutkan daripada gore fest seperti franchise Saw. Menakjubkan melihat caranya Danny Boyle mengemas kisah seseorang yang terperangkap di dalam tebing menjadi sebuah film hampir 2 jam namun tidak pernah bahkan mendekati kata bosan. Editing adalah poin penting dalam film ini dan tidak dapat dipungkiri, menjadi aset terbesar yang meningkatkan kualitas film ini secara keseluruhan. Selain editing yang menarik, soundtrack dari film ini juga unik dan khas. Danny Boyle tidak pernah takut dalam memilih lagu-lagu untuk mengiringi filmnya, dan sama seperti Slumdog, soundtrack film ini mampu mendukung keadaan di film ini dengan sinergis, pas, dan tidak berlebihan. Permainan akting para aktor lainnya pas, kredibel namun tidak menjatuhkan, terutama melihat porsi mereka yang jauh sekali dibandingkan dengan Franco. Ini adalah film yang akan meroketkan Franco ke jajaran aktor muda lainnya yang mampu berakting dengan baik. Great career ahead dude!

Verdict : 8.9/10

Saturday, February 19, 2011

Oscar Watch List : Inception

- Twist, Fist, and Heist -
SPOILER ALERT! Inception adalah salah satu film blockbuster langka yang berhasil sukses secara komersial namun juga 'intriguing' secara kualitas cerita dan eksekusi. Inception berhasil mengumpulkan lebih dari 800 juta US$ di seluruh dunia, melampaui budget utamanya yang berkisar antara 200 juta US$. Hampir semua kritikus setuju, bahwa film ini membuktikan kualitas Christopher Nolan sebagai penulis naskah, sekaligus director film yang berkualitas yang mampu merangkai film yang layak disantap publik tanpa mengolok-ngolok kemampuan intelejen mereka. Menonton film ini, persiapkanlah diri anda untuk memutar otak secepat mungkin karena meskipun durasinya melebihi dua jam, alur film ini lumayan cepat dengan twist yang kerap berdatangan. Bersama dengan 7 nominasi lainnya, Inception adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Domm Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah seorang pencuri ulung. Ia mencuri berbagai macam informasi rahasia dan berbahaya dengan cara memasuki mimpi bawah sadar targetnya. Bersama rekan setianya, Arthtur (Joseph Gordon-Levitt) ia diburu oleh berbagai macam pihak akibat pekerjaannya yang riskan itu. Hal itu pula yang membuatnya harus kehilangan kesempatan untuk bertemu kedua anaknya, Thomas dan Philippa. Suatu hari, dengan janji akan memberikannya kesempatan bebas untuk bertemu dengan kedua anaknya, Mr. Saito (Ken Watanabe) menginginkan Cobb melakukan misi yang berlawanan dengan pekerjaannya. Bukannya mengambil, ia ingin Cobb menanamkan sebuah ide dalam lawan bisnisnya, Robert Fischer (Cillian Murphy). Ia pun mulai membangun timnya. Ariadne (Ellen Page) berperan sebagai si arsitek yang membangun dunia mimpi yang akan mereka tuju. Eames (Tom Hardy) menggunakan keahliannya untuk meniru penampilan orang lain untuk memanipulasi dan menipu target dan Yusuf (Dileep Rao), seorang chemist yang memberikan supportnya dengan memberikan cairan sedatif yang berguna agar mereka bisa menjelajahi dunia mimpi semakin dalam. Misi yang tidak simpel ini semakin dipersulit tatkala kesehatan pikiran Cobb dipertanyakan akibat gangguan mental yang mempengaruhi pekerjaannya. Sering kali, bayangan sang mantan istri Mal (Marrion Cottilard) menghantui mimpi sekaligus pekerjaannya, menghalang-halanginya dan membuat misinya semakin sulit.
Inception menjadi salah satu film bergenre action yang berhasil mendapatkan nominasi untuk oscar. Meskipun ada bumbu-bumbu thriller dan science fiction disan-sini, film ini adalah film blockbuster at heart yang sukses diluluskan para juri untuk mendapatkan nominasi best picture. Seperti yang sudah saya bahas di review sebelumnya yang juga cukup lengkap dan komprehensif http://lenouvellededave.blogspot.com/2010/07/inception.html , Inception adalah sebuah film yang seru dan lengkap. Film yang dazzling dan menakjubkan dalam scenery dan image-image yang memanjakan mata, sekaligus memicu para penonton untuk memfokuskan perhatian penuhnya pada layar di sepanjang film. Endingnya yang bitterweet dan shocking, dimana pada akhirnya Domm masih terperangkap di mimpinya, memberikan open ending yang cukup menggantung terutama pada nasib rekan-rekanya. Bukan mustahil sebuah sekuel bisa datang, meskipun agak diragukan jika tidak dianggap benar-benar perlu oleh Nolan. Tidak ada bagian yang tidak penting, tidak signifikan atau dapat dilewatkan begitu saja. Semua detik film ini dipergunakan dengan efisien dan efektif. Sebuah masterpiece yang sayang untuk dilewatkan. Lengkap dalam segi naskah, unggul dalam editing, mantap dalam segi efek dan apik dalam segi akting, Inception adalah salah satu unggulan lain selain The Social Network dan The King's Speech untuk memenangi oscar tahun ini. Meskipun cukup disangsikan, everything can happen in Oscar night :D.

Verdict : 9.3 / 10

Saturday, February 12, 2011

Oscar Watch List : The King's Speech

- The Speech Is Delivered Awesomely -
SPOILER ALERT! Kehidupan keluarga kerajaan di Inggris adalah sebuah tema film yang tidak pernah habis diulas. Entah itu intrik politik di dalam keluarga, drama romansa dari para anggota kerajaan, kehidupan para petinggi di negara Inggris sana merupakan sebuah genre yang selalu sukses menarik minat publik dan para kritikus. Bisa dilihat banyaknya daftar film bergenre ini yang berhasil menembus kancah perfilman bergengsi seperti BAFTA, Golden Globe dan Oscar sekalipun. The King's Speech adalah film karya dari Tom Hooper yang mengambil kisah hidup Duke of York, Prince Albert yang bergelut dalam usahanya menjalankan tugas sebagai King George VI. Meskipun genrenya terkesan familiar dengan setting period yang sudah sering dipakai, film ini mengambil perspektif sendiri berupa biopic drama yang memfokuskan dirinya pada perjuangan Albert dalam usahanya mengalahkan 'gagap'nya dan menyampaikan sebuah pidato yang lancar dan bebas dari cemoohan orang. Kisah yang menggerakkan ini berhasil memberikannya 14 nominasi BAFTA, 7 nominasi Golden Globe dan berpuluh-puluh nominasi lainnya. Bersama dengan 11 nominasi lain, The King's Speech adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
The Duke of York, Prince Albert 'Bertie'(Colin Firth) adalah anak kedua dari King George V. Dibayang-bayangi oleh trauma masa lalunya, ia mengidap kelainan stammering, atau yang biasa disebut 'gagap', sehingga ia tidak bisa membacakan sebuah teks atau bahkan berbicara di khalayak publik banyak tanpa dikolok-kolok da diiringi desahan masyarakat. Istrinya Elizabeth (Helena Bonham Carter) berusaha membantunya menjalani semua ini dengan mencarikan ahli-ahli terapi berbicara namun tidak ada yang berhasil membantu Albert. Sampai pada akhirnya Elizabeth membawa Albert ke Lionel Logue (Geoffrey Rush) seorang terapis berbicara yang berasal dari Australia. Metode terapi Lionel memaksa Albert untuk menggali dalam ke masa lalunya dan berhadapa dengan trauma masa kecilnya, sesuatu yang tidak ingin Albert lakukan. Dengan mendekatnya ancaman perang dari Jerman dan diangkatnya dia menjadi raja setelah kakaknya memilih untuk mundur, ia harus berpacu dengan waktu untuk bisa membawakan sebuah naskah pidato dengan baikm tanpa membuat kecewa rakyatnya yang sedang bimbang dan takut akan bahaya perang ke depannya.
What an accomplishment! Film ini merupakan salah satu film terlengkap yang pernah saya tonton. Cerita yang bagus, permainan akting yang sempurna, pengambilan gambar yang berani beda, alunan musik yang menyentuh dan sesuai, desain setting visual yang tidak main-main, semuanya dicentang dengan baik. Cerita perjuangan Prince Albert 'Bertie' menurunkan tirai penghalangnya dan mau menjalin persahabatan dengan Lionel, membuka diri dan mengutarakan masalah personal dalam hidupnya seperti alasannya mendapatkan 'gagap'nya tersebut (yang ia peroleh akibat tekanan dari ayah, kakak dan nanny-nya) dikemas dengan sederhana namun emosional dan menggerakkan penonton. Sub-plot yang ada tidak merusak jalannya cerita dengan menghadirkan sebuah twist yang mengejutkan, melainkan menambah intrik dan pergelutan dalam kisah utamanya sendiri, mendorong cerita untuk menjadi lebih involving, emosional, dan seru. Coming-of-age story disini agak berbeda dengan yang ada di The Social Network (apalagi dalam urusan umur para pemainnya), namun tidak kalah "moving" dan "involving". Colin Firth sudah lebih dari 2 dekade aktif bermain di film layar lebar. Ia sudah membuktikan bahwa ia adalah aktor yang patut diperhitungkan namun permainan akting apiknya jarang disorot publik da dilirik kritikus. Namun permainan sempurnanya, yang apik dan amat sangat menawan, tidak mungkin lewat dari mata publik dan kritikus sekalipun. Piala Golden Globe yang ia peroleh kemarin, amat sangat 'well deserved' dan memang sudah waktunya ia mendapatkan sebuah piala oscar setelah gagal dengan A Single Man tahun lalu. Helena Bonham Carter yang biasanya tampil eksentrik dan meriah dengan kostum dan kepribadiannya, bersinar dalam dandanan yang sederhana dan permainan yang tidak kalah meriah. Geoffrey Rush juga tidak kalah prima dengan permainan akting yang jauh lebih baik jika menilik resumenya 5 tahun kebelakang. Pengambilan gambarnya sedikit berbeda dibandingkan kebanyakan film period-drama. Tom Hooper tidak segan-sega menggunakan pengambilan gambar dari jauh, close up, terutama fish eye angle. Semua itu sengaja ia pilih untuk menunjukkan perasaan terperangkap dan tertekan Prince Albert. Alunan musik klasik yang dipakai juga sesuai dan menyentuh. Kostum yang dipakai, terutama oleh Elizabeth, juga tidak kalah indah dan menarik. Sebuah film yang lengkap, old-fashioned, tetapi juga "moving" dan "inspiring". Salah satu kontender kuat untuk Oscar tahun ini, dan secara pribadi, merupakan pilihan saya untuk Best Picture nanti.

Verdict : 9.5/10

Monday, February 7, 2011

Oscar Watch List : Toy Story 3

- And Then There Were Three -
SPOILER ALERT! Toy Story adalah sebuah franchise yang amat sangat sukses baik itu secara komersial maupun kualitas. Kisahnya yang universal dan dapat menyentuh hati seluruh orang membuat seri ini dianggap timeless dan masterpiece yang harus ditonton semua orang. Pengumuman akan dibuatnya jilid ke-3 dari franchise Disney-Pixar ini beberapa tahun yang lalu disambut dengan antusias tinggi dari semua kalangan. Fans-fans lama dari film-film sebelumnya yang dirilis lebih dari satu dekade yang lalu tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk bernostalgia. Fans-fans baru dari kalangan muda juga tidak sabar lagi menunggu petualangan Woody dan Buzz selanjutnya yang mereka kenal melalui pemutaran film-film sebelumnya di televisi dan dvd. Toy Story 3 mendapatkan cuntikan budget tinggi, yakni mencapai 200 juta US$, hal ini membuktikan kepercayaan Disney akan film tersebut. Terbukti, Toy Story 3 merupakan film terlaris pada tahun 2010 dengan pendapatan menembus 1 miliar US$ di seluruh dunia. Bersama dengan 4 nominasi lainnya, Toy Story 3 adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Andy sekarang berumur 17 tahun. Tidak lama lagi ia akan masuk kuliah dan meninggalka rumahnya. Kenyataan ini membuat Woody, Buzz, Mr. Potatoes dan mainan-mainan lainnya. Andy berencana memasukkan mainan-mainan lamanya ke dalam gudang di atapnya, namun akibat beberapa kesalah-pahaman, ibu Andy mengambil plastik berisi mainan-mainan tersebut dan mengirimkannya ke sebuah pusat penitipan anak. Sesampainya di sana, Woody bersikeras untuk mencari jalan pulang ke rumah Andy karena merasa ia masih membutuhkan mereka, namun rencananya dihalang-halangi oleh teman-temannya. Mereka yakin Andy sudah dewasa dan tidak membutuhkan mereka lagi. Ditambah nasihat dan bujukan dari pemimpin Sunnyside Daycare, Lotso, mainan-mainan Andy yang lainpun memilih untuk tinggal di penitipan anak ini dan bermain dengan anak-anak kecil yang akan lebih menghargai mainan seperti mereka. Namun tidak disangka-sangka, kehidupan mainan di Sunnyside tidak seindah itu manakala mereka harus mau dimainkan oleh anak kecil dibawah 3 tahun yang belum mengerti bagaimana memainkan mainan dengan baik. Dapatkah mereka keluar dari tempat penitipan anak itu, kabur dari pemerintahan otoriter Lotso dan kembali ke Andy yang menyesal telah membiarkan mereka dibuang oleh ibunya?
Toy Story 3 menjadi film animasi ke-3 yang dinominasikan dalam kategori Best Picture Oscar. Namun nominasi itu dianggap tidak perlu, karena jika ia gagal menang tahun ini dan mentorehkan record amazing menjadi film pertama yang menang Best Picture, ia tetap akan menang sebagai Best Animated Feature. Akan lebih rasional jika film ini hanya dinominasikan di Best Picture sehingga memberikan jalan bagi How to Train Your Dragon untuk memenangkan kategori tersebut. Meski begitu, kualitas film ini secara teknis dan skrip tetap tidak dapat dipungkiri. Meski ceritanya mencomot-comot beberapa elemen dari film pelarian dari sebuah penjara seperti Prison Break dan beberapa film lainnya, Toy Story 3 tetap berhasil mengemasnya dengan humor-humor yang fresh dan universal. Aksi kocak Woody dan kawan-kawan dijamin akan membuat seluruh anggota keluarga tertawa. Pesan moralnya yang mendalam dan menyentuh, disajikan dengan simpel namun elegan dan mudah dicerna oleh semua orang. Woody yang belum bisa menerima kenyataan bahwa Andy sudah dewasa akhirnyapun harus belajar bahwa tidak ada yang abadi di kehidupan ini. Things has to move on, one way or another. Jika harus ditanya apa kelemahan film ini, adalah sedikitnya originalitas yang ditawarkan. Mainan yang berbicara memang sebuah arena yang dikuasai oleh Toy Story namun kisah mengenai pelarian diri sudah dipakai di dua film sebelumnya, meski dengan personil dan joke yang berbeda. Meskipun hal tersebut harus sedikit disayangkan, itu tidak menutup kenyataan bahwa film ini masih jauh lebih superior dari puluhan film animasi yang dirilis di dekade ini. Kenyataan pahit bahwa endingnya akan hadir dalam bentuk perpisahan disajikan dengan sangat melankolis dan heartbraking. Bittersweet and endearing, itulah dua kata yang bisa mendeskripsikan film ini secara keseluruhan. Kualitas teknis film ini juga merupakan salah satu hal yang patut diacungi jempol. Animasi yang dihadirkan sangat colourful, fluent dan imajinatif. Kualitas penggunaan 3d-nya juga merupakan salah satu yang paling top-notch sepanjang tahun ini. Meskipun begitu, sayangnya, saya merasa belum waktunya untuk sebuah film animasi memenangkan kategori Best Picture di Oscar. Menurut saya film ini masih kalah kuat dibandingkan Beauty and The Beast yang menyajikan cerita yang tidak kalah sentimental, fun dan menyentuh. Film ini adalah salah satu film terbaik di tahun 2010 ini, dimana film-film animasi berkualitas berjaya di tangga box office dan hati para penonton, namun sayang saya melihat sedikit kemungkinan film ini bisa menang.

Verdict : 9.3 / 10

Sunday, February 6, 2011

Oscar Watch List : Winter's Bone

- The Bone Was Hidden Deep Inside -
SPOILER ALERT! Winter's Bone adalah sebuah film kecil berbudget 2 Juta US$ yang berjaya dalam Sundance Film Festival kemarin. Berhasil memenangkan Grand Jury Prize: Dramatic Film, Winter's Bone menjadi salah satu film berkualitas di tahun 2010 ini. Perjuangan seorang gadis muda mendukung keluarganya yang berantakan dalam latar belakang suasana daerah miskin di Ozarks yang bergelut dengan masalah narkoba Meth terbukti mampu menarik minat para penonton dan kritikus. Winter's Bone juga berjaya di Berlin Film Festival dan Stockholm Film Festival terlebih karena ceritanya yang down to earth, realistis, dan disokong oleh performa menawan dari Jennifer Lawrence. Adiksi pada narkoba dan pengaruhnya bagi orang-orang yang terlibat bukanlah materi baru bagi Debra Granik yang memulai debutnya 6 tahun lalu dengan film Down to The Bone. Beserta 3 nominasi lainnya, termasuk Best Actress untuk Jennifer Lawrence, Winter's Bone adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Ree Dolly (Jennifer Lawrence) harus menggantikan peran sang ayah dan sang ibu sekaligus di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Sang ayah menghilang berminggu-minggu setelah sebelumnya terjerat dalam kasus narkoba dan sanb ibu mengalami gangguan mental akibat dikecewakan oleh suaminya berkali-kali. Dengan tidak bertanggung jawab, ayahnya memasang rumahnya sebagai jaminan atas dirinya jika ia tidak muncul di tanggal pengadilan terakhirnya, yang mengancam hidup Ree, beserta kedua adik dan ibunya. Reepun berkutat mencari ayahnya untuk membawanya hadir di sidang pengadilan terakhirnya demi keberlangsungan keluarganya, namun misteri hilangnya si ayah rupanya tidak sesimpel yang ia pikir. Tidak ada yang bersedia membantu Ree di kotanya, mereka semua memilih untuk diam dan berusaha mencegah Ree mengorek-ngorek informasi lebih dalam misteri hilangnya sang ayah. Dimanakah keberadan ayahnya sebenarnya? Berhasilkah ia menyelamatkan keluarganya dan menemukan kembali sang ayah yang tidak bertanggung jawab?
Winter's Bone adalah sebuah film kecil yang dibuat minimalis dengan budget seadanya. Keterbatasan dana tersebut terpaksa membatasi kemampuan si director dalam menghadirkan adegan-adegan yang besar dan pengambilan-pengambilan gambar yang kompleks. Meski begitu Debra Granik berhasil menggunakan semua keterbatasan yang ia miliki dengan mengemas sebuah film yang realistis, down to earth , dan justru lebih efektif karena tidak berlebihan dan dapat dipercaya. Suasana musim dingin, latar di hutan dan daerah terpencil yang usang, miskin dan jarang dihuni orang-orang berhasil mengangkat kemisteriusan hilangnya ayahnya Ree. Naskahnya sendiri berjalan dengan linear tanpa ada sub plot yang menganggu dan tidak penting. Meski begitu, kisah perjuangan Ree yang harus bergelut dengan masalah ekonomi dan berbagai alteratif pilihan seperti masuk ke tentara atau menyerahkan kedua adiknya untuk diadopsi oleh tetangganya dihandle dengan indah oleh Debra. Tidak ada kesan drama yang dibuat-buat dan "lebay". Semuanya subtle, tenang namun juga mencekam dan haunting. Jennifer Lawrence menampilkan salah satu permainan terbaik tahun ini dengan menjadi Ree yang berdeterminasi, mandiri dan tangguh. Di balik determinasinya dalam berusaha menjaga keluarganya tetap utuh, ia adalah sebuah remaja berusia 17 tahun yang juga ingin hidup normal dan bahagia. Namun atas nama keluarganya, ia sudah melupakan impian itu dan hidup dalam dunia yang keras dan membenci ayahnya yang mencampakkan keluarganya begitu saja. Namun sebetapa bencinya ia pada ayah yang membawanya ke dunia ini, ia masih tidak dapat melihat ayahnya mati begitu saja. Scene-sceme terakhir dimana ia harus memotong tangan ayahnya yang sudah tenggelam amat sangat haunting, heartbreaking dan memorable. Jennifer Lawrence bermain tidak kalah apik dengan Natalie Portman. John Hawkes juga mencuri perhatian dengan perannya sebagai paman Ree yang menggantikan peran ayahnya melindungi Ree dari orang-orang yang menentang usaha pencariannya. Supporting cast yang lain bermain efektif. Yang membuat film ini semakin memikat adalah kenyataan bahwa semua pemainnya berpakaian apa adanya. Benar-benar realistis dan membuat film ini semakin subtle dan emosional. Mereka adalah orang-orang biasa yang tidak ingin hidup mereka terganggu oleh sebuah rahasia kecil yang berpotensi dibuka. Rahasia demi rahasia terpaksa harus terbuka atas rasa simpati pada Ree yang tidak pernah habis akan determinasi. Karena sekelam apapun rahasia yang orang simpan, ikatan keluarga tetap berarti sesuatu dan kuatnya ikatan darah antara saudara dekat dan jauh ditampilkan dengan amazing di film ini.

Verdict : 8.9/10

Friday, February 4, 2011

Oscar Watch List : The Social Network

- The Geek Will Rule The World! -
SPOILER ALERT! Fenomena social networking yang sedang melanda dunia global menjadi inspirasi di balik film ini. Penemuan Facebook oleh Mark Zuckerberg diangkat menjadi sebuah film biopic yang lain daripada yang lain oleh David Fincher. Film ini berhasil memenangkan Best Picture - Drama di penghargaan Golden Globe kemarin beserta Best Director dan 2 penghargaan lainnya. Film ini memasuki masa produksi pada bulan october 2009 kemarin dengan latar belakang Whellock College yang diset menjadi Harvard. Jesse Eisenberg adalah aktor pertama yang terikat dengan proyek ini, diikuti oleh Justin Timberlake dan Andrew Garfield. Yang lucunya, sepupu dari Jesse Eisenberg rupanya bekerja untuk Mark Zuckerberg sebagai product designer di facebook. Beserta 7 nominasi lainnya, termasuk Best Actro untuk Jesse Eisenberg, The Social Network adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Mark Zuckerberg (Jesse Eisenberg) bukanlah mahasiswa yang biasa-biasa saja. Keeksentrikannya diimbangi oleh kepintarannya yang tidak biasa. Karena tidak terima dicampakkan oleh pacarnya (Rooney Mara),ia menghina-hina pacarnya di blog pribadinya dan membuat sebuah website yang membandingkan keatarktifan gadis-gadis di kampusnya dengan menghack jaringan komputer di Harvard bersama bantuan sahabatnya Eduardo Saverin (Andrew Garfield). Atas tindakannya tersebut, ia harus diskors selama 6 bulan dan dihina-hina oleh semua perempuan di Harvard. Namun kesuksesan FaceMash dalam menciptakan traffic dalam semalam menarik perhatian Winklevoss bersaudara yang mencari partner programmer brilian seperti dirinya. Merasa proyek yang ditawarkan oleh Winklevoss akan gagal dan tidak bonafit, ia mengambil ide dasar mereka dan mengembangkan sebuah website sendiri yang bernama Facebook. Kesuksesan yang ia peroleh memicu keirian dari Winklevoss yang merasa ide mereka dicuri mentah-mentah dan Sean Parker (Justin Timberlake) pendiri Napster yang sedang mencari sumber pemasukan baru.
Di review saya sebelumnya, bisa dibilang saya tidak se-impressed itu akan eksekusi yang David Fincher berikan. Namun setelah menontonnya untuk kedua kalinya, film ini memberikan sensasi yang berbeda dari pengalaman menonton saya yang pertama. Entah karena saya menontonnya bersama teman-teman sehingga tidak fokus, yang pasti nilai film ini meningkat jauh dan signifikan di buku saya. The Social Network, seperti yang saya bilang sebelumnya, adalah sebuah coming-of-age story yang dieksekusi dengan tidak biasa. Pembawaan alur ceritanya yang loncat-loncat dengan flashback-flashback yang tumpang tindih dan pace yang agresif membuat film ini menjadi lebih menarik dari film coming-of-age biasanya. Tensi yang didapat penonton atas situasi yang Mark Zuckerberg rasakan menjadi semakin tinggi terutama atas permainan apik para pemainnya dan score yang thrilling dan tidak kalah agresif. Permainan Jesse Eisenberg bisa dibilang merupakan salah satu yang terbaik tahun ini. Ia tidak bermain menjadi Mark, ia adalah Mark di film ini. Pembawaannya yang real dan begitu nyata patut diberi standing applause. Sama seperti Marion Cottilard yang berubah menjadi Edith Piaf dengan sempurna, Jesse menjadi Mark seperti ia mengenalnya luar dan dalam. Andrew Garfield dan Justin Timberlake juga cukup membawa kejutan dengan permainan yang tidak kalah bagus, meski tidak sesuperior Jesse. Meski begitu, saya masih merasa endingnya terlalu open-ended dan antiklimaks, dan bahkan beberapa penonton kerap kesal karena tidak jelasnya penyelesaian kasus hukum yang mengikat Mark sendiri. All in all, film ini memiliki keunggulan lebih dari film-film yang lain karena pembawaan filmnya yang tidak linear sehingga menuntut atensi penonton sepenuhnya. Hal ini biasanya memikat para kritik karena editing yang lain dari yang lain ini memiliki signifikansi yang tinggi dalam meningkatkan mutu cerita film itu sendiri. Denga permainan apik, cerita yang bagus, dan editing yang berani beda, The Social Network adalah salah satu kontender kuat untuk Best Picture.

Verdict : 9.2/10

Oscar Watch List : True Grit

- Revenge in Wild West Style -
SPOILER ALERT! True Grit menjadi sebuah kesuksesan yang amat sangat di luar dugaan. Film western biasanya kesulitan mencapai kesuksesan secara finansial, terlebih lagi di bulan desember yang notabene dipenuhi film-film keluarga yang meriah, berwarna-warni dan family friendly. Diangkat dari novel berjudul sama yang dirilis pada tahun 1968, True Grit berhasil mematahkan semua keraguan dengan berhasil mengumpulkan lebih dari 150 juta US$ dan mengalahkan Little Fockers yang dibuka pada minggu yang sama. Film terakhir dari Coen Brothers yang juga diproduseri oleh Steven Spielberg ini berhasil menjadi sebuah surprise hit di penghujung tahun 2010 yang mengalami berbagai kekecewaan finansial. Dari segi kualitas film ini juga berhasil memperoleh 10 nominasi oscar termasuk Best Actor untuk Jeff Bridges dan Best Supporting Actress untuk Hailee Steinfeld. Bersama dengan 9 nominasi lainnya, The Fighter adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti
Mattie Ross (Hailee Steinfeld) berusia 14 tahun saat ayahnya ditembak rekanannya sendiri Tom Chaney (Josh Broslin) yang juga mencuri kudanya dan dua keping emas California milik sang ayah. Saat dalam perjalanan mengambil jasad ayahanda, Mattie pun berjanji untuk membunuh Tom Chaney untuk membalaskan kematian ayahnya. Untuk misi balas dendam tersebut iapun menyewa Rooster Cogburn (Jeff Bridges) untuk membantunya. Seorang Deputy U.S. Marshall, Cogburn pada awalnya menolak tawaran Mattie pada akhirnya mau membantunya. Mereka juga dibantu oleh LaBoeuf (Matt Damon) seorang Texas Ranger yang juga ingin memburu Tom Chaney karena ingin mengumpulkan uang bayaran jika berhasil menangkapnya. Meskipun bertolak belakang dengan keinginan Mattie yang ingin membunuhnya saat itu juga, Mattie akhirnya bersedia menerima bantuannya terlebih karena Tom Chaney yang dibantu oleh 4 orang kriminal lainnya merupakan lawan yang jauh lebih kuat bagi mereka berdua.
Sebuah film western, konon katanya, hanya akan dapat dinikmati sepenuhnya oleh orang Amerika. Budaya koboi, kuda, indian, pistol dan saloon bar terasa amat sangat asing bagi publik di luar negeri paman sam. Teori itu terbukti melalui film True Grit. Cerita dari film ini sendiri berjalan linear dan tidak diganggu oleh sub-plot atau plot twist yang merusak alur filmnya sendiri. Namun entah kenapa, tidak ada kesan thrilling yang didapat dari menonton film yang katanya bergenre thriller ini. Terlebih lagi alunan musiknya yang lebih cocok di sebuah film dramedy religi dan tidak ada kesan adventure sama sekali. Maafkan saya jika salah, meskipun begitu ini adalah film western pertama yang benar-benar saya tonton habis, tapi kok saya merasa underwhelmed banget ya? Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri kualitas produksi dari film ini amat sangat patut diacungi jempol. Suasana western yang diberikan amat sangat meyakinkan karena set yang dibangun amat sangat efektif dalam membantu lajunya cerita itu sendiri. Pengambilan gambarnya juga artistik dengan set latar belakang yang breath taking dan menarik perhatian. Permainan dari para pemainnya juga tidak dapat dilewatkan begitu saja. Hailee Stanfield yang mendapatkan nominasi best supporting actress, berakting sangat ciamik dan menawan. Ia memiliki presence tersendiri yang sangat kuat, bahkan Jeff Bridgespun kadang tertutupi oleh karismanya. Mattie yang memiliki determinasi kuat, tangguh dan mandiri dimainkan dengan penuh percaya diri dan kedalaman emosional yang tinggi. Cukup disayangkan ia tidak dinominasikan untuk Best Actress karena dialah bintang utama dari film ini. Ia mampu membawa film berdurasi hampir 2 jam ini tanpa kewalahan harus bersanding dengan berbagai aktor kawakan lainnya. Jeff Bridges sebagai Cogburn juga tidak mengecewakan. Selepas Crazy Heart, ia menjadi nama yang patut diperhitungkan dalam Hollywood terlebih lagi setelah kesuksesan finansial film ini dan Tron: Legacy. Matt Damon bermain cukup baik, meskipun tidak sebagus kedua nama diatas. Josh Broslin tampil singkat dan hanya terkesan menyumbangkan nama yang cukup dikenal publik untuk mempopulerkan film ini. All in all, film ini bukanlah sebuah film yang buruk. Meski begitu, sebuah nominasi untuk Best Picture terkesan berlebihan dan patut dipertanyakan apalagi melihat kenyataan bahwa film ini bahkan tidak memperoleh satu nominasipun di ajang Golden Globe kemarin. Is it me who just can't get a western movie or the academy is overpraising this golden child of theirs?

Verdict : 8.0/10

Thursday, February 3, 2011

Oscar Watch List : The Fighter

- Boxing in Denial -
SPOILER ALERT! The Fighter adalah kolaborasi ketiga dari David O. Russel dengan Mark Wahlberg. Film ini diangkat dari kisah hidup Micky Ward, seorang petinju yang harus terbayang-bayangi kesuksesan "one-hit wonder" kakaknya. Film yang dulu seharusnya disutradarai Darren Aronofsky yang menyutradarai Black Swan, harus mengalami pergantian cast selama beberapa kali hingga Christian Bale akhirnya resmi menggantikan Brad Pitt. Berhasil merebut 6 nominasi prestisius di Golden Globe yaitu Best Movie, Best Actor, Best Supporting Actor dan 2 Best Supporting Actress, The Fighter berhasil memenangkan dua, satu untuk Christian Bale (Supporting Actor) dan satu untuk Melissa Leo (Best Supporting Actress).Bersama dengan 6 nominasi lainnya, The Fighter adalah satu dari sepuluh kontender Best Picture Oscar yang akan diumumkan pada tanggal 27 Februari nanti.
Micky Ward (Mark Wahlberg) harus hidup dibayang-bayangi kesuksesan di masa lalu dari kakak tirinya Dicky Eklund (Christian Bale), seorang manta petinju terkenal yang karirnya kandas sudah setelah ia mengalami ketergantungan narkoba. Kehidupannya juga mendapatkan banyak tekanan dimana ibu sekaligus manajernya, Alice (Melissa Leo) tidak pernah memberikannya kesempatan untuk mengembangkan potensi dan memaksimalkan karirnya sebagai petinju. Kehidupannya mulai membaik setelah ia berkenalan dengan Charlene (Amy Adams) gadis drop out dari kuliah yang bekerja di sebuah bar. Charlene memaksa Micky untuk memikirkan alternatif lain dalam karirnya dimana ia harus meninggalkan bimbingan dari ibu dan kakaknya. Kekalahan yang fatal dan julukan sebagai stepping stone bagi petinju lain akhirnya memaksa Micky untuk bertindak tegas yang menimbulkan tensi di keluarganya yang tidak bisa dibilang benar-benar fungsional.
Kisah biopic seorang petinju merupakan salah satu biopic olahraga yang paling sukses dalam perolehan finansial dan penghargaan di dunia perfilman. Tengok Ali, Raging Bull, Cinderella Man, Million Dollar Baby, Rocky, dan masih banyak lagi. The Fighter tidak mengambil sebuah rute yang benar-benar baru dalam pembuatannya. Alur mengalir dengan lancar, padat dan tidak membuang-buang waktu. Namun hal itu tidak benar-benar baru karena rute yang sama juga diambil oleh film-film yang disebutkan di atas. Meski begitu film ini patut diacungi jempol karena adegan tinjunya tidak didramatisir dengan berlebihan sehingga kesannya menjadi realistis dan tidak berlebihan. Tensi yang terjadi di arena tinju juga berhasil menarik penonton yang pada akhirnya akan bersorak kegirangan saat Micky berhasil mengalahkan lawannya. Nilai plus lainnya adalah permainan para aktornya yang brilian dan menakjubkan. Mark Wahlberg jelas menunjukkan kedewasaannya dalam berakting dan berhasil membuktikan bahwa ia mampu melepaskan image buruknya di masa muda dan berkembang menjadi aktor kawakan yang patut diperhitungkan. Amy Adams juga berani tampil beda dari biasanya, Ia berani tampil seduktif dan seksi namun juga independen dan berani dibandingkan dengan image princessy, manis dan innocent yang selama ini dibangunnya. Melissa Leo yang namanya mencuat setelah dinominasikan oscar dua tahun lalu, kembali memberikan permainan akting yang jauh di atas rata-rata dan emosionil. Namun yang terbaik dari semuanya adalah Christian Bale yang memainkan Dicky Englund dengan sempurna. Mimik, gaya bicara, ekspressi mata semua ia mainkan dengan meyakinkan dan surreal. Ini adalah performa terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir dan akan amat sangat mengecewakan jika ia tidak memenangkan kategori supporting actor kali ini. Bagi saya, The Fighter juga berbicara mengenai "denial" dalam sebuah keluarga. Alice yang tidak dapat menerima keadaan Dicky yang sudah rusak karena obat-obatan dan masih menganggapnya anak emas dalam keluarga sehingga kerap melupakan Micky. Dicky yang tidak dapat menerima betapa terpuruknya karirnya dan potensi yang dimiliki Micky. Micky yang tidak dapat menerima dirinya yang dibayang-bayangi oleh kakaknya dan dianak tirikan oleh ibunya. Meski begitu, dalam sebuah keluarga, kita kerap melakukan tindakan yang menurut kita adalah yang terbaik bagi anggota keluarga lain, tanpa lantas menanyakan pendapat mereka ataupun apa yang mereka rasakan. Penyelesaian dalam masalah ini disajikan dengan cukup manis dan memuaskan karena sebetapa disfungsional keluarga Micky, mereka tetap mencintainya apa adanya. The Fighter tidak memberikan gebrakan besar dalam genre biopic olahraga, sehingga kecil kemungkinan film ini memenangkan piala oscar, namun The Fighter tetap memberikan sebuah pengalaman menonton yang memuaskan, menarik dan berkualitas.

Verdict : 9.2/10