Showing posts with label romance. Show all posts
Showing posts with label romance. Show all posts

Wednesday, August 3, 2011

July Movie Kaleidoscope

Hello blog! Whew it has been ages since i post in here. I'm quite sorry for abandoning you but my personal and professional life has been quite a blast this past months. I got lots of job opportunity, had to take care for upcoming art event on my campus, and on top of that i finally launched my own clothing line. But that doesn't mean my passion for movie has gone. I'm kinda in a phase where i enjoy streaming anime weekly, and some several tv series rather than watching in the cinema. I reallyrecommend you guys check out this three anime No.6, Mawaru Penquindrum, and Dantalian no Shoka. They've got awesome animation, engaging story, and honestly, none of that silly japanese antics.

Back to movie, i only managed to watch 3 movies in the month of july 2011. Well, that's quite sad, but I guess I can't help but weep whenever I see the list of pictures that are showing each week. Anyway, i'll review those three in one post I called "kaleidoscope". On the side note, do pardon my attempt on writing in english, I'm not that good at it *chuckle*.
Insidious
Watched on July the 3rd at Anggrek XXI
Film Review : 8/10 (This movie was freaking awesome! The atmosphere was very chilling, and it build the tension very smoothly without any feeling of being rushed. The actors were believeable and sympathetic, and for once the characters aren't silly horror caricature. It was kind of a let down the film go downhill after the first hour for shifting to another character so suddenly and put a deus ex machina that is quite predictable. But overall this is a very nice horror flick, and the first one that actually make me shriek in a theater.....for three times)
Catatan Harian si Boy
Watched on 12th of July at Pondok Indah 1 XXI
Film Review : 8.5/10 (This is a very, very fresh Indonesian Movie. The dialogue was very gripping, clever, funny and touching at the same time. The writers actually managed to give a depth at every character. While only few of them work and become more than two dimensional character, the attempt are worth applauding considering some Indonesian movie actually relies on their characters antics rather than giving them some character development. The action scenes are not over the top and believeable, the story was cleverly interwoven and the movie itself was very enjoyable. It put a benchmark on how a good enjoyable movie can be made without involving half baked nudity, silly looking ghost, or melodramatic weepy teenage romance. It creates a new genre, which hopefully follows with a lot of movie that tries to live up to the quality this movie presented.)
Larry Crowne
Watched on the 23rd of July at La Piazza XXI
Film Review : 5/10 (Well that was a disappointment. I was hoping for a heartwarming romantic movie featuring simpathetic face and extraordinary sexy lip. What i got was a movie that tries to be heartwarming by simplifying things to the point of unrealistic, making every side-characters the "wise-man" by giving the protagonist a very preachy, wise way of life people can seek on the internet, and a romance build up by one kiss and no chemistry at all. Seriously, this movie is bad. I only get a few chuckle by the guy who looks like Bruno Mars and nothing else. Flat, boring, and forgettable.)

Tuesday, March 15, 2011

Movie : Morning Glory (2010)

- It's The Story People! -
Becky Fueller (Rachel McAdams) adalah seorang produser verita pagi di New Jersey yang melakukan pekerjaannya dengan penuh determinasi dan dedikasi. Namun karena budget cut yang diadakan channelnya, ia terpaksa harus dipecat. Di usianya yang mendekati 30 tahun, mencari pekerjaan bukanlah hal mudah. Tawaran terakhirpun ia ambil sebagai executive producer di acara berita pagi Daybreak. Acara itu menduduki posisi bontot acara pagi di new york dan sudah sekarat. Setelah memecat anchor laki-lakinya, ia pun merekrut anchor legendaris untuk berita malam Mike Pomeroy (Harrison Ford) untuk mendampingi Coleen Peck (Diane Keaton). Dengan ancaman dicancelnya acara tersebut dalam 6 minggu, perseteruan di antara mereka semakin memanas, diikuti dengan kehidupan pribadi Becky dengan Adam (Patrick Wilson) yang juga merenggang.
Morning Glory disutradarai oleh Roger Michell yang telah menyutradarai Noting Hill dan ditulis oleh Aline Brosh McKeena yang menulis script The Devil Wears Prada. Yang dihasilkan oleh pertemuan itu adalah sebuah film komedi yang lucu, heartwarming, dan engaging karena permainan dari para castnya yang luar biasa dan menyenangkan. Plot mengenai pekerjaan di dunia pertelivisian adalah sebuah plot seru yang sayangnya jarang digali. Meskipun tidak terlalu dalam di sisi dunia erja, etika pekerjaan, dan hal-hal berbau teknis lainnya, film ini unggul dalam memberikan sebuah kisah yang dijamin menarik hati penonton untuk mengikuti sampai akhir.
Perjuangan Beckie menyelamatkan acaranya menjadi sangat seru tatkala Beckie dimainkan dengan sempurna oleh Rachel McAdams. Ia bersinar disini, menjadi bintang utama yang membawa film ini sepenuhnya di pundaknya. Karakter Beckie yang determinasinya tinggi dan ambisinya tak pernah padam dimainkan dengan sukses sehingga mengajak penonton untuk menyukainya. Harrison Ford juga tidak kalah engaging dengan karakternya yang sinis, tapi pada akhirnya takluk pada ke-likeable-an Beckie. Diane Keaton bermain sempurna sebagai news anchor acara pagi dan cukup aneh melihat ia tidak pernah mendapatkan talkshownya sendiri. Meskipun sedikit underused, ia menjadi bumbu penyedap yang sangat manis bagi film ini. Patrick Wilson mendapatkan tipikal peran yang dapat dipastikan underused, tidak dikupas mendalam dan selingan semata. Itu dapat dimaklumi, dan syukurnya, film ini tidak merambah terlalu dalam di genre romanticnya karena di sisi komedinyalah film ini bersinar.
Morning Glory tidak memberikan gebraan berarti di dalam genre komedi begitu pula di genre newscasting. Meskipun insight yang diberikan tidak terlalu dalam, film ini beruntung karena memiliki salah satu casting terkuat sepanjang tahun 2010 kemarin karena karakterisasi yang pas dari setiap pemainnya dan supporting cast yang menjalankan perannya dengan baik. Pengambilan gambar, meskipun tidak ada yang spesial, turut berperan serta dalam mengajak penonton terbawa dalam suasana perjuangan Beckie. Soundtracknya juga efektif membawa mood penonton seperti selayaknya yang harus dilakukan oleh sebuah sit-com seperti ini. Aline Brosch McKeena kembali menyajikan cerita mengenai determinasi wanita di kantor tempat ia bekerja, namun kali ini permainan akting dari tokoh utamanya jauh lebih kuat dan likeable. Sebuah film komedi yang menitik beratkan pada karakter dan bukan pada gimmick bodoh yang lain, film yang manis untuk menjadi hiburan di kala kepala sedang penat.

Verdict : 8.2/10

Sunday, August 8, 2010

Shanghai

- City of Noir-istic Love and Blood -
Paul Soames (John Cusack) adalah agen intel amerika yang tidak berpihak pada jepang dan cina circa perang dunia kedua. Posisinya yang netrak terguncang sudah saat sang sahabat Connor (Jeffrey Dean Morgan) dibunuh. Misteri pembunuhannya rupanya menjadi lebih runyam dimana Connor terlibat terlalu jauh dalam penyelidikannya terhadap Anthony Lan-Ting (Chow Yun Fat) boss gangster Shanghai yang sangat tersohor. Konspirasinya dengan Jepang melalui Kapten Tanaka (Ken Watanabe) terancam hancur setelah tindakan resistance dari warga asli shanghai sendiri yang semakin menjadi-jadi. Dalam penyelidikannya, Paul Soames mendapat bantuan dari Ana (Gong Li), istri Anthony yang memiliki rahasia kelamnya sendiri. Semua penyelidikannya menunjuk satu titik berat, dimana ia harus menemukan Mitsuko (Rinko Kikuchi), mantan mata-mata jepang yang jatuh cinta terhadap Connor dan belum lama ini menghilang, sebelum terlambat.
Di tengah-tengah kerunyaman masalah FPI yang jelas-jelas melecehkan agama lain, saya memilih untuk menghibur diri dengan menulis review film yang bisa dibilang lumayan asik ini. Shanghai adalah sebuah film thriller drama dengan sedikit bumbu romance dan sisi noir yang amat ketara. Pengambilan gambarnya yang artistik, sendu dan gelap membuat kita gampang tertarik dan terbawa masuk ke dalam suasana shanghai tahun 1941. Hujan yang selalu turun menambah suasana kelam yang menjadi latar belakang cerita yang tidak kalah suram ini. Kisahnya sendiri lumayan seru, meskipun misteri siapa yang membunuh Connor sampai akhirnya, tidak pernah benar-benar engaging. Entah apa yang kurang dari core ceritanya, tetapi ada aspek-aspek lain di film ini yang membuat saya enjoy. Namun yang pasti, hal itu bukanlah misteri inti ceritanya sendiri.
Mungkin bisa dibilang aneh. Kok bisa enjoy nonton sebuah film padahal tidak begitu tertarik mengikuti misterinya? Tetapi itulah yang terjadi. Aspek pertama yang membuat saya benar-benar enjoy adalah permainan apik dari John Cusack dan Gong Li. Cusack dengan gayanya yang serius dan kesepian begitu meyakinkan dan Gong Li benar-benar memukau. Gong Li bermain jauh lebih baik dari di Memoirs of Geisha (di film itu pelafalan inggrisnya masih sedikit kaku, disini bisa dibilang lumayan lancar). Karismanya sebagai "dragon lady", dilengkapi mimik wajahnya yang keras, cool, dan rupawan membuatnya menjadi karakter yang paling menonjol sepanjang film ini. Thumbs up buat para stylist yang mendadaninya karena dia tampil amat sangat menarik!
Ken Watanabe juga bermain tidak kalah baik dan membuktikan dirinya sebagai salah satu ekspor dari asia yang harus, harus diperhitungkan. Kudos juga diberikan kepada pembuat setting tempat yang benar-benar terasa authentic dan real. Kostumnya juga bisa dibilang oke dan iringan musiknya juga top notch punya. Yang sedikit disayangkan adalah peran Rinko Kikuchi yang amat sangat underused (meskipun performa singkatnya juga sangat heart breaking dan mengagumkan.) Terlebih lagi Chow Yun Fat yang benar-benar tenggelam di antara Cusack-Li-Watanabe, sungguh sebuah dosa besar! Meskipun begitu, film ini masih bisa dibilang sangat watchable, meskipun bisa lebih baik dari segi ceritanya sendiri.

Verdict : 7/10

Saturday, June 19, 2010

Letters to Juliet

- Letters to Cliche yet Sweet Movie -
Sophie (Amanda Seyfried) adalah seorang fact checker, orang yang bertugas memastikan sebuah fakta dengan menginvestigasikannya (sedikit mirip detektif seperti katanya). Ia akan pergi berlibur ke Verona, kota latar belakang cerita Romeo & Juliet bersama sang tunangan Victor (Gael Garcia Bernal). Namun hubungan mereka sudah tidak seharmonis dulu dimana Victor sering terlalu sibuk mengurusi restorannya daripada pergi berliburan, berbagi saat-saat romantis bersama Sophie. Dalam petualangannya mengelilingi kot Verona ia melihat wanita-wanita yang menulis surat dan menempelkannya di dinding bawah balkoni tempat latar adegan paling memorable dalam Romeo & Juliet.Sophie yang penasaran, sekaligus bosan, mendekati wanita yang tugasnya mengumpulkan surat-surat itu. Setelah ditelusuri, rupanya setiap surat yang ditempel akan dibalas oleh sekretaris juliet. Ingin meningkatkan passionnya dalam menulis, Sophie memilih untuk bergabung bersama mereka. Suatu hari ia menemukan suatu surat tersembunyi yang ditanamkan di dalam dinding 53 tahun yang lalu. Sophiepun membalas surat itu, tanpa ada harapan untuk dibalas/ diberi respon kembali. Suatu hari Claire (Vanessa Redgrave), wanita yang menulis surat itu mendatanginya bersama cucunya, Charlie (Chris Egan). Di usia senjanya, ia bertekad untuk mewujudkan keinginannya, bertemu dengan Lorenzo Bartolini, kisah cinta di masa mudanya, yang tapa ia ketahui, adalah nama yang sangat pasaran di dataran eropa.
Film romantis komedi tidak pernah benar-benar salah. Pembawaan ceritanya memiliki suatu formula/pakem tersendiri yang jarang melenceng dan dijamin tidak akan benar-benar mengecewakan. Taruh saja bintang cantik semacam Amanda Seyfried dan pasangan laki-lakinya yang pas, bumbui dengan chemistry yang tepat, apapun ceritanya, film itu pasti akan memuaskan hati para penonton. Dan hal itulah yang terjadi di film ini. Cara pembawaan filmnya begitu khas, stereotipikal dan bukan sesuatu yang bisa dibilang baru. Bahkan bisa dibilang basi. Biasalah, pertamanya benci lama-lama suka, tapi kalau yang dibenci secantik Amanda Seyfried, siapa yang enggak bakal suka? Ya gak sih? :P
Tetapi itu sama sekali tidak berarti film ini buruk dan tidak menghibur loh. Selain beberapa hal yang sedikit maksa (terutama twist di bagian endingnya), dijamin kita akan mengeluarkan ekspresi "awwww" dan "romantisnya" saat kedua karakter utama berciuman. Humor-humornya juga tidak murahan, dan permainan para castnya bisa dibilang di atas rata-rata. Meski tidak ada hal baru yang diberikan dari film ini, setidaknya formula yang klise itu dibawakan dengan baik dan juga dibantu dengan chemistry antara Seyfried dan Egan yang benar-benar dapet.

Verdict : 7/10

Thursday, May 20, 2010

Leap Year

- More Spark of Sweetness Than I Ever Expect -
Anna (Amy Adams) amat sangat kecewa saat pacarnya selama empat tahun, Jeremy (Adam Scott) malah memberikannya sebuah anting, bukan cincin tunangan yang sangat ia dambakan. Sesaat setelah itu, Jeremy terpaksa harus terbang ke Dublin untuk menghadiri sebuah konfrensi kedokteran. Anna yang kecewa mendapatkan sebuah ide untuk meminang Jeremy di Dublin pada tanggal 29 Februari, sebuah tradisi di Irlandia yang mengijinkan wanita melamar pasangannya pada tanggal yang datang empat tahun sekali itu. Kondisi cuaca yang tidak mendukung memaksa pesawatnya untuk mendarat di Wales. Anna yang setengah mati ingin sampai ke Dublin bagaimanapun caranya akhirnya memilih mengarungi badai di laut menuju Cork, yang berujung mengantarkannya ke Dingle, sebuah kota kecil yang hanya memiliki satu bar, hotel, dan restoran. Pemilik hotel/bar/restoran itu adalah Declan (Matthew Goode) merangkap sebagai supir taksi, ia terpaksa mengantarkan Anna menuju Dublin dengan bayaran yang sesuai, semua untuk memastikan hotel/bar/restoran-nya tidak ditutup secara paksa.
Ada satu hal yang membuat kita tidak pernah bosan akan genre romantis komedi. Sebuah dunia sureal dimana dua orang good-looking dengan latar belakang berbeda dan sifat yang bertolak belakang, “magically” saling jatuh cinta dan semuanya berjalan lancar. Tidak ada yang terkesan nyata, namun untuk apa perlu ada kenyataan itu jika hal sureal seperti ini saja sudah sangat memuaskan. Menonton rom-com tidak lebih adalah sebagai sebuah pelarian dari dunia nyata, dimana semua tidak semanis itu. Leap Year setia akan pakem yang disebutkan di atas. Anna yang kelewat teratur dan strict (sangat sangat banyak karakter rom-com cewek seperti ini, benarkah wanita seperti ini ada di dunia asli?) sudah diset akan jatuh cinta pada Declan yang sarkastik dan menyebalkan. Mengatakan mereka berdua akan jatuh cinta sudah tidak merupakan sebuah spoiler karena itulah yang semua orang harapkan dari film jenis ini.
Yang berbeda adalah bagaimana proses itu terjadi. Kejadian-kejadian kecil yang menimbulkan percikan percikan asmara yang terkultimasi di sebuah adegan, yang meski “expected”, tetap efektif dan sweet. Amy Adams selalu bersinar dalam sebuah optimisme di setiap filmnya. Tanpa kehadirannya, film ini akan semakin terpeleset dan berantakan. Matthew Goode benar-benar menyebalkan selama 45 menit pertama, namun setelah karakternya mulai membuka diri, ia berhasil menunjukkan proses yang believeable dan acceptable. Tidak ada yang benar-benar spesial dari script dan ceritanya, namun hal itu sangat terbantu akan chemistry kedua lead-nya yang cukup kuat. Joke-jokenya tidak benar-benar membuat tertawa terpingkal-pingkal, namun beberapa adegan mampu membuat tertawa kecil karena permainan para aktornya yang di atas rata-rata.
Panorama-panorama Irlandia disajikan dengan begitu indah dan enchanting. Rasanya bagaikan menonton film epik ala LOTR tetapi dengan cerita rom-com generik yang boleh dibilang lebih sweet dan surprising dari beberapa film rom-com sejenis. Gw lumayan terkejut menyadari betapa gw menyukai film ini pada akhirnya dan kesan sweet yang gw dapatkan setelah menonton film ini. Meskipun sedikit aneh melihat orang tunangan setelah empat hari kencan singkat (mungkin gak sih hal kayak gini terjadi di dunia nyata?), semuanya tidak melenceng dari pakem rom-com modern, dan itu bukanlah hal yang buruk sama sekali.

Verdict : 6.5 / 10

Thursday, May 13, 2010

Robin Hood

Where Are Your Hood Robin?
Robin Longstride (Russell Crowe) adalah seorang pemanah yang berbakat dan berbakti pada negaranya. Pada sebuah penyerangan ke kastil prancis, King Richard the Lionheart meninggal setelah dipanah oleh seorang pelayan. Robin dan ketiga temannya yang dihukum sebelumnya oleh sang raja, melarikan diri dari perperangan untuk menghindari kekacauan dalam perjalan pulang mereka ke London. Dalam perjalanan mereka, mereka menemukan pasukan pimpinan Robert Loxley yang diserang secara mendadak oleh Sir Godfrey (Mark Strong), pengkhianat yang menjadi anak buah kepercayaan King John. Atas permintaan Robert Loxley yang sekarat dan kemudahan yang akan mereka dapatkan dalam perjalanan pulang, Robin dan ketiga temannya berpura-pura menjadi prajurit kepercayaan raja dan berjanji akan membawakan pedang milik Robert ke ayahnya di Nottingham.
Perkara menjadi semakin rumit setelah Godfrey menjalankan rencananya menghancurkan pemerintahan King John dengan menyerang baron-baron (gubernur) di pelosok dataran Inggris dengan mengatasnamakan perintah King John dan pemungutan pajak. Robinpun diangkat anak oleh Walter Loxley, ayah dari Robert Loxley dan memaksanya menikah dengan menantunya, Lady Marion (Cate Blanchett). Robin merasa ia harus tinggal di Nottingham lebih lama setelah sebuah tulisan di pedang milik Robert membawa sebuah flashback yang menganggu pikirannya. Pemerintahan Inggrispun terbelah-belah dan waktu semakin dekat sampai Godfrey menyerang Nottingham dan Raja Prancis mendarat di dataran Inggris.
Tidak ada yang benar-benar salah dari film ini. Aktingnya ciamik, ceritanya lumayan menarik, battle sequencenya juga bisa dibilang top-notch. Mungkin satu-satunya yang mengganggu adalah perasaan “cheated” yang didapat setelah menonton film ini. Jika kita ditanya mengenai robin hood, pasti yang terpintas adalah cerita mengenai seorang pemanah yag berani mencuri dari yang kaya dan membagikannya kepada rakyat miskin. Sebegitu terkenalnya cerita itu sampai sampai Indonesia mengadaptasi cerita itu mentah-mentah dengan memberikan embel-embel “Jaka” di depan nama si tokoh. Tetapi film ini melenceng dari premise yang terlintas di benak kita. Film ini lebih cocok disebut sebuah prekuel yang memiliki durasi terlalu panjang untuk disebut sebuah prekuel.
Ceritanya lebih berfokus kepada perjalanan sebuah tokoh fiksi memperjuangkan keadilan bagi rakyatnya dengan mengusahakan penandatanganan magna charta oleh si raja yang memerintah. Adegan pencurian yang dilakukan Robin hanya sekali, dan itu setelah film ini bergulir selama 1 jam 30 menit. Lebih lagi, ia mencuri dari kereta kuda, bukan dari orang kaya. Sampai momen itu, gw sebagai penonton masih mengharapkan si Robin mencuri dari orang kaya, yang sayangnya harapan gw tidak tercapai.
All things aside, selain kekecewaan gw diatas, gw sebenernya mendapatkan apa yang gw expected dari film ini. Russel Crowe bermain prima, Cate Blanchett masih menakjubkan dengan presencenya dan Mark Strong bermain baik dalam stereotip antagonisnya. Supporting castnya pas, terutama teman-teman Robin yang slengean dan menjadi sumber utama humor di film ini. Dialog-dialognya mungkin sedikit terlalu serius dan mudah membuat ngantuk, namun adegan actionnya tetap exciting dan seru. A liitle bit of chuckle, a pinch of romance, loads of action, and a grand finale battle sequence. A great popcorn movie that can be better, if only I didn’t feel cheated after watching it.

Verdict : 7/10

Tuesday, May 11, 2010

Iron Man(s)


Iron Man

Tony Stark(Robert Downey Jr.) adalah ilmuwan jenius yang menjadi direktur dari Stark Industries, sebuah perusahaan persenjataan besar yang diturunkan dari mendiang ayahnya. Sifatnya yang tidak mau serius dan playboy menutupi fakta bahwa ia adalah jenius yang lulus dari MIT saat berumur 17 tahun dengan gelar cum laude. Sang asisten, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) membantunya dalam kegiatan sehari-hari dan partner sang mendiang ayah, Obadiah Stane(Jeffrey Bridges), dipercaya mengurus kegiatan perusahaan. Untuk mengadakan tes misil terbarunya, “Jericho”, ia pergi ke afganistan ditemani sahabatnya, Letkol James Rhodes(Terrence Howard). Tanpa dugaannya, ia diculik oleh anggota teroris bernama Ten Rings. Sebuah elektromagnet telah ditanam di dekat jantungnya yang membuatnya mengalami cardiac arrest jika magnet itu diangkat. Pemimpin grun Ten Rings menjanjikannya kebebasan asalkan ia mau membuatkan replika misilnya di gua tempat ia disekap. Bersama sesama tahanan, Dr. Yinsen, ia membuat sebuah suit armor yang kelak dinamakan Iron Man.
Saat film ini booming banget di tahun 2008, gw merasa reluctant untuk menonton. Selain ketidaktahuan gw akan tokoh ini, gw entah kenapa males aja gitu untuk nonton. Setelah hari ini diajak nonton sekuelnya di bioskop, gw akhirnya nonton film pertamanya di HBO yang kebetulan lagi di puter. Adegan-adegan action di film ini dipoles dengan sangat top notch dan seru. Meskipun dialognya lumayan banyak, permainan Robert Downey Jr yang belum begitu booming dulu, begitu fresh dan kuat. Mimiknya yang khas menjadi ciri khas yang susah dielakkan. Gwyneth Paltrow mungkin sedikit underused. Gw hampir gak bisa ngenalin si Jeff Bridges yang tampil botak dan Terrence Howard sayangnya aktingnya kurang kuat sebagai si sidekick.
Meskipun begitu, entah kenapa gw gak merasa sebegitu excitednya. Bisa dibilang film ini gak begitu beda dengan superhero flick yang dirilis akhir-akhir ini. Meskipun film ini jauh lebih bagus daripada X-Men Wolverine, Ghost Rider dan Fantastic Four, gw tetep gak bisa menyandingkannya dengan film sekaliber The Dark Knight atau Spiderman. Something is missing, membuat film ini jadi biasa aja. Exciting while it lasts, fortgetable after it done.

Verdict :7/10

Iron Man 2

Langsung dilanjutkan dari scene terakhir film pertamanya, Stark dipaksa menyerahkan hasil ciptaanya kepada US Government atas kekhawatiran mereka kepada teroris-teroris di korea, irak, dan russia. Hal ini mentah-mentah ditolak oleh Stark yang ingin memfokuskan waktunya yang tersisa untuk meluncurkan Stark Expo kedua setelah tahun 1974, ayahnya mengadakan expo pertama. Perlahan namun pasti, racun semakin menyebar di darahnya akibat penggunaan arc reactor yang menopang jantungnya. Berbagai hal ia lakukan seperti meminum klorofil yang tidak membawa banyak perubahan. Hal diperumit saat Ivan Vanko (Mickey Rourke), anak dari partner sang ayah yang tertipu puluhan tahun yang lalu, menuntut balas dendam dengan berhasil membuat arc reactornya sendiri. Ivan dibantu oleh Justin Hammer (Sam Rockwell) saingan Stark yang ingin mempermalukannya. Bersama asisten barunya, Natalie Rushman (Scarlett Johannson) dan James Rhodes (Don Cheadle), Tony Spark berusaha menggagalkan usaha mereka memporakporandakan Stark Expo 2010.
Menonton film ini adalah kebalikan dari menonton Avatar. Iron Man 2 : 2 jam 15 menit yang entah mengapa terasa lama sekali. Avatar : 3 jam yang tidak terasa sama sekali. Ceritanya lumayan seru. Adegan actionnya tidak sedikit, tapi tetap saja durasinya terasa begitu lama dan diulur-ulur. Dialog-dialognya tidak se-cheesy film-film action standar yang gw sebut di review iron man 1, tetapi tetap tidak sekuat dialog-dialog di film pertama. Sialnya lagi, Mickey Rourke tidak sebegitu menyeramkannya untuk menampilkan kesan peran antagonis yang superior. Sam Rockwell berusaha menjadi Comic Relief yang joke-jokenya gak bisa gw tangkep. Don Cheadle menggantikan Terrence Howard yang sama-sama bermain standar. Gwyneth Paltrow bermain lebih baik dan Scarlett Johannson memerankan perannya sebagai eye-candy dengan baik.
Yang lebih mengecewakan lagi, adegan finalnya terasa sangat anti-klimaks dan rushed. Showdown terakhirnya selesai dalam waktu kurang dari 2 menit dan gw gak merasa puas sama sekali. Andaisaja si pembuat tidak muluk-muluk ingin membuat film ini sedikit lebih serius dan menambahkan lebih banyak lagi porsi action, mungki gw dan beberapa kritik lain akan menikmati film ini lebih. Lessen the dialouges, boost the flashy action scene! Film ini, seperti kebanyakan sekuel lainnya, mendapatkan suntikan budget yang lebih besar. Hal itu membawa dua hal, adegan action yang semakin flashy dan seru (meski tidak sebanyak seharusnya) dan naskah yang mengalami penurunan signifikan berakibat pada kualitas yang merosot dari film pertamanya.

Verdict : 6/10

Wednesday, April 21, 2010

Guilty Pleasure - Part Three

Oh-So-Predictable Romantic Comedy!
Fated kiss seal the deal!

Genre film terakhir yang gak pernah membuat gw bosan adalah film rom-com. Film film rom-com yang bagus dan gak pernah bikin bosen bisa dibilang lumayan banyak, tengok Notting Hill, Bridget Jones’s Diary, Something’s Gotta Give, 500 Days of Summer, While You Were Sleeping, You’ve Got Mail, When Harry Met Sally, My Big Fat Greek Wedding, Serendipity, dan berlusin-lusin lainnya yang sudah menghiasi kancah perfilman Hollywood. Tetapi setiap tahunnya, selalu ada satu film romantis komedi yang begitu predictable, formulaic, dan yang pengembangan ceritanya seperti berjalan di tempat alias tidak kemana-mana. Meski begitu, banyak juga di antara film rom-com formulaic itu yang bisa dibilang sangat enjoyable dan selalu menghibur gw, meskipun kualitasnya kalah jauh dibandingkan dengan film-film yang gw sebut tadi. Di antaranya adalah :
5. The Proposal (2009)
Ceritanya banyak copy paste dan dirombak sana sini. Meskipun begitu chemistry antara Ryan Reynolds dan Sandra Bullock lumayan kerasa dan banyak membantu film ini. Joke-jokenya lumayan menyentil terutama saat ada si stripper tidak tahu malu dan tidak sadar usia. Endingnya predictable, sangat malah, tetapi meskipun begitu, gw tetep selalu tersenyum melihat betapa sweetnya ending itu dikemas. Ending creditnya juga lumayan kocak dan menarik
4. How to Lose a Guy in 10 Days (2003)
Kolaborasi antara Matthew dan Kate yang paling gw suka, karena ceritanya gak selemah di Fool’s Gold dan Chemistrynya tergolong masih “fresh”. Joke-joke slapsticknya lumayan lucu dan endingnya juga lumayan sweet dan gak kalah asik sama The Proposal.
3. The Ugly Truth (2009)
Naskahnya emang biasa banget, tetapi permainan akting si Katherine Heigl lumayan kocak dan Gerard Butler boleh lah aura womanizernya. Kemungkinan besar yang paling raunchy dan sexist di dalam list ini, meskipun begitu gw masih gak kuat nahan ketawa gw ngeliat ekspressi si Katherine dan celana dalam “khusus”-nya.
2. Bewitched (2005)
Sedikit disayangkan Nicole Kidman menerima tawaran bermain di film selemah ini. Will masih sama menyebalkannya. Meskipun begitu, joke-jokenya lumayan mengena di gw dan Nicole Kidman selalu charming untuk dilihat.
1. Because I Said So (2007)
Filmnya jelek, so what? Sama sekali enggak menghalangi gw untuk menikmati film ini! Hahahhaha , gw adalah fans besar Diane Keaton dan meskipun Mandy Moore mainnya biasa aja, menurut gw chemistrynya lumayang nge-“click” dengan kedua cowoknya. Crappy but very enjoyable for me.

Sorry for the long long long rest, soalnya ujian sekolah dan praktek bener-bener back to back jadinya gak sempet buat update blog ini... BUT, liburan gw sudah dimulai dan ini bakal menjadi liburan yang sangat sangat SANGAT panjang! :)

Tuesday, March 23, 2010

United States Of Tara


- Multiple Personalities Never Been This Fun -
Tara Gregson (Toni Collete) adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat mencintai keluarganya. Trauma di masa lampau membawa sebuah perubahan besar dirinya. Sejak dari highschool, Tara mengalami gangguan psikis yang dinamakan DID (Dissociative Identity Disorder) atau berkepribadian ganda. Namun bukan hanya dua, Tara memiliki empat kepribadian yang benar-benar berbeda. Setiap kali Tara mengalami stress berat, kepribadiannyapun ikut berubah.
T adalah kepribadian yang pertama. Ia yakin dirinya masih berumur 16 tahun, memakai marijuana, tidak peduli pada lingkungannya dan selalu menggoda laki-laki. Ia berpakaian jauh dari kesan sopan dan sering mengacaukan kehidupan sosial Tara. Buck adalah kepribadian yang kedua. Buck adalah satu-satunya kepribadian ganda Tara yang bergender laki-laki. Ia selalu tampil tangguh dengan hobinya yang gemar mengutak-ngatik motor besar. Buck mengenakan kacamata dan topi khasnya. Ia adalah pemabuk dan perokok berat, namun ia adalah salah satu alter yang tidak terlalu disegani di keluarga Tara. Alice adalah seorang ibu rumah tangga yang berperilaku sangat jadul. Memakai dress yang trend di tahun 60-an dengan gaya bicara yang sopan dan gemar membuat kue dan memasak. Ia adalah salah satu dari kepribadian Tara yang paling agresif, dan memercayai bahwa ia adalah kepribadian yang sesungguhya. Seiring degan berjalannya waktu, kepribadian-kepribadian baru kerap muncul dan semakin membuat runyam kehidupan Tara.
Suaminya, Max ( John Corbett), adalah suami yang sangat suportif. Namun gangguan psikologis yang dialami Tara memberikan depresi seksual kepada dirinya, terutama karena tidak bisa berhubungan dengan Tara akibat Tara yang kelelahan, atau Tara yang berubah kepribadia saat malam hari. Tara memiliki dua orang anak, Kate (Brie Larson) anak perempuannya yang badung namun pintar dan bisa lulu lebih cepat dari sekolahnya, dan Marshall (Keir Gilchrist) anak laki-lakinya yang pendiam, pintar masak, namun mengalami krisis pencarian jati diri. Adiknya Charmainne (Rosemarie DeWitt) sering tidak percaya akan penyakit psikis yang dihadapi Tara, dan yakin bahwa kakaknya hanya membuat-buat kepribadian itu untuk mencari perhatian dari orang-orang di sekelilingnya.
Dari pembuat Juno, Diablo Cody, dan eksekutif producer Steven Spielberg, Showtime lagi-lagi mampu menyajikan sajian drama yang humoris, kocak dan juga memikat. Dirilis di spring 2009, sebelum Nurse Jackie dirilis, seri ini bisa dibilang sama kuatnya dengan Nurse Jackie. Tema yang dewasa mengenai pergolakan diri Tara dan misteri mengenai alter-egonya, dipoles dengan sangat baik oleh Diablo Cody. Black comedy satu ini, telah memasuki season duanya yang keluar bersamaan dengan season dua Nurse Jackie tanggal 22 maret yang lalu.
Toni Collete bermain sangat kuat disini. Hampir setiap alter-ego dimainkan dengan sangat berbeda dan khas olehnya. T dibuatnya sangat urakan dan menggelikan, Alice dibuatnya creepy dan prissy, dan Buck dimainkannya dengat gaya kelaki-lakian yang bisa dibilang lebih laki-laki daripada laki-laki beneran. Supporting cast yang lain bermain cukup baik. Keir bisa dibilang cukup bersinar dan menampilkan kemampuan akting yang tidak kalah baik dengan Toni. John Corbett sering kehilangan tensi dan kurang menarik perhatian dan Brie Larson memainkan karakternya dengan pas. Toni Collete memenangkan Emmy dan Golden Globe untuk aktingnya disini. Tidak bisa dipungkiri, award itu memang berhak diperolehnya.
Soundtracknya tidak ada yang benar-benar stand out. Lagu-lagu pengiringnya cukup membantu dan selalu dimainkan di saat-saat yang tepat. Opening sequencenya bisa dibilang sangat eye-catching dan menarik. Beda dari yang lain. Showtime sekali lagi mencetak sebuah seri yang luar biasa, stand-out dan sangat menyenangkan untuk ditonton.

Verdict : 8.5 / 10

Monday, March 22, 2010

Spring Delightful Surprise

SPRING IS HERE, which means, THE SERIES I LOVED ARE COMING BACK!!

GLEE season 1 part 2 - Premiering April 23rd


The United States Of Tara Season 2 - Premiering March 22nd

Nurse Jackie Season 2 - Premiering March 22nd

I feel like fainting right now! :P

Do note that the premiere date are all in the states :)